
BAB 78
Leon terus mengekor istri dan anaknya sampai masuk kamar. Nampak jelas Pamela yang kelelahan, dengan inisiatif Leon mulai menggunakan senjata miliknya untuk meraih kembali perhatian sang istri.
“Tidurlah, El biar aku yang menjaganya”, ucap Leon datar dan berharap mendengar jawaban dari Pamela.
“Tidak apa Leon, aku bisa”, jawab Pamela membantah apa yang dikatakan Leonard, wanita ini melanjutkan apa yang sejak tadi ingin dilakukannya. Pamela menidurkan El di atas ranjang besar, sementara dirinya meraih ponsel di atas meja.
Kedua mata indah pun terbelalak memeriksa banyaknya panggilan suara dari Dylan, ditambah satu pesan dengan kata “Tolong”.
Mungkinkah Dylan dalam masalah, pikir Pamela, dengan percaya diri ia ingin menghubungi temannya itu, sengaja menjauh dari Leon. Pamela keluar dan berdiri di balkon kamar berharap Leon segera pergi dari kamar.
“Hemmm apa yang terjadi?”, gumam Pamela yang tidak menyadari kehadiran seseorang tepat di belakangnya.
“Siapa yang kamu hubungi?", dari perubahan riak wajah pun Leon tahu istrinya begitu peduli pada rival bisnis dan percintaannya. Sejak pertama menikah, ia memang tidak pernah mengizinkan Pamela memiliki hubungan bersama pria lain.
“Apa Dylan datang ke mansion?”, cemas Pamela, takut jika pria yang selalu mendekat padanya mengalami luka atau sakit.
“ADA”, Leon menyandarkan tubuh di dinding, maniknya tidak lepas dari memperhatikan gerak-gerik Pamela.
“Apa Dylan tidak ada masalah?”, tanya Pamela merasa aneh, tidak biasanya Dylan mengirim pesan seperti itu.
Rasa panas dalam dada masih dapat Leon tahan, tetapi ia ingin sekali mengatakan bahwa Pamela hanya boleh berpikir, mencemaskan dan mengucapkan namanya saja bukan pria lain, boleh kan ia menguasai wanita ini sepenuhnya?.
“Dia pulang ke Spanyol”, jawab Leon memutar tubuhnya membelakangi Pamela. Leon keluar kamar, menghilangkan rasa sakit. “Kenapa wanita itu berubah dia bukan Pamela yang aku kenal, sekarang banyak bertanya dan bicara”, geram Leon.
**
__ADS_1
Berjalan satu minggu, keadaan Pamela semakin baik pasca melahirkan. Pamela tidak mengunjungi rumah sakit melainkan check up di mansion, begitu pun dengan Donatello Xavier Torres. Bayi merah dan mungil ini mendapatkan vaksin pertamanya di mansion, Dokter Spesialis Anak GB Hospital datang secara khusus untuk memberi pelayanan terbaik.
“Putraku sehat kan? Tidak ada masalah?”, tanya Leon pada dokter yang sedang merapikan alat kesehatan.
“Kondisi Tuan Muda Kecil sangat sehat Tuan Leon, tidak ada satu masalah apapun, berat badannya naik melebihi prediksi”, tutur Dokter ini sangat hati-hati khawatir ada salah tanggap dari apa yang ia sampaikan.
Sementara Pamela hanya duduk tenang, tidak banyak pertanyaan yang diajukan, suaminya itu lebih aktif dan bawel menyangkut El. Tak ada satu hal pun yang Leon lewatkan, mungkin orang akan menilai Leon sosok ayah yang posesif tapi semua dilakukan demi kebaikan putra kecilnya.
“Apa ada yang ingin Nyonya tanyakan?”, ujar penerjemah bahasa.
“Ah tidak ada, semua sudah sangat jelas, dan sampaikan padanya terima kasih banyak”, Pamela tersenyum pada dokter yang tersenyum padanya.
Manik coklat Pamela pun mengarah pada Leon yang tengah menggendong El, iya bayi itu seakan lupa siapa yang mengandung dan melahirkannya, lebih senang menempel pada Daddy Leon. Pamela hanya dibutuhkan untuk mengisi perut hingga kenyang setelah itu El akan mencari Leon, menggunakan suara tangis yang tidak akan reda.
