
BAB 44
Beberapa hari menghabiskan waktu di Maldives, Leon dan Pamela telah kembali ke Kota Madrid. Leon disibukkan dengan sejumlah kegiatan bisnisnya dan Pamela hanya bisa terkurung dalam sangkar emas milik Leon, ia hanya bisa berjalan-jalan di penthouse. Kali ini Leon memperketat keamanan, ia tidak akan membiarkan istrinya bertemu Dylan sedetik pun, tentu ini membuat Pamela kesulitan karena tidak bisa menjenguk neneknya.
Sungguh sampai kapan hidupnya akan tetap seperti ini tidak ada perubahan, setiap hari hanya menjadi pelayan seorang Leonard dan dilupakan begitu saja setelah keinginan pria itu selesai. Pagi ini ketika Leon hendak keluar penthouse, Pamela hanya bisa menatap nanar pada punggung suaminya. Pamela mendengar jika malam ini Leon akan mengunjungi Megan di apartemen miliknya, ia tidak mengerti kenapa jika Leon mencintai Megan harus tetap mempertahankan pernikahan ini.
“Huh, kenapa mereka selalu berada disana”, keluh Pamela melihat beberapa pengawal pria dan wanita. Andai saja ini bukan gedung bertingkat yang sangat tinggi, pasti Pamela akan melompat keluar, tapi sayang ia tidak bisa.
Pamela selalu membawa kemana pun ponselnya, ia khawatir pihak rumah sakit menghubungi sewaktu-waktu dan ia harus segera menerima sambungan telepon itu. Tepat sekali bukan, baru saja mendarat duduk di sofa, dering nyaring terdengar bertuliskan nama penelepon ‘rumah sakit’. Sigap Pamela menerimanya dan tercenung mendengar penuturan bagian informasi, air matanya tanpa permisi jatuh.
Benar, ia ingin pergi sekarang juga mendengar kabar kondisi neneknya kembali memburuk pasca operasi. Bola mata indahnya menghadap pada kedua pengawal yang berjaga di pintu, bagaimana pun caranya Pamela harus keluar dari penthouse ini tak peduli jika pengawal itu pada akhirnya akan menyeretnya pulang yang jelas ia harus memastikan keadaan neneknya lebih dulu.
“Nenek, ku mohon bertahanlah. Jangan buat pengorbananku menjadi sia-sia”, meremat pakaiannya, seraya berpikir bagaimana caranya keluar dari sini.
Tiba waktu makan siang dan istirahat, hanya ada satu penjaga yang diam di dekat pintu keluar, mereka bergantian dan dengan tatapan terus mengawasi pergerakan nyonya muda yang sedari tadi hanya diam di ruang tamu.
“Ah ya”, Pamela mendapat ide, ia segera menuju ruang penyimpanan dan mengambil obat tidur dari dalam kotakbobat mengambil beberapa pil. Suka tidak suka Pamela harus menggunakan cara licik untuk keluar dari jerat emas milik Leon, biarlah nanti masalah suaminya marah atau tidak yang terpenting sekarang adalah neneknya.
Pamela menghancurkan beberapa butir obat tidur dan diam-diam menghampiri asisten rumah tangga yang sibuk mengolah makanan. Pamela menaburkan obat tidur dalam masakan, sampai asisten rumah menoleh dan memergokinya tengah berdiri dekat kompor.
“Nyonya, apa yang anda lakukan? Jangan nyonya, tuan bisa marah. Biar saya yang memasak”
“Huh, untunglah dia tidak curiga”, Pamela bernapas lega, tapi dirinya harus menunggu sampai kdua pengawal terlelap.
.
__ADS_1
.
Memastikan pengawal yang menjaga pintu masuk tergeletak di lantai, Pamela keluar terburu-buru sebelu seorang pengawal lainnya menyadari apa yang terjadi pada rekan mereka. “Pamela kau harus lebih cepat lagi”, entah kenapa pergerakan lift ini begitu lamban rasanya.
Sampai pintu besi terbuka Pamela tergesa berlari sekuat tenaga keluar gedung apartemen, masa bodoh semua orang memperhatikannya dengan tatapan aneh.
BRUK
“Nona sebaiknya kau hati-hati”, ucap seorang pria yang Pamela tabrak di depan pintu kaca masuk gedung.
