
BAB 40
Pesawat Jet milik Leon telah landing beberapa menit lalu, namun Leon memilih menunggu istrinya terbangun dari tidur. Perjalanan udara pertama kali bagi Pamela memang melelahkan, ia sempat ketakutan dan memeluk lengan Leon dengan erat
Pria kejam itu mengajak istrinya ke dalam kamar dalam pesawat, namun siapa sangka Pamela memeluk Leon. Memejamkan mata ketakutan, takut jika sewaktu-waktu pesawat jatuh seperti cerita film.
Leon menikmati wajah cantik dengan rambut curly khas Pamela, merapikan anak rambut yang menghalangi kening wanitanya. Dinilai dari fisik memang Megan di atas Pamela, namun istri Aleandro Leonard ini memiliki wajah yang lembut.
“Alonso, siapkan mobil sekarang juga”, perintah Leon melalui telepon.
Leon menggendong tubuh Pamela turun dari pesawat, dan masuk mobil untuk menuju hotel milik putra kedua Tuan Marquez. Leon pun memiliki villa pribadi di Maldives, untuk menghormati Tuan Marquez Leon hanya akan menginap beberapa hari saja di hotel.
Pamela merasakan pergerakan pada tubuhnya, “Hah, aku dimana?”, teriaknya kaget, semula dalam pesawat kini di dalam sebuah mobil tengah melaju cepat.
“Tidak perlu berlebihan, dasar kampungan”, sinis Leon melihat istrinya kebingungan.
“Tapi tuan ini dimana? Anda tidak akan menjualku kan?”, tatap Pamela waspada, benar-benar ia takut Leon menghukum dengan menjual dirinya pada pria asing.
“Jaga mulut mu, semua yang ada pada dirimu adalah milikku Pamela, ingat itu. Aku tidak kekurangan uang sampai harus menjualmu”, Leon melepas tangan Pamela dari lengannya.
Tiba di area parkir hotel, Leon melarang Alonso dan pengawalnya menurunkan koper mereka, dan memerintah Pamela membawa ketiga tas itu sampai kamar.
“Kau. Bawa semua tas itu. Tidak ada yang gratis di dunia ini”, desis Leon.
“Hah aku? Tapi tuan bagaimana bisa aku menaikannya sampai ke boat?”, tanya Pamela, karena untuk mencapai penginapan mereka harus menggunakan perahu.
“Kau memiliki kepala dan berisi otak, gunakan berpikir bukan bertanya”, Leon berjalan lebih dulu membiarkan sang istri yang kerepotan membawa koper. Bahkan Pamela nyaris terjatuh ketika roda kecil tas menyentuh jembatan kayu.
“Benar Pamela, kamu jangan senang karena Leon mengajakmu ke Maldives. Buktinya sekarang kamu rasakan sendiri. Ku yakin ini belum seberapa”, gumam Pamela, ia seperti pelayan pribadi Leon. Alonso dan beberapa pengawal hanya berjalan di belakang Pamela. Bukan tidak ingin membantu tapi ancaman kehilangan mata pencaharian di depan mata.
“Tuan apa ini masih jauh?”, tanya Pamela berkeringat.
__ADS_1
“Penglihatan mu masih bagus, bukan?”, dingin Leon.
Usai perjalanan air yang cukup singkat, Pamela dan Leon tiba di penginapan dengan pemandangan alam sungguh indah. Lautan biru dan jernih memanjakan mata, Pamela pun takjub dengan keindahan alam yang sebelumnya hanya bisa ia lihat di dalam layar smartphone.
.
.
Malam hari, Tuan Muda Marquez mengundang semua tamunya untuk makan malam di salah satu restoran. Leon telah rapi menggunakan setelan jas mahalnya, sepatu pantofel seharga satu unit mobil pun menyempurnakan penampilannya.
“DASI”, perintah Leon pada Pamela. “Pasang dasinya, Pamela”, geram Leon karena istrinya hanya menyerahkan dasi begitu saja.
“Iya tuan maaf”, Pamela memutar kedua bola matanya, mendengus kesal.
“Hey, kau dilarang menunjukan wajah jelek seperti itu lagi”, jari telunjuk Leon menempel erat di dahi istrinya.
