
BAB 50
“Aw....aw, sakit nek. Pamela, ada apa dengan nenekmu ini?”, Dylan memekik, tangannya yang berotot itu terasa perih dipukuli tas oleh nenek Pamela, kendati ini bukan pertama kali.
“Nek, sudahlah. Ini Tuan Dylan Manassero”, Pamela tersenyum manis, dan.....ugh bagi Dylan ini adalah senyum tercantik dan manis yang pernah ia lihat dari para wanita, sebelumnya tak ada yang semanis Pamela.
“Oh ini Tuan Muda yang berbohong itu ya? Berani sekali kau membohongi nenek tua sepertiku? Kurang ajar, kau mengaku sebagai bos Pamela dan membantunya, dasar anak muda”
PLAK
“Aw, Pamela hentikan nenekmu ini, orang akan mengira kalau aku berniat jahat pada kalian”, seru Dylan, tidak biasanya ia diam menerima amukan dari seorang wanita, catat wanita bukan seorang nenek. Mungkin jika nenek masih muda, Dylan akan membawanya pulang ke apartemen dan berkencan dengannya.
Pria tampan nomor 3 itu terkesiap membayangkan berkencan dengan Nenek Pamela, “Apa-apaan kau ini Dylan, bisa-bisanya berpikir hal menjijikan seperti itu”, keluhnya.
“Kamu bilang mencariku kan? Ada apa?”, tanya Pamela merebut kembali tas hitamnya.
“Kenapa kau pergi Pamela? Jangan tinggalkan aku..... aku ingin menjadi bagian dari hidupmu”, lanjutnya dalam hati.
“Aku tidak pernah meninggalkan mu Dylan, kamu teman yang baik, terima kasih”, senyum manis Pamela kembali membuat Dylan salah tingkah.
Nenek Pamela menarik tangan cucunya, cukup sudah bagi mereka membuang waktu dengan bicara di pinggir jalan, khawatir tanpa sengaja Leon melihatnya. Pamela juga dilarang memiliki hubungan dengan pria kaya raya seperti Leon, pria seperti itu hanya akan menjadikan wanita sebagai pelampiasan bukan ratu di hati dan istana megahnya.
“Izinkan aku mengantar kalian”, ucap Dylan menahan Pamela yang hendak masuk bus.
“Terima kasih Dylan, aku.....aku tidak ingin merepotkan”
“Kumohon Pamela, sekali ini saja”, Dylan mengiba dan membungkukkan tubuhnya.
Akhirnya Pamela dan neneknya diantar sampai ke stasiun, hati Dylan nyeri kala mengetahui kemana Pamela akan pergi, ya desa yang jauh dari jangkauan, bahkan jika Dylan ingin bertemu pun harus mengambil cuti mengingat perjalanan kesana tidaklah mudah dan jauh.
“Pamela boleh aku memeluk mu?”, tanya Dylan yang menangis, baru kali ini pria bertitle casanova menangis dihadapan wanita yang ia incar, bahkan cintanya layu sebelum mekar.
__ADS_1
“No Dylan”, tegas Pamela menggelengkan kepala, kata-kata Pamela sukses membuat Dylan semakin merasa kehilangan. Baru saja ia ingin merebut wanita ini dari Leonard, tapi Pamela akan pergi jauh dari jangkauan.
“Pamela, jika kau memerlukan bantuan, hubungi aku. Aku akan segera datang kesana, dan kau jangan takut. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Leonard”.
“Terima kasih”, balas Pamela mulai melangkah masuk ke dalam kereta tanpa menoleh ke belakang.
**
Di lain sisi, Megan merajuk seharian ini, bagaimana tidak? Hatinya panas karena melihat kabar bahwa Leon dijodohkan dengan anak seorang pengusaha. Sementara dirinya harus berdiam diri tanpa memberi tahu dunia jika ia adalah kekasih Leonard.
Bukannya membujuk dengan sejuta kata cinta dan rayuan atau hadiah berkilauan seperti bayangan Megan, dirinya hanya mendapat sikap acuh dari kekasihnya. Bahkan Leon tak bisa dihubungi walau sekalipun, pria ini malah memerintah Megan untuk menghubungi Alonso jika memerlukan sesuatu.
