Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 87 - Bantuan El


__ADS_3

BAB 87


Pamela merenung dalam kamar dan kata-kata Leon merasuk dalam telinga hingga berputar-putar dalam otaknya.


Pria itu tidak berdusta sama sekali, sorot matanya saja berbeda tidak ada kebencian pada Pamela, hanya penyesalan mendalam yang terlihat dari wajah serta kedua manik biru safir Leonard.


“Kenapa setiap dekat dengannya aku selalu sedih?”, gumam Pamela


Selepas makan malam, Pamela langsung masuk kamar bersama El, melepas keinginan Leon untuk tidur bertiga. Lagipula Pamela takut luka di dada suaminya terkena kaki El yang tidak bisa diam saat lelap.


“Mama sayang El, kita tidur ya”


Lama Pamela berusaha membuat putranya tidur, tidak ada tanda-tanda El memejamkan mata atau mengantuk, bahkan anak ini merengek tidak jelas.


“Apa kamu mau tidur dengan Daddy?”, seolah mengerti El terdiam mendengar kata ‘daddy’, Pamela termangu, anaknya ini sangat menyayangi Leon. Sungguh luar biasa ikatan darah diantara mereka, bahkan Pamela yang mengandung selama 9 bulan saja kalah, anak ini lebih memilih bersama Leonard.


Perhatian Pamela terpecah mendengar ketukan pintu kamar, rupanya seorang maid menyampaikan pesan dari Leon yang menunggu Pamela di kamarnya, tuan muda itupun belum menyentuh makanan sama sekali sementara obat harus diminum tidka boleh terlambat.


Akhirnya Pamela melangkah terpaksa, menuruti keinginan suaminya malam ini. Kepala pelayan mengantar Pamela masuk dan ketika pintu terbuka tatapan Leon begitu dalam pada istrinya yang berjalan pelan sembari menggendong El.


Pamela melirik nampan di atas meja, makanan ini berubah sedingin es seperti suasana hati Leon yang mendapat penolakan dari sang istri.


“Bisa tolong hangatkan makanannya? Ini terlalu dingin untuk dimakan”, pinta Pamela pada kepala pelayan dan dengan sigap membawa makanan itu keluar untuk dihangatkan.


“Sepertinya kalian berdua tidak bisa dipisahkan, El tidak mau tidur, mungkin kamu bisa membantu aku”, ucapan Pamela ini seperti panah asmara bagi Leon, meminta bantuan  tentu saja akan dilakukan dnegan senang hati. Ternyata El benar-benar membantu daddy-nya untuk meluluhkan hati Pamela yang membeku.


“Aku harus membayar mahal pada putraku”, batin Leon bahagia.


Pamela mendekati ranjang dan seketika itu juga jantung Leon berdegup kencang tidak tahu malu, apalagi wajah cantik istrinya begitu polos.


“Tanganmu tidak sakit?”


“Tidak, aku sehat”


“Baiklah, ini El”

__ADS_1


Menyerahkan bayi gempal ke pangkuan ayahnya, dan lihat betapa senang bayi itu merasakan kehangatan kasih sayang dari ayah kandungnya.


Leon memeluk erat, menepuk pelan punggung El, menyalurkan kasih sayang. Tidak membutuhkan waktu lama, El terlelap dalam dekapan Leonard.


Kepala pelayan pun tiba mengantar makanan yang telah hangat, dihidangkan pada meja.


Buru-buru Pamela mengambil El dari tangan Leon, namun ditolak dengan alasan El belum nyenyak dan masih bergerak.


“Tapi kamu harus makan dan minum obat Leon, lihat ini jam berapa?”, menghela napas kesal.


“Kalau begitu gunakan kedua tanganmu, suapi aku. Aku tidak melakukan dua aktivitas sekaligus”, pinta Leon dengan sangat dan berharap Pamela menuruti kali ini, bukan memanggil kepala pelayan untuk melayaninya.


Rona bahagia terpancar dari wajah Leon, istrinya itu mendekat membawa nampan dan duduk di tepi ranjang. Kalau boleh, Leon ingin melompat sangat tinggi dan menyatakan kebahagiaannya saat ini, ya ibu dari anaknya mulai menyuapi makanan.


“Buka mulutmu”, senang hati Leon habiskan makanan yang disajikan, sengaja ia lama mengunyah makanan hanya untuk mendapat perhatian Pamela, rela tangannya kebas mendekap El yang berat.


