Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 79 - Tujuan Utama


__ADS_3

BAB 79


Pamela melihat kejujuran dan ketulusan dari sepasang bola mata biru safir Leonard, wanita yang begitu lemah akan bujuk rayu ini tidak serta merta menanggapi positif permohonan suaminya.


Pamela akan teguh pada pendirian, dia memilih pergi dari kehidupan Leon. Luka masa lalu bukan hal yang mudah untuk diobati apalagi di hilangkan tak berjejak.


“Tuan Leon, kita bisa mulai hidup masing-masing, aku akan mulai hidup dari awal bersama El. Terima kasih telah memberikan semua perhatian dan fasilitas ini untuk kami”, jawab Pamela, seketika itu Leon semakin erat menggenggam tangan wanitanya.


“Maksudmu? Masing-masing?”, rahang pria ini berkedut menahan kesal dan gundah dalam dada.


Entah apa yang dimaksud masing-masing oleh Pamela, mungkinkah hidup dalam pernikahan yang memiliki ruang berbeda seperti ini? Seorang Leonard tidak akan sanggup, cukup ia berpisah selama berbulan-bulan sangat menyiksa.


Atau


Masing-masing  dengan status berbeda, ikatan berbeda, dan hanya terhubung pada Donatello Xavier? Tidak, bukan itu keinginannya Aleandro Leonard. Membawa Pamela pulang ke Spanyol, ke mansion sebagai istri dan ibu dari El adalah tujuan utamanya.


“Aku tidak akan menutup akses apapun bagi keluarga Torres untuk bertemu El”, getar suara Pamela, sudut matanya melirik pada EL di atas ranjang.


“Tentu saja tidak tertutup apapun, karena aku ayahnya, dia anakku Pamela. Kamu ingin membawanya pergi? Menjauh dariku?”, Leon yang semula bisa sabar, saat ini mulai terpancing amarah, bernada keras dan mencengkram kuat punggung tangan istrinya.


“Lepas Tuan”, balas Pamela yang melawan suaminya, “Tanganku sakit”, meringis merasa kuatnya telapak tangan Leon.


“Pamela, apa yang harus aku lakukan? Kamu tahu, aku mengambil kelas banyak bersama psikolog dan mempelajari bagaimana menjadi orang tua yang baik.........seorang suami yang baik”, melepas tangannya dari Pamela, dan benar akibat terlalu kuat mencengkram, tangan Pamela memerah.


“Aku juga sama Tuan. Nyonya Torres, uumm mom menyediakan psikolog khusus di mansion ini, aku tahu keluarga Tuan Leon sangat baik, selalu berusaha membuat luka itu tertutup, tapi................”


“Apa? Tapi apa? Katakan !!!!!”, Leon ingin sekali melampiaskan apa yang dirasanya saat ini, dia tidak terbiasa mendapat penolakan.


Hanya Pamela, wanita yang menolaknya, wanita yang ingin lepas darinya dan memilih hidup diluar sana tanpa ada hubungan dengan Leon.


“Tapi, selama berbulan-bulan ini aku tidak bisa melakukannya, luka itu tetap menganga...........dulu aku memang memiliki sedikit perasaan padanya tapi seiring waktu semua terhempas oleh luka yang diberikan”, batin Pamela yang tetap terluka. Berada di sisi Leon bukan hal mudah, ia tidak ingin terluka kembali untuk kesekian kalinya.


“Aku pikir kamu masih memerlukan waktu pemulihan, aku akan memberi banyak waktu, dan kamu ingat Pamela, aku pasti akan membawa kalian pulang ke Spanyol”, tegas Leon, bergegas keluar kamar, dan masuk ruang olah raga, ia ingin melepas semua dalam dada, melampiaskan emosinya.

__ADS_1


Sementara dalam kamar, Pamela tidur meringkuk menemani El yang juga lelap. Menatap lekat-lekat wajah bayi mungil itu, Pamela merasa bukan ibu yang baik, tidak bisa memberi apa yang El butuhkan.


“Maafkan mama EL, mungkin mama egois dan mama sangat yakin El suatu saat akan mengerti kenapa mama mengambil keputusan ini”, sudut mata Pamela mengeluarkan tangisnya yang menetes bebas.


