
BAB 86
Bintang paling dekat dengan bumi memberi sinar terbaiknya siang ini, tidak terlalu panas, sejuk menerpa kulit setiap orang yang berlalu lalang di Kota Madrid.
Sama halnya dengan Mansion Utama Torres, suasana hangat dan berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kamar Leon dipenuhi banyak mainan yang berserakan, mulai dari ranjang, sofa dan lantai.
Suami dari Pamela ini sengaja merubah kamar maskulinnya menjadi kamar anak, berharap El nyaman untuk tetap di samping Leonard.
Para maid memindahkan ranjang tidur bayi ke kamar Leon sesuai perintah, lalu beberapa pakaian bayi di bawa ke kamar ini. Sengaja Leon lakukan, selain dekat dengan putranya, ia juga mengambil kesempatan dekat dengan Pamela.
“Maafkan daddy, El”, mengecup kening El, Leon menggunakan anak ini untuk mengikat Pamela.
El yang lelah bermain bersama ayahnya, langsung tertidur lelap dalam pelukan Leon. Bayi gempal yang lucu, Leon begitu beruntung bisa memiliki putra sebaik El dan masih menganggapnya sebagai ayah, padahal selama Pamela hamil tidak sekalipun Leon bersama atau membelai El dari kulit perut ibunya.
“Leon, kamu tidurlah. El aku pindahkan ke kasurnya, khawatir luka di dadamu kembali berdarah”, imbuh Pamela sudah siap mengangkat El dari ranjang besar Leon.
“Jangan !!! biarkan seperti ini, kamu juga tidur Pamela, kepala pelayan bilang kamu tidak menjaga waktu tidur dengan baik”.
“Kemarilah”, menepuk sisi ranjang lain, tepat di sebelah El. Iblis tampan ini benar-benar memanfaatkan keadaan.
Alih-alih menerima ajakan suaminya untuk tidur dalam satu ranjang yang sama, dan jantung mereka sama-sama menggetarkan rasa yang lain. Pamela hanya mengambil bantal lain milik Leon dan merebahkan diri di sofa.
Leon termangu melihat sikap istrinya, tidak tahu lagi harus berkata apa, kesempatan yang ia rencanakan gagal sudah karena Pamela memilih sofa sebagai alas tidurnya.
“Hah wanita itu, apa susahnya tidur di sini”, geram Leon dalam hati, “Luka sialan, seandainya tidak sakit pasti aku gendong dia naik ke atas tempat tidur”, pikir Leon.
Pada akhirnya sepasang suami istri ini terlarut dalam perasaan masing-masing, tidak terungkap dan takut akan reaksi satu sama lain.
Leon masih berusaha sabar atas penolakan istrinya, bukankah keberadaan Pamela di mansion juga menandakan wanita ini seumur hidup akan tetap menjadi pendamping hidupnya.
Sementara Pamela selalu berusaha menerima Leon dan bersikap normal, kendati sangat sulit dan memerlukan waktu.
“Aku harap kamu mengerti Leon, semua tidak mudah seperti membalik telapak tangan”, lirih Pamela.
.
__ADS_1
.
Ketiga orang yang telah menikmati tidur siang, terbangun saat senja mulai tampak. Pamela segera membasuh tubuh putranya, karena El tidak bisa terpapar keringat, tubuhnya harus selalu bersih dan nyaman, hal ini sama seperti Leon yang selalu mencintai kebersihan.
“Kita mandi dulu El”, Pamela menggendong bayi yang telah terlepas pakaiannya.
Sedangkan Leon memperhatikan istrinya tanpa berkedip, wanita muda seperti Pamela seharusnya masih menikmati keindahan dunia luar bukan mengasuh bayi dan mengabdikan diri sebagai seorang ibu.
Rasa bersalah sekaligus kagum diberikan Leon pada istrinya.
“Kamu memang berbeda Pamela”
Cukup sebentar memandikan anaknya, Leon tetap memperhatikan gerakan Pamela, El beruntung memiliki ibu yang begitu menyayanginya.
Bahkan ketika Leonard ingin melenyapkan bayi itu, Pamela memilih pergi demi kandungannya dan kini Leon patut berterima kasih.
“Ah kamu lapar ya, sebentar sayang. Bagaimana kalau kita ke kamar mama di bawah”, kata-kata ini tidak disukai Leon.