Setiap satu suapan, Leon tatap lekat wanitanya dan menyunggingkan senyum. Semua bagai mimpi yang hadir dalam tidur, tapi ini terlalu nyata. Suara napas aroma parfum dan dentingan alat makan begitu padu dengan suara merdu Pamela.


Setelah makanan habis, Leon membaringkan


putranya tidur di tengah ranjang, bisa dilihat jika Pamela kelelahan dan mulai mengantuk. Leon tidak mau sampai terjadi dua kali istrinya memilih sofa.


Tanpa banyak debat dan mempermasalahkan semua kata-kata Leon, Pamela mulai merebahkan diri di atas ranjang Leon. Meskipun enggan, tapi kali ini entahlah dilakukan suka rela, apalagi dilihat sendiri bagaimana El sangat manja pada ayahnya.


“Semua ini aku lakukan demi El”, gumam Pamela.


“Ya aku tahu, makan kita akan lakukan demi anak kita, tidurlah Pamela”


Cukup satu kali tepukan tangan, lampu ruangan meredup, Leon dan Pamela gugup bukan main meskipun El ditengah-tengah keduanya, tapi berada dalam ruangan yang sama, di atas ranjang sama setelah sekian lama menciptakan sensasi berbeda.


Tangan Leon terulur pada bayi gempalnya tapi tanpa sengaja menyentuh tangan lembut wanita yang memang memeluk El lebih dulu.


Bagai tersengat listrik, Leon langsung menarik tangannya dan menyembunyikan dibalik selimut. Menikmati wajah cantik sang istri dibawah temaramnya cahaya kamar. Setelah melahirkan wanita itu menjadi lebih cantik berkali-kali lipat, sikap lembutnya sebagai ibu menambah kesan feminim.


Tanpa sadar Leon dan Pamela terlelap di sisi tubuh El, tapi tiba-tiba suara bayi merengek dan menangis mengusik tidur Leon yang baru saja memejamkan mata.

__ADS_1


Melirik ke samping, ternyata Pamela sedang menggendong El dan mencoba menyusuinya tapi bayi ini menolak, terus bergerak gelisah.


“Ada apa El? Apa posisi ini tidaku nyaman?”


Sigap Leon menyalakan lampu secepat kilat, hingga ia bisa melihat sesuatu yang menggoda dari balik piyama yang tidak terkancing itu.


“Kenapa disaat seperti ini, tidak jangan. Dia belum mau, tidak bisa memaksanya”, batin Leon mengalah.


“Apa dia selalu bangun malam?”


“Ya, bayi memang seperti ini”


Leon menatap sayang pada Pamela, rela meluangkan waktu istirahat hanya untuk mengurus keturunannya, wanita itu sampai mengabaikan jam tidur.


“Mulai sekarang aku temani, kamu tidak sendirian”, imbuh Leon menepuk pelan kaki mungil nan padat anaknya, seketika El berhenti merengek lalu mencari sumber nutrisi miliknya.


Jujur Pamela benar-benar merasa terbantu dengan hadirnya Leon, ia tidak kerepotan meredakan tangis dari bayi gempal ini.


“Apa masa awal kehamilan berat?”, tanya Leon memecah keheningan, ia membaca artikel jika periode berat kerap kali dialami ibu hami muda. Apalagi catatan medis Pamela yang mengalami pendarahan sebanyak dua kali, pasti tidaklah mudah yang dilalui wanita ini tanpa kehadiran Leon disisinya.


“Ya, lumayan. Aku hanya mual dan muntah”, jawab Pamela tidak ada nada dingin pada setiap katanya.


“Maaf”


“Apa?”


“Maaf karena tidak ada, maaf karena tidak menemanimu disaat yang sulit”


“Tidak apa”, jawab Pamela sedikit tersenyum membuat malam ini semakin membahagiakan bagi Leon.


“Apa dia sudah tidur?”, tanya Leon terus menepuk kaki padat El.


“Iya. Anak baik”, Pamela membaringkan El lalu tidur meluk putranya dan cepat larut dalam mimpi, sementara Leon menikmati dua wajah yang tak pernah ia sangka akan menemani hari-harinya ke depan.


“Tinggalan di sisiku selamanya Pamela”, Leon memindahkan El pada ranjang bayi.

__ADS_1


“Maafkan daddy El, tapi daddy perlu berdua bersama mama”, perlahan Leon mulai naik kembali ke atas kasurnya, membelai pelan wajah Pamela, mengecup punggung tangan berjemari lentik tanpa cincin pernikahan menghiasi.


...TBC...


__ADS_2