“Ah”, pekik Pamela, Leon meraih pinggangnya hingga menempel dan ia mulai memasang dasi untuk suami kejamnya ini.
Leon hanya menginginkan Pamela saat memerlukannya saja, dan itu tak akan pernah berubah. Di atas penderitaannya, Pamela selalu ingin berlari dan meninggalkan semua kemewahan yang ada.
Pamela hanya menatap air laut yang tenang dari depan kamar. Apa yang harus dirinya lakukan agar Leon merubah sikapnya dan menerima dirinya? Harapan itu selalu ada namun Pamela enggan menggantung nasib pada tangan dan hati suaminya.
Semilir angin malam di atas laut ini sedikit membuatnya kedinginan, Pamela melangkahkan kaki dengan tatapan tertuju pada lautan luas. Ia menggosokkan kedua tangan pada lengannya yang merinding.
“Eh”, perkik Pamela tertahan, seorang pria melepas jas mahalnya dan memasang di bahu Pamela.
“Dingin bukan?”, senyumnya hangat seperti mentari pagi.
Dylan adalah salah satu tamu undangan Tuan Muda Marquez, bahagia saat melihat wanita pujaannya berjalan sendirian di malam yang dingin ini. Ia pun senang bukan main, rupanya keputusan Dylan untuk kembali pada perusahaan keluarga memang tepat. Buktinya undangan yang seharusnya dihadiri Tuan Manassero bisa ia ambil alih dan bertemu Pamela.
“Dylan, kamu disini?”, tanya Pamela tak percaya.
__ADS_1
Semula Pamela berharap suaminya lah yang bersikap hangat namun rupanya khayalan wanita cantik ini sirna sudah. Leon tak akan pernah memperlakukan dirinya layak seorang istri.
“Tentu saja kamu lupa siapa aku? Dylan Manassero”, seringai Dylan menautkan jemari dengan Pamela. “Oh ya ampun Dylan kenapa dirimu selalu menyukai dan jatuh hati pada milik orang lain?”, tanyanya dalam hati.
Pamela menarik kuat tangannya, ia tidak mau menambah beban hidup yang sudah berat semakin berat dan sesak. “Hentikan Dylan”, menjaga jarak dari Dylan. “Tentu saja aku tahu, kamu juga diundang dalam acara ini kan?”, Pamela melirik ke arah lain, sungguh ia takut Leon datang tiba-tiba dan memberinya hukuman.
“Aku adalah pria terkaya nomor 3 dan kau harus tahu Pamela, bahwa pria itu berteman denganmu”, ucap Dylan menggebu, “Juga mencintaimu”, tertahan pada bibirnya.
“Terima kasih Dylan sudah mau berteman dengan rakyat biasa sepertiku”, Pamela tersenyum kaku.
‘EHEM”, suara dehaman keras mengganggu Pamela dan Dylan.
“Oh Tuan Muda Torres, apa kabar? Kurasa anda beruntung didampingi wanita cantik seperti Nona Pamela. Tapi sayang tidak anda perlihatkan pada dunia berlian yang anda miliki”, ucap Dylan menantang Leon.
Kedua pria tampan ini saling beradu pandang, tajam, menusuk dan dingin. “Sebaiknya kau pergi”, desis Leon.
“Ku pikir anda akan membawa sampah yang ku buang tapi ternyata anda sangat cerdik Tuan Muda Torres”, Dylan pun berlalu dan menyenggol bahu Leon.
“Kurang ajar”, mengepal tinju di sisi badannya, dan detik ini juga Leon menyeret paksa Pamela, meremat kuat jemari tangan Pamela yang tersentuh Dylan. Menutup pintu kamar dan menguncinya.
“Apa yang kau lakukan dengan pria brengsek itu, hah?”, bentak Leon , menghempas kasar tubuh Pamela pada sofa.
“Aku....aku tidak melakukan apapun dengan Dylan, kami tidak sengaja bertemu, tuan”, jawab Pamela mengusap sikut yang membentur sisi keras sofa.
“Ck, DYLAN? DYLAN?”, Leon mencengkram kuat rahang Pamela. “Hubungan apa yang kalian miliki, hah seakrab itu kau dengan pria sialan sepertinya?”.
“JAWAB AKU PAMELA !!!!!”
...TBC...
__ADS_1