
Bab 91
Usai melepas rindu dan meleburkan cinta jadi satu, Leon tidak melepaskan istrinya begitu saja ia memeluk erat tubuh mungil Pamela menjadi padu dengannya tanpa jarak sedikit pun, bahkan celah untuk angin saja tidak ada.
Kenapa dia baru sadar jika sejak awal memang menginginkan Pamela dan memiliki perasaan padanya?
Kenapa Leon tidak mencari tahu kemana sosok anak kecil itu pergi, hingga mempercayai Megan dengan cerita palsunya itu, ingatan gadis lain yang diambil oleh Megan.
Sungguh bodoh seorang Leonard, sampai jatuh cinta pada Megan dan menjadi gila karena cintanya itu hingga membuat wanita lain, wanita yang ia cintai sejak kecil menderita.
“Pamela, maafkan aku”
Leon mengecup kening istrinya yang basah dengan peluh lalu turun pada hidung dan bibir ranum itu, manis ya sangat manis. Pamela selalu membuatnya kecanduan sejak Leon menyentuh di malam pertama, hanya ego melambung tinggi dan membuatnya tertutup.
“Aku sudah memaafkanmu Leon, memberimu kesempatan terakhir tapi bukan berarti semua yang terjadi terlupakan, kenangan buruk itu tetap ada, aku akan pergi meninggalkanmu jika itu terjadi lagi”, tegas Pamela, dia kini punya kekuatan walau harus hidup miskin sekalipun. Neneknya sudah sehat dan tidak memerlukan biaya besar lagi untuk pengobatan.
“Ah jangan sayang, aku tidak akan membuat kesalahan lagi”, erat Leon memeluk istrinya, tidak akan ia biarkan menjauh.
“Kamu harus berjanji, tidak ada paksaan, tidak ada hukuman dan tidak ada wanita lain selain aku”, tatap tajam Pamela dan Leon tersenyum sumringah mendengar istrinya begitu protektif pada hubungan ini, ya Leon tidak peduli jika mendapat sikap posesif toh dia juga sama tidak mengizinkan Pamela dekat dengan pria lain.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu Leon?”
“Hem ya apa itu aku jawab”
“Tapi aku ingin kamu jujur, tidak ada kebohongan apapun”
__ADS_1
“Tentu saja apapun untukmu”
Lagi-lagi mengecup kening Pamela yang sangat candu baginya, seluruh tubuh Pamela memiliki daya tarik dan hormon feromon yang seringkali menggoda Leon untuk melakukan lebih bahkan tergila-gila seperti hari ini, tidak akan melepaskan dengan mudah istrinya.
“Leon, apa........apa, umm.... apa kalian, maksudku kamu dan dia pernah tidur bersama? Sebelum atau setelah kita menikah? Aku ingin kamu jujur”
Wanita memang makhluk yang penasaran akan sesuatu, sekalipun itu membuatnya sakit hati dan mengamuk, tapi menginginkan sebuah jawaban.
Pamela pun menguatkan telinga serta hatinya, jika Leon melakukan itu dengan Megan sebelum menikah, ia tidak perlu sakit hati, tapi jika Leon dan Megan.......sudahlah sebaiknya menunggu dan mendengar jawaban Leon bukan menebak atau menerkanya seperti ini.
“Kenapa kamu ketawa?”, ketus Pamela.
“Apa istriku ini tidak akan cemburu dan marah pada suaminya?”
“Leon jawablah, dengan jujur”
Pamela mengangguk paham, ia menatap kedua bola mata biru safir Leon.
“Megan adalah wanita yang baik ya pada awalnya, kami berkenalan saat ia baru mulai meniti karir di dunia model, saat itu aku juga perusahaan yang ku dirikan baru berkembang, belum terkenal seperti sekarang. Dia gadis cantik dan polos, aku melihatnya tanpa ambisi, tanpa sengaja mendengar penuturannya tentang menyelamatkan nyawa seorang remaja laki-laki saat berusia 6 tahun, dan aku langsung tertarik, ku pikir itu kamu”
“Karena statusku yang masih disembunyikan oleh dad dan mom, aku tidak bisa mengungkap semuanya pada Megan. Ku ajak dia bicara di cafe, sebagai kenalan tidak lebih, lama kelamaan kami saling terhubung apalagi sejak karirnya mulai menanjak, Megan kerap dikaitkan dengan para pebisnis muda, aku yang memiliki perasaan pada gadis kecil itu tentu saja menyatakan cinta padanya, hah malang sekali aku”, cibir Leon pada diri sendiri.
