Pengorbanan Nayra

Pengorbanan Nayra
Ternyata Dia..


__ADS_3

Laki-laki itu makin lama makin dekat dengan bangku tempat Nayra dan Alina duduk. Dia masih berjogging dengan peluh yang bercucuran di wajah dan sekujur tubuhnya. Dia terlihat memakai kaos tanpa lengan yang menampakkan ototnya yang kekar dipadu dengan celana pendek. Ada handuk kecil yang tergantung di lehernya.


Dia terus melihat ke depan sampai akhirnya matanya tertuju pada seorang perempuan yang amat dikenalnya sedang duduk di sebuah bangku kayu. Laki-laki itu pun menghentikan larinya. Kemudian dia tersenyum ke arah perempuan itu.


"Nayra!" seru laki-laki itu sambil melambaikan tangan ke arah Nayra.


Deg!


Alina terkejut saat laki-laki itu memanggil nama Nayra. Senyuman di bibirnya tiba-tiba sirna. Alina pun menoleh ke arah Nayra.


Nayra yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah sumber suara.


"Mas Adit??" Nayra terkejut begitu tau yang memanggilnya ternyata adalah Aditya.


Aditya pun berlari menghampiri Nayra. Dia tidak ngeh kalau perempuan yang ada di samping Nayra adalah perempuan yang kemarin ditolongnya.


"Nay, kamu sama siapa? Pak Rama mana?"


Aditya pun mengalihkan pandangannya pada perempuan di sebelah Nayra. Jantung Alina berdebar-debar saat Aditya menatapnya.


"Mas Rama lagi beli air mineral. Mungkin sebentar lagi dia kembali" sahut Nayra.


Aditya dan Alina saling bertatapan. Aditya seperti teringat sesuatu.


"Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aditya kepada Alina.


"Emh.. iya Mas. Kamu yang kemarin menolongku memperbaiki mobilku kan?" tanya Alina sambil tersenyum.


"Oohhh.. iya aku baru ingat. Kebetulan banget Mbak kita bisa ketemu di sini"


"Apa?? Jadi Mas Adit yang sudah menolongmu kemarin Alina?" tanya Nayra. Dia seolah tidak percaya.


"Iya Kak. Kemarin Mas ini yang udah nolongin aku. Apa Kak ipar kenal sama dia?"


"Kak ipar??" Aditya mengerutkan alisnya. Dia terkejut karena Alina memanggil Nayra dengan sebutan kak ipar.


"Emh.. Mas Adit, ini Alina, adiknya Mas Rama" Nayra memperkenalkan Alina kepada Aditya.


"Apa? Jadi kamu adiknya Pak Rama?" tanya Aditya kepada Alina.


"Iya. Apa kamu juga kenal sama kakak ku?"


"Pak Rama atasanku di kantor"


"Oohh.. jadi kamu satu kantor sama kakak ku?"


"Iya"


Alina senang sekali setelah tau kalau laki-laki itu bekerja satu kantor dengan Rama.


"Ternyata dunia ini begitu sempit ya?" kata Alina.


"Iya. Aku bener-bener nggak nyangka kalau kamu adiknya Pak Rama. Kemarin kita belum sempat kenalan kan? Kenalin namaku Aditya" Aditya menghulurkan tangan kanannya. Dan langsung disambut oleh Alina.


"Aku Alina. Panggil saja Alina jangan panggil Mbak!"

__ADS_1


Nayra masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki yang dimaksud Alina adalah Aditya.


'Itu berarti Alina sudah jatuh cinta sama Mas Adit? Oh my God! Kenapa dunia ini begitu sempit?' gumam Nayra dalam hati.


Tak lama kemudian, Rama muncul dengan membawa tiga botol air mineral di tangannya. Rama heran begitu melihat Aditya ada di sana.


"Aditya? Kamu jogging juga?" tanya Rama.


"Eh.. iya Pak Rama"


"Apa kamu mau minum? Ini untukmu" Rama menghulurkan satu botol air mineral kepada Aditya.


"Terima kasih Pak" Aditya pun menyambut minuman itu.


Kemudian Rama memberikan dua botol lainnya kepada Nayra dan Alina.


