Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 25 - Rumit


__ADS_3

BAB 25


Sore hari di penthouse


“Ganti pakaianmu, cepat”, perintah Leon seperti biasa tak ingin di bantah.


“Memangnya kenapa dengan pakaianku saat ini, tuan?”, tanya Pamela.


“Jangan banyak bicara, lakukan saja”.


“I-iya tuan”, cicit Pamela masih merasakan pegal di tangan.


Pamela pun ke kamar dan mendapati gaun mahal tersimpan di atas ranjangnya, lengkap dengan alas kaki serta perhiasan.


“Hah, apalagi ini?”, ia merasa khawatir karena pasti Leon akan menghukumnya.


Seorang make up artist pun datang membantu Pamela merias wajah, serta menata rambut indahnya.


“Kemana lagi tuan muda kejam itu membawa ku”, gumam Pamela menuruni anak tangga, melihat suaminya menatap ke luar kaca.


“Tuan Leon, aku sudah siap”.


Leon berjalan tanpa memberikan sepatah kata pada istrinya, Pamela pun hanya mengikuti dari belakang. Ia tahu suasana hati Leon tidak baik.


“Jaga sikapmu, jangan mempermalukan ku, paham !”


“Iya tuan”


“Apa memangnya apa lagi tugas ku sekarang? Kenapa dia belakangan ini suka sekali membawaku keluar apartemen”.


Rupanya Leon membawa istrinya ini untuk menghadiri peresmian dan jamuan dari kolega bisnisnya di salah satu restoran mewah.


“Waaaah”, takjub Pamela melihat restoran yang mungkin dulu ia hanya bermimpi memasukinya.


“Kampungan”, cibir Leon.


“Maaf tuan”, cicit Pamela.


“Nyonya, anda dan tuan memenuhi undangan salah satu rekan bisnis dan peresmian salah satu mall terbesar di kota ini”, ucap Alonso.


Pamela pun mengangguk dan paham kenapa Leon berkata jika ia harus menjaga sikap, Pamela pikir Leon akan membawanya ke tempat menyeramkan tapi rupanya tak masalah bagi Pamela jika Leon mengajaknya ke tempat mewah seperti ini, ia jadi banyak belajar.


“Selamat datang Tuan Torres dan nyonya”, ucap salah satu pelayan.

__ADS_1


“Dia bukan istriku”, ucap Leon begitu dingin dan menusuk hati, Pamela hanya menoleh pada suaminya.


“Baiklah Pamela, kau tidak boleh sakit hati dengan apa kata-kata Leon. Ingat pernikahan kalian hanya kontrak”, Pamela menegarkan hatinya.


Pamela hanya duduk diam di sisi suaminya yang tampak terlibat perbincangan serius dengan beberapa pria muda dan paruh baya. Hanya dirinya yang berdiam diri, namun beberapa wanita yang hadir bersama rekan bisnis Leon saling bertukar kata tapi masih tetap memperlihatkan kelasnya, dan tampil anggun.


Pamela bergidik ngeri melihat kalangan atas yang harus menjaga penampilan, tata bicara dan tertawa pun diatur. Benar-benar luar biasa menurut Pamela.


Tiba saatnya jamuan makan malam, pelayan mulai menyajikan menu di depan setiap orang yang duduk. Leon melirik istrinya tajam, ia tak ingin menanggung malu dari apa yang Pamela lakukan malam ini.


“Semoga aku masih mengingatnya”, lirih Pamela dalam hati.


Ia berusaha mengingat table manner yang beberapa bulan lalu dipelajarinya. Setelah menikah, Leon tak hanya menjadikannya pelampiasan, tapi juga mengubah Pamela menjadi lebih anggun dan cantik secara penampilan. Membayar guru terbaik untuk mengajari Pamela etika makan, dan koki handal agar Pamela bisa menyiapkan makanan untuk Leon.


“Awas kau kalau sampai mempermalukan ku”, khawatir Leon di dalam kepalanya.


Pamela mengingat urutan peralatan makan yang harus ia gunakan lebih dulu untuk hidangan pembuka, memakannya pun tidak sembarang seperti selama ini yang Pamela lakukan jika tergesa-gesa.


Leon menarik napas lega melihat Pamela mengingat pelajarannya, dan mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya.


“Tuan Torres, malam ini anda sangat sempurna didampingi wanita secantik ini”, puji seorang rekan bisnis Leon.


