Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 37 - Pertemuan Pertama


__ADS_3

BAB 37


“Ah tas dan ponselku”, Pamela memegangi kepala dengan kedua tangan. Ia melirik pada kakinya, “Huh”, helaan napas kasar keluar dari bibir. Apa mungkin ini takdir? Leon memilihkan flat shoes dan ia harus turun di tengah jalan.


Seandainya saja Pamela tak membutuhkan uang lagi untuk biaya pengobatan nenek, pasti ia akan membawa pergi sejauh mungkin uang Satu Juta Euro miliknya. “Kenapa hidup ini sungguh tidak adil bagiku?”, tanyanya menendang kerikil kecil pada trotoar.


Bila ia menjadi orang kaya, pasti harga dirinya tidak akan terinjak-injak seperti ini. Sayangnya Pamela hanya wanita sederhana, pekerja keras yang menjelma menjadi Cinderella. Ya, hanya berbeda tipis keduanya berpacu pada waktu, jika Cinderella menunggu jam 12 malam, Pamela menunggu sampai Leon bosan lalu menendangnya entah kapan itu.


Uang memang segalanya bagi Pamela, ia merasakan getir dan pahitnya mencari satu lembar uang hanya untuk pengganjal lapar, apalagi dikala musim dingin mendera.  Pamela sebagai tulang punggung harus memutar otak dan mengeluarkan tenaga lebih untuk mendapatkan Satu Euro. Sekarang ia memiliki segalanya, tapi ada harga mahal yang ia bayar untuk itu semua.


Pamela hanya menangis dalam diam sembari langkah kakinya terus berjalan, ia berharap menemukan seseorang dermawan baik hati yang menolongnya.


Pamela bertanya pada seorang pramuniaga yang baru saja selesai menutup toko, ia ingin tahu dimana dan kemana arah menuju apartemen suaminya.


Terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai gelap, menggosok kedua lengannya yang terasa sangat dingin. Hujan deras pun turun mengguyur Kota Madrid, “Mengapa jauh sekali apartemen Leon”, Pamela kedinginan dan kelaparan, sedari siang ia belum menyantap apapun, menggosok kedua telapak tangannya, dan menelan saliva hanya bisa menyaksikan pengunjung restoran makan sup hangat.


“Lapar”, keluhnya mengusap perut, lalu sebuah ide gila muncul dalam pikiran, “Apa aku jual saja jam tangan ini, ah tapi tidak jangan Pamela. Tuan kejam itu akan semakin marah nantinya”, Pamela menggeleng kepala cepat.


Tubuhnya gemetaran, kulit tubuh dan wajah pucat pasi serta bibir membiru karena kedinginan. Langkah kaki mulai pelan, pandangan mata memburam terkena lalu lalang sorot lampu mobil. Nasib sial seolah belum pergi darinya saat dua pemuda menarik lengan Pamela hingga terjatuh. “Hey j***** serahkan jam tangan dan perhiasan mu”, teriak seorang pemuda.


“Apa? Tidak, tidak jangan”, tolak Pamela melindungi harta benda miliknya.


BUGH


BUGH


Kedua pemuda itu terkapar tidak berdaya, oh tentu saja dari segi postur mereka kalah dari pria yang menolong Pamela. Tidak, kali ini bukan Dylan, melainkan sosok tubuh kekar, tinggi menggunakan jas lengkap seperti tokoh mafia dari film.


“Tuan terima kasih”, Pamela menangis sesenggukan.


“Antonio,sedang apa kau?”, panggil suara wanita paruh baya.

__ADS_1


“Nona, sebaiknya anda pergi dari tempat ini karena kondisi malam hari tidak baik bagi wanita baik seperti anda”.


“Antonio, kau benar-benar, apa ingin ku pecat sekarang juga? Eh tunggu, siapa perempuan itu Antonio?”, tanya seseorang dari dalam mobil.


Pamela mengintip sejenak, bisa dilihat dari mobil yang ditumpangi pastilah ibu itu seorang yang berpengaruh di negeri ini.


Nyonya Torres kesal tak juga pengawal pribadinya menjawab, ia putuskan turun dan melihat apa yang tengah dilakukan Antonio.


“Oh, rupanya ada wanita. Antonio siapa dia?”


