Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 68 - Detak Jantung


__ADS_3

BAB 68


Jakarta


Pamela duduk di kamar bayi yang ia dekor sendiri, kegiatannya hanya di mansion dari bangun hingga tidur. Keluar tempat ini pun hanya sesekali, bila benar-benar jenuh saja. Periksa kandungan tidak perlu keluar mansion.


Salah satu kamar di sulap menjadi poli obgyn oleh Tuan dan Nyonya Torres, serta dokter spesialis yang siap memeriksa dan membantu Pamela.


Seorang psikolog pun selalu mendampingi Pamela, kapanpun, selalu mengamati setiap perubahan yang terjadi. Sekaligus menjadi teman Pamela di mansion, mendekatkan diri dengan istri Leonard.


Semula Pamela begitu tertutup dan membatasi diri pada orang asing, tapi dua minggu ini sedikit membuka diri dan berinteraksi dengan orang lain selain neneknya.


“Belakangan ini kamu bergerak aktif, apa tidak sabar bertemu mama?”, mengelus perut buncitnya , selalu saja mendapat respon dari dalam berupa tendangan atau gerakan kecil.


Selama 2 bulan ini juga Pamela tidak pernah membicarakan Leonard, tidak ada rindu terselip dalam dada untuk ayah dari bayi yang dikandungnya. Pamela sangat berterima kasih mendapat kehidupan yang layak, lebih berkecukupan.


Namun ada kalanya berpikir semua yang mertuanya lakukan karena anak dalam kandungannya. Lagipula nenek dan kakek mana yang ingin melihat cucu mereka mendapat kehidupan sulit, tentu tidak kan?.


Pamela selalu menyadarkan diri sendiri agar tidak terbuai dalam kemewahan yang mengelilinginya, ia semakin berlatih memasak dan kini memiliki kemapuan baru, melukis adalah kegiatan barunya. Semua ia pelajari secara otodidak, demi membunuh waktu jenuh dalam mansion, banyak yang Pamela lakukan.


“Kamu mau mendengar mama membaca dongeng lagi? Baiklah sekarang kita baca buku apa?”, berdiri memilah banyaknya buku cerita anak.


“Mama senang kamu sangat sehat di dalam sana, tetap seperti ini sayang sampai kita bertemu”, tersenyum manis. Duduk kembali di sofa empuk nan nyaman, tepat sekali sebuah kamera langsung mengarah padanya. Semua kamera yang terpasang di mansion adalah ide Leon, pria itu seperti mata-mata yang selalu mengamati istrinya.


“Pamela, kamu sedang apa nak?”, panggil Nenek yang juga turut membuat dirinya sibuk dengan bercocok tanam di lahan belakang mansion.


“Biasa nek, dia sangat senang mendengarkan dongeng”, senyum manis menghiasi bibir ranumnya yang berhadapan langsung dengan kamera.


“Ah cicitku sebentar lagi lahir, semakin tua nenekmu ini Pamela”, khawatir akan masa depan yang dijalani cucunya ini. Nenek gusar jika ia pergi dalam waktu dekat, siapa yang akan menemani Pamela dan anaknya.


Wanita sepuh ini masih ragu pada cucu menantunya, belum rela Pamela kembali bersama Leonard, lalu pria yang selalu datang itu nenek juga meragukannya.


Selalu berharap diberi umur panjang dan sehat, hanya itu keinginan Nenek Pamela demi menjaga cucu dan cicitnya.


“Nenek, apa yang nenek pikirkan?”, tanya Pamela menyentuh lengan neneknya.

__ADS_1


“Tidak ada Pamela, nenek bahagia”, jawabnya bohong, menangis dalam diam.


**


Kota Madrid


Selesai mengikuti acara amal, Leon menyandarkan diri pada dinding, memeriksa ponselnya yang baru saja menerima video. Pamela tampak semakin bercahaya dan berseri, senyumnya menghipnotis seorang Leonard. Pria kejam ini tersenyum sendiri, dan beberapa kali menggelengkan kepala.


“Ck, apa dia sakit sampai tersenyum sendirian? Aku harap ya, dia sakit jiwa”, ketus Dylan baru saja keluar dari toilet.


