Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 53 - Ke Rumah Pamela


__ADS_3

BAB 53


Pamela membantu neneknya di dapur mengolah umbi-umbian yang diberikan oleh tetangga mereka, berbekal ilmu yang dipelajarinya selama menjadi istri Leon, Pamela mengubah ubi tersebut menjadi makanan yang berbeda.


“Wah Pamela, dimana kamu belajar ini semua? Ini cantik, nak”.


“Aku...... tuan muda itu membayar chef untuk mengajariku masak nek”, cicit Pamela kembali mengingat semuanya dan meneteskan air mata.


“Maaf seharusnya nenek tidak bertanya padamu. Sekarang ayo kita makan, ubi panggangnya sudah matang. Makanan itu simpan saja, kita akan memakannya nanti malam”


Pamela makan dengan lahap, ia melupakan banyaknya aturan ketika bersama Leon, tak ada garpu, sendok dan pelayan khusus, hanya mengambil dengan tangan saja terasa nikmat. Desa ini memang penghasil umbi-umbian yang memasok ke seluruh kota-kota besar. Musim dingin pun tidak berpengaruh, karena banyaknya rumah kaca untuk pembudidayaan tanaman.


Seorang dermawan dari kota yang membiayai semua petani supaya panen sepanjang tahun tanpa terpengaruh cuaca. Sungguh mulia bukan, seandainya banyak para dermawan di dunia ini, Pikir Pamela.


Sejak tinggal di desa ini, Pamela memiliki beberapa orang teman seusianya dan bekerja siang malam pada perkebunan. Entah Pamela harus beruntung atau tidak karena hanya ia satu-satunya perempuan muda yang tidak melakukan pekerjaan kasar di luar rumah.


“Kalau pemilik villa itu datang, nenek akan melamar sebagai pelayan di sana, kamu diam saja di rumah membesarkan anakmu”.


“Mana mungkin nek, lagipula nenek sudah lama tidak bekerja apa masih ingat bagaimana caranya?”. Gurau Pamela menyenggol bahu neneknya.


“Kau lupa Pamela, nenek mu ini pernah diangkat sebagai wakil kepala pelayan di rumah keluarga Stewart”, ucap Neneknya Pamela mengingat masa itu, sebelum Tuan dan Nyonya Stewart mengusirnya tanpa pemberian pesangon satu euro pun.


Semua karena hasutan nona muda mereka yang menuduh Nenek Pamela tidak benar bekerja serta berusaha mencuri perhiasan Nyonya Stewart, tidak mendekam dalam penjara saja sudah untung, pikir nenek.


“Nenek bantu aku menjaga anak ini, dia pasti sangat membutuhkan kasih sayang lebih nek”, Pamela memeluk erat tubuh keriput neneknya yang masih berjalan tegak.

__ADS_1


**


Hari kedelapan pasca kecelakaan, Leon kembali masuk kerja didampingi Alonso datang menjemputnya di mansion utama. Hari ini juga Leon memberikan tugas pada Alonso untuk menemukan keberadaan Pamela dan apapun tentangnya sampai hal-hal terkecil.


Alonso yang kebingungan bertanya sesuatu sampai memancing amarah Leonard. “Bukankah Nyonya aman dalam penthouse, tuan?”.


“Argh, kau tidak perlu banyak tanya hanya perlu melakukan tugas dengan baik, mengerti Alonso”, dan Leon ingin semua tentang istrinya ditemukan esok hari. Bagaimana pun dirinya harus cepat menemukan Pamela.


Tiba di Torres Inc, Leon melirik tajam pada Alonso, melihat kekasihnya duduk tenang dalam ruangan. Megan memeluk Leon, melepas rasa rindu dan cemasnya. Ia sedih dan terpukul tidak diizinkan masuk ke mansion padahal ingin sekali menjenguk kekasihnya.


“Maafkan aku sayang, tapi aku senang kamu baik-baik saja”, senyum Megan.


Kedatangan wanita itu kemari tentu untuk meminta uang pada Leon, karena satu minggu ini juga Megan hanya berdiam diri di rumah tidak belanja barang-barang branded atau berkumpul bersama para rekan modelnya.


“Sayang, bagaimana pertunangan kita? Kapan kamu akan mempersiapkan semuanya?”, tanya Megan.


