Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 62 - Kebetulan atau Keberuntungan


__ADS_3

BAB 62


Pukul 3 pagi Pamela dan neneknya telah sibuk di dapur kecil dan sederhana, menyiangi aneka sayur, memotong sayur, membersihkan daging dan membuat cake. Meskipun banyak kegiatannya pagi ini tapi Pamela sangat senang menjalaninya, bayi dalam kandungan pun tidak rewel, sementara nenek menghabiskan waktu bersama kompor membiarkan cucunya duduk istirahat.


Beberapa menu yang dipesan, hingga Pamela dan nenek harus bangun lebih awal agar tidak terlambat di acara makan siang.


“Pamela, coba bagaimana rasanya apa sesuai?”, nenek memberi tes di sendok dan menyuapi cucunya.


“Sempurna nek tapi.........ada sedikit yang kurang, aku tambah sedikit ya”, menaburkan bubuk ciri khas masakannya yang disukai pelanggan.


Setelah berkutat di dapur hingga memakan waktu berjam-jam, Pamela dan neneknya bersiap ke villa tujuan mereka. Wajah keduanya sumringah, namun ketika membuka pintu tiba-tiba perut Pamela sedikit kram.


“Ah, nenek perutku”, memegangi perutnya, mungkin karena ia terlalu banyak kerja keras belakangan ini membuat bayinya terkadang protes dan ini bukan kali pertama, hanya perlu berbaring beberapa jam kemudian menghilang sendiri rasa sakitnya.


“Sebaiknya nenek saja yang pergi Pamela, kamu istirahatlah”, mengantar Pamela ke kamar dan menyelimuti cucunya tidak lupa juga melabuhkan ciuman kasih sayang di kening ibu hamil ini.


“Terima kasih, nenek hati-hati ya”


“Tentu”


Nenek ini segera berangkat menuju Villa, tentu berjalan kaki sampai pada halte bus terdekat dan menunggu bus datang.


Sampai di depan deretan villa mewah pun harus tetap menggunakan kendaraan yang disediakan, untung biaya sewanya murah. Akhirnya pukul 10.30 nenek tiba di villa mewah dengan suasana yang cukup ramai.


“Nenek, kemana Pamela?”, tanya seorang pelayan yang kenal dengan Pamela.


“Ah dia ada di rumah, biar nenek saja”


“Ayo nenek masuk, majikan ku merayakan ulang tahun pernikahan hari ini, Nyonya dan Tuan sangat baik, mereka memiliki satu putra nek. Ah aku berharap bisa menjadi pendampingnya”, tertawa genit pelayan ini.


“Mimpi kamu”, sinis nenek.


Kedatangan Leon menyebar di sekitar Villa, bahkan penghuni lainnya pun sampai mencari muka memberi hadiah khusus pada Nyonya dan Tuan Torres, apalagi bagi mereka yang memilki anak gadis. Berharap menjadi bagian dari keluarga berkuasa di negeri ini.


Padahal kedua orang tua Leon jelas menolak wanita manapun karena anaknya itu telah memiliki istri, dan mereka akan memperkenalkan menantunya setelah berhasil ditemukan.

__ADS_1


Akhirnya Nyonya Torres merelakan dan berlapang dada putranya menikah dengan pelayan bar, meskipun kesal dalam hati karena tidak sesuai ekspektasi.


Lebih baik bersama Pamela, namun sayang wanita itu telah menikah. Nyonya Torres selalu terbayang wajah wanita yang pernah ditolong Antonio.


Tuan Torres menikmati waktu di belakang, olahraga menembak adalah salah satu hal yang digemarinya. Walaupun sangat gagah di luar dan ditakuti banyak orang tetap saja di istana megahnya selalu menurut pada sang istri yang memiliki kekuasaan lebih, seperti saat ini Tuan Torres harus rela mengalah dalam memilih dekorasi ruangan.


“Ini Tuan”, Antonio menyerahkan handuk dan minum pada tuannya.


“Dimana anak itu?”


“Tuan Muda, sedang dalam perjalanan. 2 sampai 3 jam lagi tiba”, jawab Antonio yang sudah 20 tahun bekerja bersama keluarga ini.


“Kenapa anak itu tidak menggunakan helikopter saja, benar-benar buang waktu”


Leon memiliki alasan sendiri menolak menggunakan kendaraan berbaling-baling besi, ia memilih melakukan perjalanan biasa. Memasang mata sepanjang perjalanan, mungkin saja bisa menemukan Pamela yang sangat dirindukannya belakangan ini.