Apa iya pada akhirnya yang menjadi korban adalah El? Bayi yang baru lahir itu tidak akan merasakan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh. Bukankah El dan Pamela bisa melewatinya sampai sejauh ini, masa kehamilan pun ia jalani sendiri tanpa kehadiran seorang Leon.


Pamela tetap mengakui hubungan darah antara El dan Leon begitu kuat, bayi ini bahkan menunggu ayahnya tiba, baru dengan mudah terlahir ke dunia.


“El sayang daddy?”, tanya Pamela pada putranya. “Tentu El harus sayang, tapi maaf mama tidak bisa memberi apa yang El mau”, tidak kuasa menahan tangis.


Lihatkan jika Leon berada di sampingnya hanya membuat Pamela semakin terluka?.


Dalam ruang khusus olahraga, Leon memukul keras punching bag, kepalan ditangannya masih terlalu kuat untuk melampiaskan semua. Walau Pamela menolaknya, Leon tidak peduli dan tidak akan menyerah pada jawaban yang keluar dari bibir Pamela.


“D***, Pamela. Kenapa menolakku?”


BUGH


“Aku akan pastikan kalian berdua ikut pulang bersamaku”


BUGH


BUGH


Alonso yang mendampingi Leon hanya melihat kasihan pada tuannya, Alonso tahu betapa berat perjuangan seorang Leonard mengubah kebiasaan buruk dan segala sifat buruknya. Bahkan harus rela manahan rindu, demi memberi kenyamanan pada sang istri.


Asisten pribadi ini tidak bisa membayangkan jika Tuan Leon benar-benar berpisah dari Pamela, akan seperti apa hidupnya, menjalani harinya.


“Tuan, anda sudah lebih dari satu jam berlatih”, peringatan Alonso.


“Hem”


“Satu minggu ke depan tidak ada jadwal penting kan? Mundurkan semuanya, aku ingin lebih lama di sini”

__ADS_1


“B-baik Tuan Leon”


 .


.


Dalam kamar Leon melihat kedua orang yang berharga dalam hidupnya, dua orang yang sukses membuat hari-harinya berwarna dan jungkir balik.


El dan Pamela tidak akan ia lepas begitu saja, apapun caranya akan dilakukan demi membuat Pamela datang kembali, sekarang Leon pastikan ia hanya memberi yang terbaik bagi istri dan anaknya.


Leonard tidak akan memaksa Pamela kembali dalam waktu dekat, “Mungkin kamu membutuhkan lebih banyak waktu, aku bisa memberikannya Pamela, selama kita tidak berpisah secara hukum”


Tidak ada dalam sejarah keluarga Torres perpisahan, tidak ada satu pun dari anggota keluarganya yang gagal membina hubungan rumah tangga. Tidak ada juga anak yang hidup terpisah dari ayah atau ibu mereka.


Nasibnya sedikit baik karena kedua orangtua sangat mendukung dirinya kembali bersama Pamela, hubungan orangtuanya dengan sang istri sangat baik, tidak menutup kemungkinan Pamela akan luluh dengan sendirinya.


“Kamu tidak bisa pergi Pamela”


“Kita terikat satu sama lain, El tidak akan memiliki ayah selain diriku”


“Aku adalah rumah bagi kalian, dan kamu adalah rumahku Pamela. Aku tidak akan merelakan rumahku pergi”


Lekat-lekat Leon tatap putra dan istrinya, ia juga melihat jejak air mata yang telah mengering. “Apa kamu menangis?”, gumam Leon mencoba menghapus jejak itu.


Tanpa sengaja mengusik tidur nyaman keduanya, El lebih dulu bangun dan menangis, sampai Pamela terbangun dan kedua pasang mata itu terkunci satu sama lain.


“Leon?”


“Hem?”


“Bisa singkirkan tanganmu? El nangis”


“Ah ya, tentu Pamela. Biar aku bantu”, mencoba mencari kesempatan membantu Pamela duduk dan meredakan tangis putranya.

__ADS_1


Leon meninggalkan keduanya, memberi Pamela kenyamanan saat menyusui, ia tidak mau diusir untuk kesekian kalinya, dan Leon memilih membasuh serta menghilangkah keringat yang menempel.


...TBC...


__ADS_2