Usai pemeriksaan, Leon memberikan El pada pengasuh agar Pamela, terutama dirinya memiliki waktu berdua lebih banyak hanya untuk meluruskan masalah yang ada. Hampir satu minggu hubungan keduanya berjalan di tempat, kendati satu kamar, Pamela tidak pernah menegur sapa suaminya.
Leon pun sama, dia hanya masuk kamar untuk tidur dan setelah bangun duduk santai di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
“Ya, ada apa?”
“Aku..........Aku, ah ini. Apa kamu masih ingat dengan buku ini?”, Leon menyimpan buku dongeng di atas pangkuan Pamela.
“Ini buku dongeng, benar kan?...........tapi buku ini tidak asing” , lanjutnya dalam hati. Istri Leonard ini hanya berpikir itu buku dongeng biasa, yang dimiliki siapapun. Pamela beranjak dari posisi saat ini dan menyimpan buku itu di rak buku dimana hampir semua buku koleksi El tersimpan,
“Kamu tidak ingat apapun?”, hati Leon yang semula menggebu menciut sudah mendapati tanggapan biasa dari sang istri.
“Aku juga punya buku ini satu di rumah lama nenek”, batin Pamela, mengingat dimana ia menyimpan kenang-kenangan dari pria yang ditolongnya.
“Sepertinya aku harus mengingatkan tentang buku itu dan sejarahnya”, tutur Leon mendekati Pamela dan mengambil buku yang telah rapi dalam rak.
__ADS_1
Membawa Pamela duduk di sofa dan tidak ada jarak diantara mereka, Leon ingin menunjukan sesuatu yang mungkin akan merubah pendirian wanita miliknya ini.
“Apa tidak lihat ini apa?”, tunjuk Leon pada noda darah di sampul buku.
“Darah?”, lirih Pamela dalam hati, “Kalau buku ini memang milikku kenapa ada pada Leon dan kenapa dia bertanya tentang noda itu?”, batin Pamela bertanya, sangat kebingungan.
Tapi Pamela hanya menunjukan riak berbeda pada wajahnya, menoleh pada Leon dengan tatapan mata yang bertanya. Tentu Leon dengan senang hati menjelaskan maksud dari buku dongen ini.
“Kamu tahu Pamela?”, meraih punggung tangan sang istri dan digenggamnya, Pamela pun tidak bisa melepaskan diri karena Leon begitu kuat menahan.
“Aku pernah memiliki teman kecil yang membantu ku kabur dari kawanan penjahat, dan anak kecil itu menolongku melewati hutan serta pagar pembatas. Sebagai bayaran, aku memberinya buku ini dan dia memberiku pita pengikat rambut".
Sontak Pamela melebarkan mata dan mulutnya terbuka, terkejut mendengar penuturan Leonard. Walau samar-samar Pamela tetap mengingat kejadian yang menimpanya di masa lalu.
“Ya, Pamela itu aku. Anak laki-laki yang bersama mu, terima kasih istriku”
“Mana mungkin?”, gumam Pamela menggeleng tidak percaya, ya bisa kan Leon hanya mengaku saja.
“Buku ini cetakan terbatas hanya ada beberapa di dunia, Dad secara khusus membelinya untukku”, Leon menatap lekat manik istinya, Pamela yang masih belum percaya kembali melepaskan tangannya.
“Pamela maafkan aku, maaf banyak membuat kesalahan padamu, aku benar-benar menyesal”, lirih Leon yang sangat ingin kembali merajut indahnya hidup bersama istri serta buah hatinya.
“Leon, yang kamu lakukan itu melukai hati dan fisikku. Aku akui menerima penawaran menikah karena uang, tapi aku lakukan untuk nenekku, dengan teganya kamu menuduhku wanita murahan dan...........dan selalu......selalu memaksa untuk......”, lidah dan bibir ibu muda ini seakan tertahan juga terkunci.
“Maafkan aku, aku salah bercinta denganmu sangat kasar tanpa perasaan, membawa Megan kembali dalam kehidupan pernikahan kita -”, Leon mengiris nyeri, potongan kejadian itu pun kembali memenuhi isi kepala.
“Ck kamu bilang bercinta? Itu namanya pemerk*****", sengit Pamela melirik Leon dengan ekor matanya.
"Bisa kita mulai semua dari awal?", mohon Leon.
__ADS_1
...TBC...