Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 76 - Dua Predator


__ADS_3

BAB 76


Dua hari setelah melahirkan Pamela mendapat izin untuk pulang, persiapan penyambutan di mansion begitu megah untuk Pamela dan El.


Pamela ditemani nenek dan Leon yang selalu setia mendampingi istrinya. Donatello Xavier berada dalam gendongan Nenek Pamela, sementara Leon ditugaskan oleh wanita sepuh itu membantu cucunya berjalan. Khawatir terjatuh karena satu hari sebelum pulang sempat mengalami anemia.


Tangan Leon begitu kaku terulur pada Pamela, melingkar di bahu istrinya. Tapi dengan cepat Pamela menghindar dan melepaskan diri, ia tidak ingin disentuh oleh Leon.


Jujur saja Leon sakit hati dan pedih melihat istrinya memilih berjalan sendiri tanpa membutuhkan bantuan darinya.


Untuk Dylan sendiri selalu menguntit Leon ketika di rumah sakit, pria satu itu tidak juga pulang ke Spanyol.


Ada kesempatan bagi Dylan menawarkan bantuan untuk Pamela, ia menyusul wanita pujaannya yang berjalan lebih dulu.


“Pamela, aku bantu. Aku takut kamu jatuh”, oceh Dylan.


“Oh terima kasih Dylan, tapi aku bisa berjalan sendiri. Sebaiknya kamu tidak perlu mencemaskan aku”, senyum Pamela pada Dylan. Leon pikir istrinya akan menerima bantuan dari sang mantan casanova tapi ternyata tidak, pria itu pun menelan kekecewaan.


“Hey, kalian tidak tahu tempat. Ini rumah sakit bukan ring tinju”, kesal Nenek Pamela.


“Kau, berikan tas itu pada Tuan Muda Kejam dan Tuan Muda Pembohong, enak sekali mereka tidak membawa apapun”, ketus Nenek Pamela, memberi perintah pada anak buah Leon untuk memberikan tas berisi pakaian dan perlengkapan Pamela lalu untuk Dylan membawa beberapa hadiah yang dibawanya.


“Tuan ini”, gemetar anak buahnya memberikan Leon tas Pamela.


“Kau ingin aku pecat detik ini juga , hah?”, desis Leon.


“M-maaf tuan”, beralih pada Dylan memberikan banyaknya hadiah yang ia bawa.


“Hey, itu semua tugasmu. Aku pecat kau sekarang juga”, seru Dylan yang menolak membawa semua barang milik El.


“Tapi kami bekerja pada Tuan Muda Leon bukan anda”


Dengan perasaan kesal Dylan terpaksa menerima semua itu, suah payah ia bawa keluar rumah sakit.


Tiba di depan pintu utama, Pamela nampak kebingungan karena ada dua mobil mewah yang menyambutnya. Ia tidak tahu mana yang harus ditumpangi, Pamela pun menoleh pada Leon lalu beralih ke Dylan.


“Masuklah Pamela, mobilku di depan”, suara Leon lalu menghampiri sang istri dan bersiap menggenggam tangan Pamela, lagi dan lagi Pamela menghindar, membuang wajahnya ke arah berlawanan.

__ADS_1


“Pamela ikut denganku, aku juga akan mengantarmu ke mansion Torres. Ayo ikut denganku”, paksa Dylan


Kadua pria ini saling melempar tatapan tajam, memburu lawan satu sama lain. Semua yang berada di luar merasakan suasana menegangkan dan bahaya.


Pamela mengeluarkan ponselnya dan menekan sesuatu, terlihat jelas bahwa ia mengobrol dengan seseorang. Lalu tidak lama datang mobil putih sederhana menghampirinya, berani membunyikan klakson pada beberapa mobil mewah di depan yang membuat kemacetan.


“Nenek, ayo kita pulang”, ajak Pamela pada neneknya yang begitu hati-hati menggendong EL.


Pada akhirnya Pamela, El dan Neneknya pulang menggunakan jasa taksi online menuju mansion Torres. Tadinya Pamela akan ikut dengan Leon tapi dirinya belum siap dekat dan kembali pada pria itu.


Menerima tumpangan Dylan, sama saja memancing keributan baru antara Leon dan Dylan.