**


Pukul 12 siang Pamela mengambil air minum ke dapur, dirinya tersentak karena melihat sesuatu. Menoleh pada jam dinding yang begitu cepat berputar, ia semakin cemas. Neneknya belum kembali pulang, “Apa mungkin nenek langsung ke kebun? Bagaimana ini tidak ada waktu lagi”, gumam Pamela panik.


“Kamu kuat ya, tidak akan lama. Setelah ini kita istirahat”, mengelus perut dan lagi mendapat respon dari dalam. “Terima kasih”, girangnya.


Pamela berjalan sampai ke halte, ia mendengus sebal karena biasanya harus menunggu lama jika keluar siang hari seperti ini. Untungnya masih tersisa kursi kosong hingga bisa mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang berat ini.


Netranya melirik pemandangan alam di sebrang jalan, rambutnya pun menari terkena kibasan semilir angin.


Sementara di sisi lain, Leon tertidur dalam mobil. Perjalanan jauh yang memuakkan baginya, ia pun terpejam tanpa sadar, meyesap kopi tidak ada pengaruhnya bagi Leon.


“Tuan......tuan....”, panggil Alonso menahan sesuatu dari dalam tubuh.


“Tuan.....Tuan Muda Leon?”


“Hem, sudah sampai?”, Leon membuka kacamata hitam, memandang sekitarnya dan betapa kesal ia ternyata Alonso memberhentikan mobil di rest area.


“SHIT, kenapa kau mengganggu ku, hah?”

__ADS_1


“Tuan, maaf perutku sakit. Aku izin ke toilet, maaf tuan”, Alonso lari terbirit-birit memegang tubuh bagian belakang.


“Ck, benar-benar membuang waktu, beruntunglah kau Alonso kinerja mu bagus, jika tidak ku pastikan kau kehilangan pekerjaan detik ini juga”, Leon mengetuk-ngetuk pintu membunuh rasa bosannya.


Perhatiannya pun teralihkan pada ponsel yang bergetar, tercatat nama ‘mom’ dan Leon sangat malas menjawabnya.


“TERIMA LEONARD, KAU AKAN AKU HUKUM”


Isi pesan Nyonya Torres, begitu bar-bar dan selalu mengancam aabh


Leon menggulir layar ponselnya tanpa menerima panggilan telepon, suara keributan dari luar membuatnya geli. Masih saja ada orang-orang bertengkar di area publik, menjijikan pikirnya.


Tanpa diduga matanya menangkap sosok cantik yang selama ini dirindukannya. Ya Pamela, istrinya itu sedang berdiri mengantri masuk ke dalam bus.


“PAMELA”, panggil Leon. Secepat mungkin merubah posisi dan duduk di balik kemudi, menyalakan mesin lalu pergi dari rest area, mengikuti arah bus pergi, setia membuntuti bus walau jalannya sangat lamban.


Dada Leon berdetak kuat, ia yakin tidak salah melihat dan benar wanita yang beberapa menit lalu naik bus membawa bungkusan besar adalah Pamela.


“Kau pergi sejauh ini Pamela”, gumam Leon, berusaha sabar menunggu istrinya turun.


Napas Leon seakan tertahan dan sesak dalam dada, menatap wanita berambut panjang, dress biru langit sepanjang lutut turun dan berjalan memasuki kawasan villa mewah. Terus mengamati kemana wanita hamil itu berhenti, mobil Leon tepat beberapa puluh meter di di Pamela.


Tubuh Leon gemetar, keringat dingin membasahi telapak tangannya, rahang berkedut tipis, rupanya tidak percuma Tuan Torres memaksanya datang ke perayaan ulang tahun pernikahan, dan Alonso yang berhenti karena sakit perut. Semua seperti kebetulan yang luar biasa bagi Leonard, “Pamela”, lirihnya.


Manik biru safir Leon menyorot tajam langkah kaki Pamela memasuki villa yang sangat dikenalinya, seorang pelayan pun menyambut Pamela tanpa hormat dan membantu membawa bingkisan besar.


“Ayo masuk Pamela, aku lega karena kamu datang mengantar ini, huh kalau tidak aku bisa dipecat hari ini”.


“Maaf, aku harap kamu tidak kecewa. Aku harus kembali sekarang juga, terima kasih”, Pamela senang menerima banyak uang siang ini.


Langkah kakinya terhenti karena seseorang menarik lengannya cukup kuat.


“Akh”


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2