Leon hanya mengulas senyum tipis menanggapi rekan bisnisnya.


Selesai jamuan makan malam, Leon dan Pamela segera kembali ke apartemen. Lagi-lagi suaminya itu berjalan dan meninggalkannya yang kesusahan dengan gaun panjang. Apalagi Pamela tidak boleh mengangkat dan berlari mengejar suaminya yang kini telah duduk dalam mobil.


“Nyonya, silahkan”, ucap Alonso menawarkan bantuan, memberikan lengannya agar Nyonya Muda Torres ini berpegangan padanya.


“Kerja bagus nyonya, anda bisa melewati malam ini dengan baik”, puji Alonso, padahal ia khawatir Pamela melakukan kesalahan dan berakhir buruk dengan hukuman dari tuannya.


“Huh ,Alonso. Malam ini belum berakhir, aku masih harus menghadapi tuan mu sampai pagi”, batin Pamela.


“Lamban”, sinis Leon, saat istrinya masuk mobil.


“Maaf, aku seperti ini karena tuan meninggalkanku sendirian”, alasan Pamela yang lolos begitu saja dari bibirnya. “Ya ampun Pamela apa yang kamu katakan”, menyesal dalma hati.


Pamela pun refleks menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Kau berani menyalahkan ku, hah?”


“T-tidak tuan”.


Tiba di penthouse, Pamela menunggu suaminya masuk ke kamar barulah ia bisa bernapas lega dan beristirahat. Pamela hanya diam berdiri di dekat Leon. Tak berani bertanya atau pergi.

__ADS_1


“Besok Tuan akan menghadiri acara peresmian yang terbuka untuk umum, tetapi pagi ada rapat penting dengan salah satu rekan bisnis anda”.


“Mulai besok aku akan kembali ke kantor, siapkan mobil siang untuk menjemput Pamela dan pastikan penampilannya tidak kampungan”, tegas Leon, sontak Pamela menoleh pada suaminya.


“Baru saja aku merasa senang karena dia kembali masuk kantor tapi besok aku menemaninya lagi”, kata hati Pamela.


“Baik tuan, saya pastikan nyonya tidak akan mengecewakan anda”, Alonso pun pamit undur diri dari apartemen.


Leon memasuki kamarnya di lantai 1, tak menoleh sedikit pun apalagi mengucapkan ‘selamat malam’, jangan bermimpi.


Pamela melepas gaun mahalnya di atas ranjang, akhirnya ia bisa menjadi dirinya sendiri hanya di kamar ini. Menatap gaun berwarna silver dan heels mahal di atas lantai.


“Gajiku selama satu tahun saja tidak akan bisa membeli kalian berdua”, ucap Pamela berlalu mengganti pakaian, lebih tepatnya gaun tidur dengan potongan dada rendah, karena hanya pakaian seperti itu yang bisa ia pakai, sekalipun piyama tetap saja tipis menerawang.


Hampir tengah malam Pamela hanya berguling di atas ranjang, duduk dan kembali merebahkan tubuh. Rasa lapar di perutnya sangat mengganggu, karena aturan makan yang rumit hingga ia tidak menikmati makan malam mewah kali ini.


Pamela pun memilih membuka lemari pendingin di dapur, mencari sesuatu yang bisa masuk ke dalam perutnya.


“Baiklah, Pamela hidupmu sangat sehat”, mengambil buah jeruk.


“Andai saja ada churros, oh aku rindu makanan ku”, Pamela mengupas kulit jeruk.


“Kau?”, ucap seseorang dalam kegelapan.


Sontak Pamela menajamkan penglihatan dan mengambil benda untuk memukul sang pemilik suara.


“Oh anda Tuan, aku pikir orang asing, maaf”, cicit Pamela.


“Kau pikir penthouse ku itu apa, hah? Sedang apa malam-malam?”


“Aku lapar tuan”, jawab Pamela lemah.


“Habiskan jeruk mu dan masuk ke kamar ku”, perintah Leon dan Pamela hanya menghela napas menikmati malam panjangnya.


...TBC...


...***...


Jangan lupa bacanya sambil bayangin muka ayang Leon yah. 😁😁😁😁😁


Terima kasih yang sudah mampir


Terima kasih untuk pembaca setia

__ADS_1


😍😍🥰🥰🙏🙏


__ADS_2