Sementara Leon dan Dylan menatap tidak percaya apa yang dilakukan Pamela, lebih memilih naik besi tua dibanding kuda besi keluaran terbaru yang sengaja Leon dan Dylan beli satu hari yang lalu.


“Semua ini karena mu”, lantang Leon dan Dylan bersamaan.


“Sudah Tuan Leon dan Tuan Dylan, ini rumah sakit. Nyonya Pamela akan segera sampai di mansion sebaiknya anda pulang sekarang Tuan”, ucap Alonso memisahkan kedua predator yang sedang bertarung ini.


“Kau benar”, dengan langkah pasti Leon masuk mobil dan segera berlalu dari tempat memuakkan.


“TUAN, hah kenapa aku selalu ditinggal”, sedih Alonso, bosnya itu mendadak bodoh jika berhadapan dengan cinta.


.


.


Pamela yang tiba lebih dulu mendapat sambutan hangat dari mertua serta para pelayan, pernak pernik berwarna biru, merah dan hijau memenuhi mansion ini.


“Terima kasih mom , dad”, memeluk kedua mertuanya karena sangat memperhatikan Pamela dan Neneknya selama ini.


Ia merasa terharu, putranya Donatello Xavier mendapat kasih sayang tak terhingga. Tinggal kini Pamela mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya, menjauh dari Leon adalah hal buruk tapi baik baginya.


Setelah benar-benar pulih, mungkin Pamela akan menyampaikan niatnya pada Nyonya dan Tuan Besar Torres. Mungkin menunggu sampai El berusia 2 bulan, baru ia akan pergi dari mansion ini.


“Pamela, sebaiknya kamu istirahat. Nanti makan siang diantar ke kamar, jadi tidak perlu turun dan bergabung bersama kami”, tutur Nyonya Torres.


“Terima kasih mom”

__ADS_1


Sampai kamar, Pamela membaringkan El di atas ranjang besarnya. Ia tidak tega kalau El harus tidur sendiri di kamar bayi. Sementara Pamela mengganti pakaian, mencuci tangan dan kaki.


Tepat dirinya selesai dengan semua ritual kecil itu, membuka pintu kamar mandi dan tersentak Leon duduk seraya menggendong El yang merengek.


“L-Leon?”


“Hem”


“Kenapa kamu diam saja, El haus. Cepat berikan yang terbaik untuknya”, tegas Leon tetapi sangat lembut dalam setiap alunan nada yang keluar dari bibir.


Leon yang telah mendapat pendidikan parenting, membantu istrinya duduk menyandar senyaman mungkin, kemudian menyerahkan El di pangkuan sang istri.


“Kamu tidak keluar?”, suara serak Pamela yang begitu indah menggelitik indra pendengaran Leonard.


“Untuk apa? Kamarku disini. Apa mom tidak memberitahu kalau di mansion hanya ada 2 kamar utama, milik kita , lalu kamar mom dan dad”, jelas Leon sesuai kenyataan.


Sontak Pamela gugup dibuatnya, ia tidak menyangka akan satu kamar dengan suaminya ini. Pamela melirik pada interior kamar, ya memang ruangan ini dominasi warna maskulin begitu ketara tapi tak pernah sekali pun Pamela berpikir bahwa ini kamar suami kejamnya.


“Aku........aku mau menyusui El, kamu bisa keluar sebentar atau tidak apa aku ke kamar nenek”, melihat pergerakan istrinya, gegas Leon menahan. Tidak mungkin ia menyetujui kedua pilihan, itu sama saja bohong.


“Badanku gerah dan aku akan mandi. Kamu jangan khawatir”, canggung Leon, debaran dalam dadanya sangat tidak bisa diajak bekerja sama.


Sementara Leon mandi, Pamela berusaha menyusui El, ia menemukan kesulitan baru, tidak semudah yang dilihatnya selama ini. Posisi El pun tidak nyaman hingga merengek nangis cukup keras, membuat Leon gegas keluar kamar mandi dalam keadaan tubuh bagian atas tanpa penutup.


“Ada apa?”


“Aku.... belum bisa melakukannya”, keluh Pamela merasa bersalah pada sang buah hati.


...TBC...


...****...


Makasih ya dukungannya


terharu banget banyak yang kasih hadiah


😭😭😭😭❤️😭😭😭

__ADS_1


maaf sekarang up nya dibagi 2 😁😁


ga sempat edit pagi


__ADS_2