Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 90 - Rindu Yang Menggebu


__ADS_3

BAB 90


Pulang dari rumah sakit Pamela selalu diam tidak bersuara, wanita ini marah pada suaminya. Ya marah, karena Leon menerima tantangan baru dari Dylan. Kedua pria itu akan melakukan panjat tebing setelah pulih.


Pamela tidak ingin terjadi sesuatu pada Leon, cukup sekali terluka dan membuat dirinya panik luar biasa, begitupun Dylan, cukup sudah dua pria itu saling menyakiti satu sama lain berlomba untuk sesuatu yang tidak perlu.


Alasan Dylan sangat konyol, menantang Leon untuk sebuah ide gila, sudah jelas kan jika Pamela dan Leon suami istri. Apalagi sekarang memilih kembali dalam pelukan Leon, pasti pria yang dipilihnya adalah ayah dari Donatello Xavier. Kalaupun berpisah dari Leon, bukan berarti Pamela akan menerima Dylan, TIDAK.


Ia akan hidup sendiri membesarkan El tanpa ayah sambung.


“Pamela, jangan marah lagi ya, hem? Kamu tidak perlu khawatir aku pasti menang lawan pria tidak tahu diri itu”, berusaha meluluhkan istrinya yang kembali marah, Leon juga menyesal menerima tantangan Dylan. Baru saja pagi ini sangat indah, dan lihatlah Pamela sekarang membuang muka ke arah berlawanan.


“Pamela, hubungan kita baru membaik jangan marah, lagipula aku dan dia tidak akan melakukan itu dalam waktu dekat, kamu lihat kan dia saja masih terbaring di atas ranjang rumah sakit”, Leon meraih tangan sang istri, menggenggamnya erat.


“Apa kamu khawatir aku terluka kembali?”


Jawaban tanpa suara diberikan Pamela, berupa kepala yang mengangguk. Ia benci kenapa Leon harus melakukan itu, tidak tahu kah dia kalau Pamela begitu sedih melihat tubuhnya yang terluka seperti ini?.


Bahu dan kepala Pamela bergetar, rupanya ibu dari EL ini menangis sedih sembari menatap gedung pencakar langit yang jumlahnya tak terhitung.


Pamela menyusut air mata dengan punggung tangannya.


“Istriku , kamu menangis? Ah Pamela jangan. Maaf......maaf aku ....aku membuatmu menangis lagi, baiklah aku akan menolak tantangan Dylan, berhenti menangis ya", sekali hentakan tubuh mungil Pamela langsung berada dalam pelukan Leonard.


Leon sudah berjanji tidak akan lagi membiarkan istrinya mengeluarkan air mata, tapi sekarang janjinya dilanggar. Belum kering untaian janji itu keluar dari bibir, Pamela menangis akibat ulahnya yang menurut Pamela mencelakai diri sendiri.


“Jangan terluka lagi Leon, aku tidak mau kamu terluka dan sakit”, isak tangis Pamela, meremat kuat kemeja Leon, ia tidak sampai hati melepas suaminya pergi bersama Dylan.


“Oke, apapun untukmu, aku akan mendengarkan dan menurut pada istriku, sudah jangan menangis”, menepuk punggung Pamela seperti ia menepuk pelan punggung El agar cepat lelap tertidur.


.

__ADS_1


.


Beberapa minggu kemudian hubungan Pamela dan Leon kian membaik dan semakin dekat. Nyonya Torres serta Nenek Pamela sangat senang melihat kemesraan dua orang itu, bahkan sampai tidak tahu tempat.


Leon yang selalu menempel pada istrinya tidak membuang kesempatan apapun, hanya perlu sudut sepi dan tidak dilalui orang, sepasang suami istri itu bertukar saliva sangat liar.


Nyonya Torres kerap kali memergoki putranya memenjarakan Pamela pada dinding mansion, atau ketika Leon baru saja pulang kantor langsung membawa istrinya itu ke kamar, tidak peduli jika Pamela tengah duduk bersantai bersama ibu mertua, nenek serta sanak keluarga Leon yang lain.


Tapi dua hari yang lalu Leon terpaksa harus berpisah dari Pamela, perjalanan bisnisnya kali ini tidak memungkinkan membawa pasangan, selain EL yang masih membutuhkan kasih sayang ibu, kegiatan Leon pun padat.


“Tuan bukankah hari ini masih ada acara perjamuan dari kolega bisnis kenapa anda pulang?”, tanya Alonso selalu setia menemani kemana pergi bosnya.