“Aku sangat menyayangi gadis itu ku jaga dia dan apapun keinginannya aku turuti, dia meminta banyak uang ya aku berikan, tapi satu hal dia tidak tahu identitasku yang sebenarnya. Dalam keluarga besar kami tidak ada anak yang lahir di luar pernikahan, tidak ada anak dari istri yang lain, tidak seorang wanita yang datang tiba-tiba membawa bayi dan mengaku itu keturunan kami. Kau mengerti maksudnya?”
Pamela bergeming masih setiap mendengar penuturan panjang Leon.
__ADS_1
“Aku tidak menyentuhnya apa lagi tidur dengannya, berciuman hanya itu saja, aku jaga dia baik-baik tapi wanita itu menyerahkan semuanya pada Dylan”, sinis Leon mengingat masa lalu yang kelam dan menjijikan.
“ Hanya kamu Pamela, hanya kamu perempuan yang ku sentuh pertama kali, hanya kamu yang bisa naik ke atas ranjangku, dan kamu satu-satunya wanita yang masuk ke dalam penthouse, tidak ada sembarang orang bisa menjangkau privasiku. Setelah kita menikah pun hanya kamu yang selalu kuinginkan, bukan wanita lain”
Pamela tertegun mendengarnya, ingin ia percaya tapi suaminya ini pernah masuk hotel bersama Megan tidak mungkinkah tidak melakukan sesuatu.
“Lalu hotel itu? Ketika kalian ke hotel?”, suara pelan Pamela.
“Tidak terjadi sesuatu seperti yang istriku pikirkan, hanya saling cumbu tidak lebih, aku tidak pernah menyentuh dan menggunakan barang bekas orang lain”, bisik Leon.
Pamela tetap cemburu dan menekuk wajahnya, tetap saja walau tidak melakukan penyatuan , Leon dan Megan berciuman, bodohnya lagi Pamela membayangkan itu, semakin kesal ia dibuatnya.
“Hey kenapa marah? Aku jujur”, Leon tidak mengerti kenapa wanita selalu mengeluarkan emosi tanpa sebab.
“Lalu kenapa kamu menikah denganku? Adakah alasan selain aku yang hanya menjadi alat balas dendam?”.
“Kamu ini gemar sekali mengorek luka masa lalu ya”, menekan hidung mancung Pamela sampai merah.
“Tentu yang pertama ku ikat Pamela Gerard dengan pernikahan agar tidak bisa kabur dariku, dan membuat Megan cemburu, memaksa dia kembali bertekuk lutut padaku dan tentu saja meninggalkan Dylan, ya akhirnya sesuai rencana, wanita penjilat itu hancur. Awalnya aku akan menceraikanmu setelah rencana ku berjalan tapi tidak bisa melakukannya dan sangat berat, hanya bersamamu aku mendapat ketenangan dan maaf kalau semua terlalu menyakitkan”, Leon menunduk bersalah.
“Aku juga terkejut dan tidak percaya mendapati seorang wanita, pelayan bar masih pe*****, mengejutkan dan aku bangga, bahagia menjadi yang pertama bagi istriku ini”, senyum Leon yang mengingat semuanya.
“Leon?”, Pamela membelai kedua rahang tegas suaminya. menyentuh tulang itu dengan hidung dan menggesek lembut menghirup aroma maskulin dari Leon.
Tanpa aba-aba Pamela melepas tangan Leon dari pinggulnya dan beralih duduk di atas perut sixpack, jemarinya bermain pada dada yang sedikit memiliki rambut halus itu, bergerak nakal mengikuti nalurinya saja.
__ADS_1
Tatapan lapar dan memohon nampak terlihat dari wajah Leon, dengan cepat pria kejam itu mengangkat dan menggeser tubuh sang istri ke bagian bawah, kembali menyatu kedua kalinya.
...TBC...