“Bukankah ada Alonso, tugaskan saja dia untuk membantu persiapan pertunangan kita”, Megan meraba tubuh Leon, sontak Alonso melebarkan kedua matanya, bisa-bisanya wanita tidak tahu malu ini memberi saran gila.


“Dia pikir aku event organizer?”, sangar Alonso dalam dada, ia berharap tuannya tidak mengikuti saran menjijikan itu.


“Alonso sibuk, dia memiliki tugas khusus, aku rasa kamu mampu melakukannya. Bekerjasama lah Megan,  ini juga untuk kebaikan kita”, tutur Leon tetap fokus pada layar laptop yang menampilkan banyak kata serta angka.


“Syukurlah tuan tidak menyetujuinya. Lebih baik aku lembur sampai pagi dari pada terjebak dalam mengurusi acara pertunangan bodoh itu”, pikir Alonso, bisa bernapas lega dan normal kembali.


Megan yang tidak ingin rugi langsung meminta kekasihnya mentransfer sejumlah uang untuk keperluan persiapan pertunangan serta keuntungan pribadinya. “Nanti aku kirim, tunggulah”, datar Leon, salah satu sudut bibirnya berkedut, rahang tegasnya mengeras, napasnya pun sedikit berat.

__ADS_1


“Baiklah jika seperti itu, aku permisi, karena ada jadwal pemotretan”, senyum Megan tidak lupa melabuhkan ciuman panas pada bibir kekasihnya, “Tidak sabar menjadi istrimu, Aleandro Leonard”, bisiknya dengan nada menggoda.


Usai kepergian Megan, Alonso pun keluar ruangan melaksanakan tugas yang diberikan tuannya. Sungguh dirinya dituntut multitasking, sembari mencari keberadaan nyonya muda ia pun harus mengerjakan tugas kantor yang tidak sedikit, ya memang sesuai dengan bonus serta gaji besarnya.


.


.


Sore ini setelah pulang kantor Leon memutuskan datang langsung ke permukiman kumuh, ia ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan anak buahnya memang benar. Jika mereka salah maka siap-siap Leon menghukum semua yang memberi informasi itu.


Sebelum masuk, Leon menarik napas dan menggunakan masker berlapis agar sebutir debu pun tak masuk pada rongga hidungnya. Leon mengeluh kenapa ada rumah kerdil seperti ini, bahkan untuk masuk pun ia harus membungkuk, karena kusen dan atap yang rendah.


“Hah, pengap dan gelap. Untuk apa wanita itu meminta uang padaku setiap bulan, kalau tidak digunakan dengan baik, rumah macam apa ini?”, Leon bergidik ngeri melihat kayu yang keropos.


“Karena hidup menderita sampai berani menjual dirinya padaku”, masih ucap Leon mengumpat istrinya yang selalu ia siksa. Leon pun tertawa hanya ada TV kecil dan sofa yang telah sobek. “Apa dia kehabisan makanan sampai memakan kursi?”, gumam Leon merasa jijik, namun langkah kakinya semakin masuk ke dalam.


Memasuki kamar tidur Pamela, ya Leon yakin itu karena ada beberapa foto yang terpajang pada dinding. Ditatapwajah polos dan cantik alami istrinya, tanpa sentuhan make up serta kemewahan Pamela memang cantik, senyum di bibirnya merekah tanda bahagia. Leon menyisir satu persatu foto, tanpa sadar ia tersenyum tipis ketika melihat Pamela memeluk dan mencium neneknya.


“Apa wanita tua ini neneknya?”, gumam Leon. “Ku kira dia tak memiliki keluarga, mungkin sudah meninggal”, masih tetap bicara sendiri sampai anak buahnya pun khawatir tuan mereka terkena gangguan jiwa.


Pandangan Leon turun pada lantai yang kusam, bukan lagi warna putih. Menyadari sepatu mahalnya menginjak sesuatu, buru-buru Leon menggeser kakinya dan memerintahkan anak buah mengambil benda yang ia injak.


“Ambil itu “, titahnya.


Sebelum sampai ke tangan Leon lebih dulu dibersihkan dengan lap agar tuannya tidak marah karena terkena debu, “Ini tuan”.

__ADS_1


Sontak kedua bola mata biru safir Leon terbelalak melihat sesuatu itu, napasnya tertahan, kerongkongan terasa mengering dan jantungnya berdetak sangat cepat.


...TBC...


__ADS_2