“Maafkan aku tuan”, mengatupkan kedua tangan. Sedetik kemudian Pamela memicingkan kedua matanya dan melihat wajah tidak asing di depannya ini. “Tuan Antonio”, pekik Pamela.
“Nona, ummm Nona Pamela kenapa anda berlari seperti itu?”, heran Antonio yang baru saja tiba, menyerahkan beberapa kiriman bingkisan untuk Leon pada bagian informasi. Asisten pribadi Nyonya Torres ini tidak mendapat izin untuk masuk penthouse milik Leon.
“Tuan, tuan aku mohon tolonglah aku sekali ini. Aku harus ke rumah sakit menjenguk nenekku yang sedang sakit. Bisa anda mengantar? Aku mohon tuan”, Pamela selalu menoleh ke belakang khawatir pengawal Leon memburunya.
“Apa nyonya yang bersama anda tempo lalu baik-baik saja? Aku sangat ingin berterima kasih padanya”, Pamela merasa aman bersama Antonio setidaknya pria kekar ini sepadan dengan pengawal yang Leon bayar.
“Nyonya rajin melakukan check up kondisinya terkadang menurun, dan aku harus tepat waktu tiba di sana jika tidak nasibku akan sangat buruk nona”, kelakar Antonio mengingat betapa cerewetnya Nyonya Besar Torres itu.
.
.
Pamela mengucap banyak terima kasih pada Antonio yang menolongnya, ia tergesa berjalan masuk dan tidak sengaja berpapasan dengan majikan Antonio.
__ADS_1
“Sepertinya aku mengenalmu, nona. Siapa namamu?”, tanya Nyonya Torres yang mulai mengalami gejala pikun.
“Aku Pamela, nyonya”, Pamela tersenyum dan hendak pergi tapi tangan ibu dari suaminya mencekal Pamela. “Maaf nyonya aku harus pergi, karena nenekku sedang membutuhkanku saat ini”, suara pilu dan bergetar Pamela.
“Ah ya tentu, aku ingin ikut denganmu Pamela, bolehkah?”.
Pamela menyetujui permintaan Nyonya Torres lagi pula ia tidak mau buang waktu hanya untuk berdebat dengan seorang ibu.
Pamela menangis di depan ruang ICU, ia mengintip dari kaca kecil di tengah pintu melihat bagaimana banyaknya alat terpasang pada tubuh keriput neneknya. “Nenek”, lirih Pamela menundukkan wajah dan menangis.
Nyonya Torres yang merasa iba, memeluk wanita cantik istri dari putranya ini. Menenangkan Pamela, menepuk lembut punggung Pamela yang bergetar hebat. “Menangislah Pamela, tumpahkan semua apa yang kamu rasa”, tutur Nyonya Torres begitu lembut.
“Nyonya, nenek ku, aku berjuang dan bertahan hidup karena nenek. Banyak hal yang ku korbankan hanya untuk nenek”, isak tangis Pamela air matanya membasahi pakaian mahal ibu mertuanya.
“Oh sayang tenanglah, Pamela apa tidak ada keluargamu yang lain?”.
“Tidak ada nyonya”
Nyonya Torres merangkum kedua tangan Pamela, menggenggamnya erat dan menyalurkan kasih sayang seorang ibu pada putrinya. “Anggaplah aku ibu mu Pamela, aku tidak memiliki anak perempuan. Hanya seorang putra yang bahkan tidak mengingat ibunya”, pungkas Nyonya Torres.
“Anda sangat baik nyonya, aku berterima kasih”, Pamela terus menangis dan tak kuasa menahan haru, ditengah dunia tidak adil padanya masih ada orang asing yang bersikap baik padanya.
“Nyonya Torres membimbing Pamela duduk di sofa ruang tunggu, banyak bercerita tentang putranya yang angkuh, arogan namun tetap manja. Pamela merasa semua mirip dengan suaminya tetapi ia tepis karena Loen bukanlah pria manja.
“Pamela, aku harus pulang. Lain waktu datanglah ke mansion, aku perintahkan Antonio menjemputmu, dan kau harus berkenalan dengan putra tunggalnku, ku harap kalian berjodoh”, binar cahaya terpampang dari wajah Nyonya Besar Torres.
__ADS_1
“Maaf nyonya, aku sudah menikah”, Pamela tersenyum kaku mengakui status yang dunia tidak tahu itu.
...TBC...