“Bos, anda bicara sendiri lagi? Bos baik-baik saja?”, tanya asisten pribadi yang cemas tuannya mengalami gangguan jiwa.


“Hah, kau berisik. Kita kembali ke kantor”, berjalan memasukan satu tangan ke dalam saku, mantan casanova ini sengaja menyenggol kaki Leon dengan sepatunya.


“Oh aku sengaja, lain kali jangan diam di tempat umum seperti ini, menghalangi saja”, sinis Dylan, berjalan diikuti asisten pribadi.


Sontak Leon berdiri tegak, mengangkat dagu semakin tampak jelas wajah arogan dan kejamnya, derap langkah kakinya mantap mendekati Dylan, dengan sekali senggol pada bahu, Leon mampu membuat Dylan kehilangan keseimbangan dan menyentuh lantai dingin di bawahnya.


“Ck pria lemah”, cibir Leon dengan sudut bibir berkedut tipis.


Penuh percaya diri Leon melangkah, menjemput Nyonya Torres di mansion utama, “Pria lemah seperti itu tidak layak menjadi penggantiku, hah berani sekali. Dasar b0doh”, desis Leon.


“Alonso, buka pintu. Jemput mom di mansion”


“Siap Tuan Muda Leon”, Alonso gesit melaksanakan perintah tuan muda yang tengah jatah hati ini.


Leon yakin saat ini Dylan pasti mengatakan sumpah serapah padanya, dua pria yang sama-sama tidak bisa mengatur emosi dan selalu mengandalkan kekuasaan serta uang.


“Jika aku tidak bisa mendapatkannya kembali, tak akan aku biarkan Pamela dan anakku jatuh pada pria lemah sepertimu, Dylan”, desis Leon.


“Tuan, apa anda ingin melihat Nyonya Pamela memeriksa kandungannya?”, tanya Alonso yang baru saja mendapat sambungan langsung CCTV.


“Berikan padaku”, rebut Leon secara paksa.


Di layar itu , sangat jelas Pamela dibantu perawat menyibakkan dress hamil sampai dada. Degup jantung Leon semakin tidak beraturan, menatap perut buncit yang semakin besar dan layar besar yang menampilkan gambar USG jelas anaknya.

__ADS_1


Leon semakin tercekik kala mendengar suara detak jantung anaknya, satu tangan menyentuh dada yang terasa nyeri. Tersenyum miris, anak yang tidak ia harapkan kehadirannya lalu tega mengatakan akan membunuhnya secara langsung kini sukses memporak-porandakan seluruh perasaannya.


Bahkan di layar itu sangat jelas struktur wajah bayi dalam kandungan Pamela, hidung mancungnya mengalihkan perhatian Leon. “Sebelum lahir saja, wajahnya mirip denganku”, gumamnya sangat pelan.


“Apa anak ini bisa memaafkan dan menerima ayahnya?”, tanya Leon pada diri sendiri.


“Kapan aku bisa bertemu dan menyentuhnya?”


“Hah semua ini membuatku gila, Pamela kau membuatku sakit berkali-kali”


Alonso yang berada di kursi depan, hanya menghela napas dan menatap lurus jalan menuju mansion utama. “Nyonya lebih sakit dari pada anda, tuan”, kata hati Alonso.


Leon masih fokus pada layar pipih di tangannya, tapi seketika riak di wajahnya berubah menjadi kesal.


“Kenapa selalu menghalangi?”, mengepalkan tangan.


“Apanya tuan? Ada yang salah?”


“Nenek Pamela menghalangi kamera. Pasang lebih banyak lagi Alonso, aku tidak ingin terhalang apapun”, geram Leon dan pada akhirnya ponsel mahal Alonso menjadi korban.


PRAK


Leon membanting benda itu ke arah dashboard.


“TIDAAAAAK, itu baru ku beli satu minggu yang lalu”, tangis Alonso dalam hati.


“Kau tidak perlu menangis ponsel rusak, beli saja lagi. Gajimu satu bulan lebih dari cukup”, ucap Leon, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Alonso.


“Tapi Tuan Leon, itu edisi terbatas”, suara Alonso tercekat, takut dan sedih bercampur jadi satu. Tuannya ini benar-benar keterlaluan sampai merusak barang milik orang lain.


...TBC...


 


 

__ADS_1


__ADS_2