
BAB 83
Kota Jakarta
PRANG
“Eh, kenapa tiba-tiba jatuh?”, heran Pamela yang baru saja mengambil air minum, padahal ia menyimpan dengan sangat baik gelas itu tapi jatuh membentur lantai.
Pecahan gelas ini mengingatkan Pamela pada Leon yang selalu membanting alat makan jika tidak menyukai makanan yang dimasak olehnya.
“Kenapa ingat kejadian itu?”, melihat telapak tangan yang pernah terluka karena goresan pecahan gelas.
“Huh huh huh, Nyonya, ada apa? Biar saya yang membersihkannya”, ujar seorang pelayan yang keluar dari kamar mendengar suara berisik.
Selesai mengambil minum Pamela bergegas masuk kamar, dan bertepatan dengan tertutupnya pintu El menangis keras. “Bangun lagi”, keluh Pamela, karena ini sudah ketiga kalinya bayi gempal itu terbangun dan meminta jatah malamnya.
Tapi saat ini suara tangis El berbeda dari sebelumnya, dan Pamela kesulitan menenangkan. Anaknya itu tidak mau menyusu bahkan menolak dan ingin digendong sembari berdiri.
Pamela hanya melangkah dalam kamar, berkeliling pelan berharap El tidur, tapi masih tetap merengek hanya sekarang lebih lemah dan bisa dikendalikan.
“Ayo kita keluar kamar El, mama lapar”, Pamela menyentuh perut yang selalu meminta jatah dikala dini hari.
“Eh, mom. Ada apa keluar kamar?”, Pamela mengamati langkah kaki ibu mertuanya yang begitu tergesa seperti memanggil seseorang, wanita ini pun mencuri dengar apa yang disampaikan.
Rupanya Nyonya Torres mencari Antonio, dan beberapa pelayan untuk menyiapkan seluruh keperluannya detik ini juga. Wanita paruh baya ini mendapat kabar dari Alonso jika Leon terluka parah bersama Tuan Muda Manassero.
“Cepat Antonio, siapkan pesawat sekarang juga !!!!! Putraku yang malang, Leonard”, gelisahnya berjalan mondar mandir, sampai ruang keluarga yang sepi berubah menjadi ramai, kepala pelayan mencoba menenangkan Nyonya Torres yang menangis.
Langkah kaki Pamela menuruni anak tangga, menggendong El dalam dekapannya. “Mom, a-ada apa? Kenapa menyiapkan pesawat sepagi ini?”, penasaran ibu muda ini, sekaligus khawatir karena mendengar nama suaminya disebut.
“Pamela mom mohon, ikut mom pulang ke Madrid sekarang juga. Leonard membutuhkanmu. Dia........dia kecelakaan”, histeris Nyonya Torres.
Sontak mendengar penyataan mertuanya membuat tubuh Pamela limbung, nyaris menjatuhkan El dari pelukan, “Leon”, lirih Pamela.
.
.
__ADS_1
Pamela, Nyonya Torres, dan Nenek yang memangku El telah berada dalam pesawat yang siap lepas landas kembali ke asalnya tujuannya.
Kedua wanita berbeda usia dan memiliki arti istimewa bagi Leon itu sama-sama menangis, wajahnya memerah. Terutama Pamela, kalimat Leon terakhir kali dia ingat dengan jelas, dan merasa bersalah menolak pria yang nyatanya telah berubah.
“Maafkan aku Leon”, kedua tangannya meremat bagian dada.
“Leon bertahanlah, aku dan El pulang”, batin Pamela yang berharap ini semua bukan akhir dari kisah perjalanan hidupnya, dan Leon tetap hidup untuk membesarkan buah hati mereka.
Pamela duduk menyandar, dan melihat ke arah luar, pemandangan bandar udara yang sebentar lagi berubah menjadi terang, dan matahari akan terbit menghangatkan daratan dimana semua kaki berpijak.
Tapi berbeda, Kota Madrid pasti masih malam dan gelap, daratannya pun dingin menusuk tulang.
Putaran ingatan pertama kali bertemu Leon begitu jelas dalam kepala Pamela. Leon yang arogan dan tak kenal belas kasih memintanya menjadi istri hanya untuk membalas dendam pada Megan, dengan imbalan uang yang sangat banyak.