“Arhg Leon, kamu dimana? Kenapa harus aku menjadi korban disini?”, keluhnya tidak terima atas apa yang terjadi. Ia pun akan langsung menemui Nyonya Torres dan mengatakan jika Leon menjalin hubungan dengannya.
“Ya, aku akan datang ke mansion utama Torres malam ini”
Megan pun pergi ke salon merias diri secantik mungkin, tidak mau memberi kesan buruk pada calon mertua. Walau mengeluarkan banyak uang tidak peduli, dirinya membeli gaun mahal yang akan di pakainya malam ini. Megan yakin Leon ada di dalam mansion itu, dan ia harus menemui pria tambang emasnya.
.
.
Meski ia memohon, petugas keamanan tetap tidak membuka pagar itu sedikit pun karena Megan tidak membuat janji sebelumnya dengan Tuan Besar, Nyonya Besar dan Tuan Muda Torres. Menghubungi Leon pun percuma karena sambungan teleponnya tak diterima sama sekali.
“Anda lihat nona, mungkin anda hanya mengaku-ngaku saja sebagai kekasih tuan”, sinis petugas keamanan yang kesal pada Megan, begitu memaksa masuk.
“Hey, awas kalian akan ku pecat nanti. Lihat saja aku akan menjadi nyonya di mansion ini”, teriak Megan tidak tahu malu.
Kedua mata cantiknya berbinar melihat 3 mobil mewah mendekat dan Megan tahu mobil kedua milik Leon kekasihnya. Megan mendekat dan mengetuk kaca mobil, betapa senangnya ia ternyata benar dugaannya. Akhirnya Megan masuk ke mansion megah itu, tentu duduk di sisi Leon, matanya melirik kesana kemari tak pernah menyangka jika pria yang pernah disakitinya sekaya ini dan lihat banyak sekali pengawal yang mengelilingi Leon. Sungguh Megan merasa beruntung karena dicintai oleh pria seperti Aleandro Leonard Torres.
Megan bergelayut manja di lengan Leon, matanya semakin berbinar kala pintu utama terbuka para maid dan kepala pelayan menyambut tuan muda mereka.
__ADS_1
“Ah rasanya tidak sabar menjadi istrinya”, girang Megan dalam hati.
“Leonard?”, panggil wanita paruh baya yang didampingi beberapa maid menuruni tangga.
“Ya, ada apa mom?”, tanya Leon malas, pasti ibunya akan mempertanyakan kenapa membawa masuk wanita yang jelas-jelas ia tolak sebagai menantu.
“Apa kabar Nyonya Torres? Perkenalkan namaku Megan Stewart”, Megan mengulas senyum semanis mungkin dan berusaha menunjukan ketulusannya di hadapan calon ibu mertua.
“Oh, jadi kau yang bernama Megan”, sinis Nyonya Torres seolah pertama kali melihat Megan.
“Ya, nyonya. Aku kekasih Leonard”, senyum Megan mengembang di wajahnya, dirinya merasa yakin jika wanita paruh baya di depannya akan menyukai dan jatuh hati padanya.
“Ck, benar-benar wanita tamak”, gumam Nyonya Torres.
Leon menggandeng tangan mulus Megan untuk duduk di ruang keluarga, tentu hal ini sangat tidak disukai wanita paruh baya yang mendelik tajam pada putranya.
“Tunggulah disini”, perintah Leon.
“Mom, bersikap baiklah pada tunanganku”, ucap Leon berlalu memasuki lift.
“APA? TUNANGAN”, batin Megan girang luar biasa, sedangkan Nyonya Torres kesal luar biasa.
Tidak terima dengan keputusan putranya, Nyonya Besar mansion ini menyusul Leon ke kamarnya, membuka kasar pintu berukir indah ini.
“Aleandro Leonard”, pekiknya memekakkan telinga, Leon yang sedang bertelanjang dada terpaksa menemui ibunya. “Apa-apaan kau ini, berani membawa gadis itu masuk ke rumahku”, memukul kepala Leon cukup keras.
“MOM, cukup. Sudahlah terima Megan sebagai tunanganku”, Leon meninggalkan ibunya di kamar dan berlalu membersihkan diri.
“Dasar anak tidak tahu diri, aku tidak akan merestui kalian, dengar itu Leon”.
...TBC...
__ADS_1