
BAB 54
FLASHBACK
“Huh huh huh huh”, suara napas seorang remaja pria bersembunyi di balik pohon besar. Kakinya terluka karena terjatuh saat berlari.
Aleandro Leonard Torres, menyaksikan sendiri bagaimana satu pengawal yang menemaninya terbunuh, peluru tepat bersarang pada dada kiri pengawal itu. Leon remaja pun berlari sekuat mungkin hingga memasuki semak dan hutan, sampai tubuhnya terguling, kakinya terkena batu.
“Aku harus kemana?”, lirih Leon, netra biru safirnya memperhatikan sekitar, tidak tahu arah apapun. Ini tempat asing, dari langit yang ia lihat dapat dipastikan jika hari sebentar lagi berubah gelap.
Leon mendengar beberapa orang berteriak memanggil namanya “Hey bocah, keluar kau, ikutlah kami. Kami akan menemukan mu bocah nakal”.
Tubuh Leon kecil gemetar, peluh sebesar biji jagung memenuhi wajahnya, rasa sakit di kaki Leon tak tertahankan, ia pun lemas tidak makan apapun sejak siang ini. Leon berharap kedua orang tuanya segera datang, sungguh ia ketakutan saat ini.
Leon terkesiap mendengar suara ranting patah di dekatnya, napasnya tertahan dan jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Ingin berlari tapi kaki Leon begitu sakit, belum lagi kemana arah keluar hutan. Ia buta akan semuanya, terbiasa hidup dalam pengawasan pengawal dan nyaman membuat Leon tak bisa apapun.
Leon menoleh ke sisi kiri, tercengang melihat anak kecil yang usianya jauh lebih muda sedang memegangi banyak ranting. “Hey kau pergilah”, usir Leon bagaimana bisa anak kecil ada di hutan, pikirnya. Apa jangan-jangan anak itu juga tersesat seperti dirinya, tapi dilihat dari pakaian tidak mungkin.
“Kakak sedang apa disini?”, suara polos dan cempreng khas anak perempuan cukup keras.
“Ssssst, jangan berisik anak kecil, aku sedang bersembunyi”
“Oh bermain petak umpat, aku boleh ikut?”, senyumnya manis dengan deretan gigi rapi, putih bersih.
Alih-alih menjawab, Leon malah meninggalkan gadis itu dan menulikan telinga. Ia enggan tertangkap dan mati di tangan para penculik, menahan kakinya yang mati rasa, hanya bisa tertatih dan jatuh berkali-kali.
“Hey kau lepas”, hardik Leon yang terkejut lengannya berada di atas bahu anak kecil itu.
“Aku akan menolong kakak, kata nenek kita harus saling membantu”, senyumnya polos.
“BOCAH TENGIK KELUARLAH SEKARANG JUGA”, suara itu semakin jelas terdengar dan dapat dipastikan mereka juga semakin dekat dengan keberadaan Leon.
“Orang jahat”, seru Pamela. “Ayo kak, lewat sini”, ajaknya melewati semak di depan.
Semakin tidak mengerti kenapa anak sekecil ini bisa berada dalam hutan dan ya kini keduanya masuk dalam permukiman kumuh, ini membuat Leon alergi juga mual.
__ADS_1
“Ayo ka cepat, penjahat itu tidak akan sampai kesini”, senyumnya, karena pagar besar yang tadi mereka lewati hanya memuat tubuh anak kecil saja atau orang bertubuh kurus seperti Leon.
“Dimana kantor polisi terdekat?”, tanya Leon menatap manik jernih yang berkedip di depannya.
“Jauh”
“Apa?”
“Tapi aku punya ide”, ucapnya tertawa.
Leon mengikuti langkah kaki kecilnya, dan semakin dekat dengan jalan raya.
“Paman, boleh tidak aku ikut ke kota, aku mau bertemu nenek”, memohon serta mengiba, ya walaupun diusianya yang masih kecil ia biasa hidup sendiri dan mandiri, dari pagi hingga malam selalu menunggu neneknya pulang.
“Tentu boleh, paman akan mengantarmu kesana, siapa dia?”, menelisik penampilan berantakan Leon, tampak asing wajahnya namun dari gaya rambut dan style baju bisa disimpulkan bahwa anak laki-laki itu bukan orang sembarangan.