Antonio menjelaskan kejadian yang menimpa Pamela, wanita paruh baya ini pun merasa iba. Lalu mengajak Pamela memasuki salah satu restoran di sebrang jalan, memesan banyak makanan juga minuman hangat.


“Siapa namamu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tidak asing”, suara lembut keibuan mengalun memberi kenyamanan dalam dada Pamela.


“Pamela nyonya, sepertinya belum nyonya, ini pertama kali kita bertemu”, jawab Pamela begitu sopan pada Nyonya Torres.


Mengetahui kemana tujuan nyonya baik hati ini pergi, Pamela pun memohon menumpang dalam mobil mewah Nyonya Torres.


**


“Terima kasih nyonya atas kemurahan hati anda”, Pamela tersenyum hangat.


“Ah tunggu siapa namamu dan tinggal di unit mana?”, tanya Nyonya Torres sangat menggebu, ia telah jatuh hati pada pandangan pertama, menyayangi Pamela. Andai saja ia bisa memiliki anak lagi, pasti sekarang usianya sama seperti Pamela.


“Pamela, nyonya. Untuk unit mana, maaf saya tidak mengatakannya, karena...... karena saya hanya berkerja di sini. Permisi Nyonya”.


Pamela bergegas masuk lobby dan ya naasnya lagi ia melupakan kartu akses yang akan digunakan untuk masuk lift. “Huh bagaimana ini”, keluh Pamela lalu menghampiri bagian informasi meminta bantuan.


Sementara di area parkir, Nyonya Torres masih melihat ke dalam gedung memastikan sesuatu.


“Nyonya kenapa anda tidak turun? Bukankan mau bertemu dengan Tuan Muda?”

__ADS_1


“Terima kasih Antonio sudah mengingatkanku”, Nyonya Torres turun di ikuti Antonio menuju lift khusus.


Tiba di lantai atas, apalagi memasuki apartemen Leon yang masih gelap, wanita paruh baya ini menggeram kesal. “Leon, dimana kamu, Leon”, panggil suara khas ibu. “Kemana anak nakal itu, kenapa penthousenya gelap? Apa dia tidak mampu membayar energi lagi?”.


Memerintahkan Antonio menyalakan lampu, setelah semua terang dengan cahaya maksimal. Nyonya Torres tersentak melihat penampilan kacau putranya yang baru saja memasuki penthouse.


“Mom?”


“Leon?”


Ucap ibu dan anak itu bersamaan.


“Dasar anak nakal, dari mana saja kau ini? Apa pergi menemui j***** itu, hah. Katakan Leon?", memukul dada Leon sangat kuat dengan tas mahal seharga ratusan ribu Euro.


“Kenapa mom tidak memberi kabar akan berkunjung?”


“Untuk apa, hah? Apa kau ingin melakukan sandiwara di hadapanku? Dasar”


Leon yang sakit kepala karena tidak bisa menemukan Pamela, harus bertambah sakit pada telinganya yang berdengung mendengar suara bawel wanita yang telah melahirkannya.


Setelah mengantar Megan, Leon mencari istrinya ke tempat dimana ia menurunkan Pamela. Namun tak menemukan apapun, hingga ia memerintah anak buahnya untuk membawa Pamela pulang, hingga beberapa jam pencarian masih saja belum menemukan titik terang.


“Dimana kau Pamela?”, tanya Leon di pikirannya.


Leon mengantar Nyonya Torres keluar Penthouse lebih tepatnya sampai memasuki lift, entah antara beruntung atau tidak karena ketidakhadiran Pamela tidak membuat ibunya bingung. Apa jadinya jika Nyonya Torres memergoki Leon bersama seorang wanita dalam penthouse.


Alonso yang juga turun hendak pulang sontak terkunci menatap Nyonya Muda yang membuatnya kebingungan, dengan pasti Alonso melangkah menghampiri Pamela.


“Nyonya, sejak kapan anda disini? Kenapa tidak masuk ke penthouse?”


“Aku tidak bisa Alonso, kartu aksesku tertinggal dalam mobil”, cicit Pamela yang telah lelah menghadapi hari ini.

__ADS_1


Akhirnya Alonso membawa Pamela masuk penthouse, begitu iba pada nyonya mudanya. Tubuh Pamela seketika menegang melihat suaminya berdiri menatap tajam sesaat pintu terbuka.


...TBC...


__ADS_2