“Kamu benar-benar tidak memiliki rasa terima kasih Pamela”, makinya pada diri sendiri.
“Lihat”, pandangan ibu muda ini beralih pada neneknya yang duduk nyaman di sebarang.
“Nenek bisa sembuh dan bertahan hidup sampai sekarang karena uang, ya uang dari Leon. Pria itu tidak peduli uangnya aku gunakan untuk apa, tidak pernah sekalipun Leon terlambat mengirim uang setiap bulannya”, pipi mulus ibu Donatello Xavier dipenuhi kristal bening yang terus mengalir tanpa mau berhenti sekejap saja.
“Pamela?”, panggil neneknya.
“Iya nek”, menyusut air mata menggunakan punggung tangan dan mencoba tersenyum pada neneknya.
“Jangan paksa mengeluarkan senyum, nenek tidak mau kamu melakukan itu hanya untuk menutupi perasaan mu sebenarnya”
“Yakinlah Pamela, Tuan Muda Leon pasti akan baik-baik saja”, tegas Nenek yang sangat menyakini hal itu. Bahkan niatnya untuk menghukum Leon selalu tertunda karena cucu menantunya memang telah berubah menjadi kucing manis di depan Pamela.
“Boleh aku menggendong El”, pinta Pamela, wajah Leon yang tercetak di putranya semakin membuat sedih Pamela, khawatir pria itu benar-benar terluka dan tidak sadarkan diri selamanya.
“Maafkan mama El, mama egois”, menciumi pipi gembul itu bertubi-tubi, jika sesuatu terjadi pada Leon, pasti Pamela akan sangat bersalah.
Bersalah karena El belum sempat merasakan indah dan hangatnya sebuah keluarga utuh.
Lebih dari 10 jam dalam pesawat, dan hari yang telah berubah perlahan tidak serta merta menghilangkan rasa cemas Pamela dan Nyonya Torres.
Pamela hanya bisa terdiam, mempertanyakan bagaimana keadaan suaminya. Rasanya pesawat ini terbang sangat lamban, kalau boleh memilih bisakah ia memutar waktu sebentar saja.
__ADS_1
“Pamela kau ini benar-benar keterlaluan”, masih tetap menyalahkan diri sendiri.
Perbedaan waktu antara Asia dan Eropa sangat ketara, kini langit yang tadinya cerah perlahan berubah gelap, dan rintik hujan membasahi badan pesawat.
“Leon”
Sungguh hati Pamela yang sebenarnya tidak akan bisa dan sampai kapanpun tak pernah bisa hidup tanpa Leon. Begitupun Leonard yang kehilangan separuh nyawanya karena Pamela pergi meninggalkan semua kenangan.
Benci yang sebelumnya begitu menggunung berubah perlahan menjadi rasa cinta namun tertutup goresan luka yang diciptakan oleh Leon.
Leon memang bersalah, tapi apakah tidak layak mendapat kata maaf?.
Dan
Pamela membentengi diri agar tidak terjatuh pada lubang yang sama kedua kalinya.
Terjatuh pada harapan semu yang diberikan Leon seperti di masa lalu, ia pernah berharap dan menggantungkan hidupnya pada Leonard, semoga suatu saat Leon berubah dan mengakui keberadaannya. Lihatlah kini, bukankah ini yang Pamela inginkan? Namun luka di hati yang menghalangi semua.
“Maaf darimu aku terima Leon”, lirih Pamela dalam hati memeluk erta El.
Akhirnya pesawat berlogo Torres Inc tiba di tempat tujuan.
Nyonya Torres turun lebih dulu dan memeluk suaminya yang menunggu di ujung tangga.
Sementara Pamela menatap lurus dan kosong, ia sempat membayangkan semua ini mimpi dan Leon datang menjemputnya ke bandara.
“Nyonya akhirnya anda bersedia pulang”, tangis Alonso.
Asisten pribadi yang juga memiliki sifat dingin dan tanpa ekspresi ini menangis karena tuannya.
“Katakan Alonso bagaimana kondisi Leon, apa yang terjadi padanya?”, tanya Pamela dan Nyonya Torres.
“Tuan Leon, Tuan Leon........”, Alonso kembali mengeluarkan air mata.
...TBC...
__ADS_1