Leon yang sedang fokus pada sistem alat kemudi helikopter enggan menjawab pertanyaan Alonso, yang pria kejam ini inginkan adalah cepat sampai ke mansion bertemu istrinya yang sangat dirindukan.


Bayangkan saja selama dua hari Leon harus tidur dan terbangun tanpa Pamela disisinya. Hanya bisa menyalurkan rasa cinta juga rindu melalui layar ponsel sangat tidak menyenangkan.


“Kau, Alonso pastikan hari ini tidak ada yang menggangguku, aku ingin bersama Pamela seharian ini, mengerti?”, perintah Leon sangat tegas pada Alonso.


Lebih baik Alonso mencari aman untuk dirinya sendiri daripada terkena imbas amarah tuannya.


Helikopter mendarat sempurna di pelataran mansion, cukup jauh memang dari bangunan megah itu. Mobil pun telah siap menyambut kedatangan Tuan Muda Torres, segera membawa Leon mendekat mansion sedangkan Alonso menghela napas lagi-lagi ditinggalkan oleh bosnya.


“Terimalah nasibmu Alonso, ini hal kecil selama gajimu aman”, lirih Alonso yang hanya bisa berjalan sejauh 1 km untuk menuju bangunan utama.


Leon tiba di depan mansion, jajaran maid dan kepala pelayan memberi salam padanya, netra biru safirnya menelisik penjuru mansion mencari seorang wanita yang sangat ia rindukan, hampir gila Leon dibuatnya.


“Dimana istriku?”, tanyanya pada kepala pelayan.


“Nyonya Pamela bersama Nyonya Besar dan Neneknya juga Tuan Muda El......”, kalimat pria setengah abad ini terputus karena Leon tidak sabaran menunggu jawaban.


“Terlalu lama, katakan saja langsung dimana istriku?”

__ADS_1


“Taman anggrek di samping mansion, tuan”


“Menjawab seperti itu saja berbelit-belit”, gerutu Leon pada kepala pelayan.


Derap sepatu pantofel mahal membawa sepasang kaki Leon untuk menjemput istri yang ia rindukan, teramat sangat berat, bayang-bayang Pamela pergi begitu membekas diingatan Leon.


Leon tersenyum pada ketiga wanita berbeda usia dan seorang bayi gembul dalam gendongan istrinya, nampak El baru selesai menyantap cairan kehidupan bernutrisi dari Pamela.


“Leon?”, binar bahagia terpancar dari wajah Pamela menyambut suaminya.


“Kamu pulang lebih cepat. Bukan kah harusnya pulang besok?”, interogasi Nyonya Torres, anaknya ini semakin rajin pulang dan selalu tersenyum.


“Baiklah, nenek paham, ayo kita main disini”, Nenek Pamela mengambil El dari pelukan cucunya.


“Terima kasih nenek”, bahagia Leon yang mulai menyukai wanita sepuh itu karena turut membantu.


“Akhhh”, pekik Pamela, tubuhnya melayang di udara, Leon membawa masuk Pamela ke dalam mansion lebih tepatnya kamar mereka di lantai atas, tidak menggunakan tangga melainkan lift.


“Leon aku malu, kamu seharusnya duduk dan ikut menikmati teh bersama mom”.


“Tidak mau”, tanpa aba-aba dan bergerak cepat, Leon menyesap bibir ranum Pamela tidak sabaran, sampai beberapa kancing dress Pamela terlepas sempurna dan sesuatu yang menggoda muncul dari dalam walaupun masih sembunyi.


“Leon ahhhh”, d-3-sa-h-4n yang sangat Leon rindukan dan menyiksa dirinya selama dua hari.


Begitu pintu lift terbuka Leon menggendong istrinya masuk kamar mereka membelitkan kaki Pamela melingkar pada pinggangnya, mengunci pintu dengan sandi khusus hingga tidak akan ada yang bisa mengganggu seharian ini.


Membawa tubuh Pamela ke sisi ruangan lain, menghimpit sampai punggung menyentuh dinginnya dinding sekaligus merasakan sentuhan hangat dari tangan suaminya yang merambat naik dari kaki, betis hingga paha.


“Katakan apa kamu milikku Pamela, hah?”, tanya Leon menggebu-gebu.


“Ah ya ah, aku Pamela ah milikmu hari ini dan selamanya Leonard”, suara yang diiringi alunan manja dari bibir Pamela.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2