“Antar kakak itu ke kantor polisi ya paman”
“Baiklah ayo naik”
Ia yang penasaran bertanya bagaimana bisa gadis kecil berada dalam hutan sendirian dan sangat hapal jalan pulang, benar-benar tidak masuk akal.
“Aku terbiasa, hutan tempat mainku”, senyumnya begitu manis dan polos. “Ah ini, kata nenek kita harus membalut luka supaya tidak terkena kuman”, ucapnya melepas pita panjang yang mengingat rambutnya, lalu dengan seadanya merawat luka di kaki Leonard.
“Aaarghhh, oh ini tidak sakit”, bohong Leon tak ingin dianggap lemah. “Ah ini, aku hanya memiliki ini sebagai bayaran, terima lah”.
“Waaaah, terima kasih kakak tampan, aku suka baca dongeng”, menerima buku itu dengan binar bahagia, walau terkena noda darah tidak masalah.
FLASHBACK OFF
Leon membuka buku yang memiliki arti penting dalam hidupnya, bahkan jejak noda darah pun masih terlihat meski telah di bersihkan. Matanya menatap tanpa arah, membaca tulisan berantakan di sampul buku ‘Milik Pamela dari kakak tampan bermata biru’.
“Bagaimana bisa?”, gumam Leon.
Dirinya langsung memerintahkan Alonso mencari informasi terkait buku dongeng yang ditemukan di kamar usang Pamela.
__ADS_1
“Semuanya harus kau dapatkan besok, aku tidak peduli apapun, kerahkan semua anak buahmu”, perintah Leon tegas dari dalam mobil.
Buku yang hanya dimiliki beberapa orang di dunia ini adalah cetakan terbatas, apa mungkin Pamela kecil mencuri dari rumah orang lain. Namun goresan pena di sampul buku, tak bisa dipungkiri membuat Leon terbang pada masa lalu.
Bukankah gadis kecil itu selama ini wanita yang ia cintai? Memang katanya buku dongeng hilang saat perjalanan pulang, tapi kenapa bisa ada di rumah kumuh Pamela.
Beragam pertanyaan mengusik kepala Leon, kini ia harus mencari tahu sesuatu yang mengganjal hati. Leon putuskan malam ini pulang ke mansion, ia mencari pita rambut yang telah usang tersimpan rapi dalam kotak kaca.
“Siapa diantara kalian yang menolongku ?”
Leon terus bertanya-tanya, rasanya tidak sabar menunggu pagi datang. Dirinya yakin akan menemukan jawaban esok hari, dan ingin segera memejamkan mata. Tapi suara dering ponsel mengganggunya.
“Ya ada apa?”
“Suruh dia gunakan uangnya, kalau tidak mau batalkan semua”
Tegas Leon pada penelepon itu, semua akan tuntas dalam waktu dekat. Tidak ingin berlarut dalam semua yang dimulainya dan kini semakin membuatnya bingung.
.
.
Tok...tok
“Tuan muda, Tuan Alonso datang mencari anda”, suara kepala pelayan samar namun telinga Leon menangkapnya dengan jelas.
Sigap ia mencuci muka dan memakai pakaian yang semalam dibukanya, tergesa menuruni anak tangga sampai membuat Nyonya Torres curiga.
“APA LAGI?”, serunya mencegah Leon turun, benar-benar salah satu sifat Nyonya ini menurun pada putra sematawayangnya.
“Apa model itu? Awas kau kalau sampai menikahinya, ku buat kalian menderita, jangan menganggap ku remeh karena sudah tua”, ancam Nyonya Torres, dan Leon jengah akan sikap ibunya yang satu ini, gemar mengancam juga menggunakan kekuasaan untuk segala sesuatunya, ah dia memang tidak bercermin bukankah dirinya pun sama selalu menggunakan kekuasaan menekan seseorang.
“Itu Alonso. Apa mom pikir sekarang juga kalau aku menyukai Alonso?”, seru Leon, langkah kakinya terhalang.
“Ah begitu, temui pemuda itu, aku pikir model yang tidak jelas itu”
__ADS_1
...TBC...