“Untuk apa?”, tegasnya.
Terpaksa Pamela menerimanya dan duduk membelakangi Leon, bahkan Leon jelas mendengar suara El yang menelan nutrisi untuk tubuhnya, “Kenapa aku iri pada putraku sendiri”, cibir Leon.
El masih menguasai ibunya dan meneguk rakus apa yang menjadi haknya, sampai Leon kesal hanya bisa memandangi punggung Pamela yang tertutup rambut panjang. “Apa dia tidak bisa berbalik sedikit saja?”.
Diam-diam Leon mengirim pesan pada perawat dan kepala pelayan kemudian meminta mereka tutup mulut selamanya. Tidak lupa Nyonya Torres dilibatkan dalam rencana nakal Leon.
“Cuacanya cukup terik, hah gatal”, oceh Leon tidak mendapat tanggapan apapun dari Pamela.
Selesai menyusui El, yang kembali tidur, Pamela membaringkan putranya pada ranjang bayi tepat di samping kasur Leon.
Wanita ini sigap merapikan mainan di lantai, sesekali melirik pada jam di tangan, memastikan sesuatu. “Bukankah seharusnya sudah datang? Apa karena ada aku di sini?”, gumam Pamela.
“Leon, Pamela. Mom masuk”
“Ah kalian ini, Pamela kamu tidak perlu repot merapikan mainan, serahkan pada maid. Sekarang ada tugas yang harus kamu lakukan”, papar ibu mertuanya.
__ADS_1
“Tugas? Tugas apa mom? Katakan saja, selagi El tidur”, tanya Pamela sangat ingin membantu.
“Tolong bantu bersihkan Leon, perawat tidak datang karena sakit dan tidak ada penggantinya, kepala pelayan juga tidak enak badan”, Nyonya Torres sedikit berbohong.
“A-apa? Aku? Tapi mom aku tidak bisa, kenapa bukan mom? Mom lebih berhak, aku takut mengenai lukanya”, tolak Pamela.
Tapi apa penolakan ibu dari El ini berhasil? Tidak. Nyonya Torres meninggalkan keduanya dalam kamar.
Leon menunggu aba-aba dari sang istri, riak kecewa dan takut nampak jelas pada wajah cantik Pamela.
“Baiklah aku bantu tapi hanya satu kali ini”, Pamela menghela napas, bibirnya cemberut sementara Leon tersenyum senang.
Mulai memapah tubuh Leon masuk ke kamar mandi, membantu melepas pakaian yang menempel pada suaminya, menyeka wajah dan tubuh bagian atas Leon sangat lembut dan hati-hati.
“Pamela, apa permohonan maafku bisa kamu terima?”, tanya Leon mengharap jawaban ‘ya’ dari istrinya.
“Maaf, aku menggunakan mu sebagai alat balas dendam pada wanita itu. Aku ingin menghancurkannya tapi sekaligus membuatmu terluka sangat dalam, maaf”, getir Leon. Sungguh ia ingin menjalani hidup sebaik-baiknya dengan Pamela dan El.
“Aku rasa kamu mampu melakukannya sendiri”, Pamela bergerak pergi dan tidak menyelesaikan tugasnya.
GREP
Secepat kilat Leon membawa wanita itu dalam pangkuannya, dan Pamela duduk di atas kedua paha suaminya.
“Pamela, aku ingin kita kembali bersama dan menjalani hidup yang sebagaimana mestinya, terima adanya diriku, aku Aleandro Leonard Torres sangat mencintai Pamela Gerard”
“Aku terjatuh pada luka yang sangat dalam sampai membuat wanita lain terluka, tapi kamu membuatku mengerti tidak semua wanita mendewakan uang, dan tidak semua wanita meninggalkan prianya karena pria lain. Kamu menarik ku naik ke atas dan tidak jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Kembalilah padaku Pamela, hanya kamu, kamu yang ku inginkan, kamu yang terindah dalam hidupku, percayalah Pamela aku tidak akan melukaimu lagi, tidak ada kesalahan yang sama kedua kalinya”, jelas Leon panjang lebar
Leon sangat ingin istrinya ini tahu apa yang ia rasakan, apa yang dia inginkan. Leon rindu kelembutan Pamela, bukan sikap dinginnya seperti ini.
“Aku hanya menyampaikan isi hatiku”, lanjut Leon.
...TBC...
__ADS_1