"Kamu nggak minum Mas? Ini buat Mas aja" Nayra menghulurkan kembali botolnya kepada Rama.


"Nggak pa pa. Aku bisa beli lagi" Rama melangkah hendak pergi membeli minuman lagi.


"Biar aku temani Mas. Alina kamu di sini dulu ya!" seru Nayra.


"Iya Kak"


Nayra pun pergi bersama Rama. Kebetulan Nayra ingin bicara sesuatu sama Rama. Saat mereka sudah berjalan agak jauh dari Alina dan Aditya, Nayra pun mulai membuka suara.


"Mas, kamu tau nggak. Ternyata orang yang nolongin Alina kemarin itu Mas Adit"


"Apa?" Rama tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian menatap tajam Nayra.


"Kenapa bisa kebetulan sekali?" tanya Rama lagi.


Rama terdiam sejenak untuk berfikir.


"Apa sebaiknya.. kita jodohkan saja mereka berdua?"


"Apa? Mas Rama nggak lagi bercanda kan? Kalau begitu Mas Adit akan jadi adik iparku?"


"Memangnya kenapa? Apa kamu nggak ikhlas kalau Aditya sama Alina?"


"Bukan begitu Mas. Kamu jangan salah paham dulu! Aku juga udah nggak ada perasaan apa-apa kok sama Mas Adit"


"Kalau begitu kita nggak usah ikut campur! Biarkan saja mereka! Toh Aditya juga belum tentu suka sama Alina. Dia kan masih cinta sama kamu"


Rama pun meneruskan langkahnya dengan agak kesal. Nayra jadi serba salah. Tapi pada akhirnya dia tersenyum.


'Mas Rama.. aku senang kalau kamu cemburu seperti itu. Itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku' pikir Nayra.


***


"Silahkan duduk Mas!" Alina mempersilahkan Aditya duduk di sebelahnya. Aditya pun duduk di sebelah Alina kemudian mengusap keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.


Sejenak mereka berdua hanya diam membisu. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Mereka hanya menatap pemandangan yang ada di depan mereka. Entah kenapa suasananya menjadi canggung. Sampai akhirnya Aditya membuka suara untuk mencairkan suasana.


"Emh.. Alina, kamu masih kuliah atau udah kerja?"

__ADS_1


"Aku masih kuliah di Bogor. Tapi udah semester tujuh"


"Oohh.. bentar lagi skripsi dong"


"Iya"


Suasana hening lagi. Lalu Alina gantian bertanya.


"Kalau Mas Aditya sendiri kerja di bagian apa?"


Aditya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Alina.


"Aku hanya seorang drafter. Sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali jadi arsitek. Makanya waktu kuliah dulu aku mengambil jurusan arsitektur. Tapi karena aku belum berpengalaman, ya.. aku disuruh jadi drafter dulu"


"Oya? Sama dong kayak Kak Rama. Kak Rama dulu awalnya juga cuma jadi drafter, lalu lama-lama dia bisa jadi arsitek yang hebat seperti sekarang ini berkat kerja kerasnya. Dia itu tipe pekerja keras dan mandiri. Dia bisa sukses dengan kemampuannya sendiri"


"Kakak kamu memang hebat. Beberapa waktu yang lalu dia juga sempat meraih penghargaan 'Best Employee of the Year' di kantor"


"Iya. Kami semua bangga padanya. Mudah-mudah suatu hari nanti kamu bisa seperti Kak Rama"


"Aamiin.."


Mereka berdua asyik berbincang-bincang hingga Rama dan Nayra kembali.


"Alina, ayo kita pulang! Udah siang nih" seru Rama kepada Alina.


"Iya Alina. Mungkin Kyara udah bangun. Takutnya dia nangis nyariin aku" Nayra menimpali.


"Iya Kak"


"Aku juga mau pulang" imbuh Aditya.


Rama, Nayra dan Alina pun berpisah dengan Aditya kemudian kembali ke rumah masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.......................

__ADS_1


Jangan lupa tekan jempol, komen dan VOTE poin sebanyak-banyaknya ya setelah membaca!!! Udah hari Sabtu, ranking terkini #16


Jangan cuma baca doang, tolong dukung penulis juga ya.. πŸ™πŸ™


__ADS_2