
BAB 51
Leon tak peduli mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya, pria ini nekat mengajak Megan makan malam bersama di mansion. Betapa bahagianya Megan, ia merasa diterima dengan baik oleh keluarga Torres. Semua makan malam dalam suasana hening tidak bersuara barang sedikit pun, sesekali terdengar denting alat makan Megan dan itu mengundang tatapan Nyonya Torres.
“Bisa-bisa, putraku mencintai gadis seperti ini”, batinnya menyayangkan sikap Leonard.
Setelah menikmati hidangan utama, Nyonya Torres mulai membawa Megan mengobrol banyak hal dan tetap saja tidak menarik perhatian, baginya perkataan Megan itu palsu dan omong kosong. Namun hal yang membuat orang tua Leon tercengang adalah, Megan gadis kecil yang menolong Leon saat remaja dari kejaran para penculik.
“Oke baiklah, rupanya kau berjasa dalam hidup putraku”, Nyonya Torres tersenyum kaku begitupun Tuan Besar Torres.
Akhirnya kedua orang tua Leon terpaksa dan berat hati mengizinkan Megan untuk masuk dalam keluarga mereka. Ya tepatnya Leon akan bertunangan dengan Megan bukan anak pengusaha terkenal.
Tidak sia-sia memang kunjungan Megan ke mansion ini walau sempat di usir, tidak apa. Ia akan memastikan petugas keamanan itu menerima ganjaran, telah membuatnya tertahan lama di pos pengaman. “Lihat saja mereka, aku tendang setelah menikah dengan Leon”, model cantik ini tersenyum licik.
“Lalu kapan kalian akan bertunangan?”, tanya Tuan Torres.
“Ku rasa bulan depan”, jawab Leon membuat kedua orang tuanya tercengang, benar-benar memberi jawaban tanpa berpikir. Sementara mereka belum bertemu keluarga Stewart untuk saling mengenal.
“Kenapa? Apa perlu aku majukan menjadi minggu depan? Belakangan ini aku sibuk, Dad memberi banyak pekerjaan”, lirik Leon pada ayahnya, tentu itu sengaja agar putranya tidak berhubungan dengan Megan dan memilih pulang ke mansion dari pada penthouse.
Apa Leon tidak bertanya tentang Pamela? Tidak. Pria ini tak memikirkan Pamela sedikit pun, untuk apa membuang tenaga memikirkan wanita penghisap uang seperti Pamela.
“Aku akan mengumumkan pada media, bahwa Megan adalah tunanganku”, celetuk Leon tanpa sadar menambah kebencian Nyonya Torres, wanita paruh baya ini sangat tidak menyukai Megan, karena wanita itulah yang telah membuat Leon berubah dingin dan kejam.
Meninggalkan meja makan adalah kebiasaan buruk Nyonya Torres kala tidak menyukai sesuatu, dan malam ini ia pergi tanpa permisi, di usianya yang tidak muda lagi masih saja dibuat pusing oleh tingkah Leon, sangat tidak masuk akal.
Mega hanya diam sambil melirik calon ibu mertuanya, bukan masalah jika tidak sukai oleh ibu dari Leon yang terpenting Megan telah mendapatkan hati dan cinta Leonard. “Terima kasih sayang”, bisik Megan, merasa di atas awan.
__ADS_1
.
.
**
Selama dua minggu ini Pamela hanya berbaring di atas ranjang kecil yang termakan usia, ia akan mencari pekerjaan ketika kandungannya mulai kuat tidak seperti sekarang bergerak sedikit saja merasakan kram. Benar-benar janin orang kaya, begitulah nenek Pamela menyebutnya. Untuk bertahan hidup sementara ini menggunakan sisa uang yang ada.
“Pamela biarkan nenek yang berkerja, uang itu tidak mungkin kita habiskan, kamu harus menyimpannya untuk cicit nenek, dia lebih membutuhkannya”, mengelus perut rata Pamela.
“Jangan nek, uang ini sangatlah banyak, kita hanya berhemat saja. Nenek jangan bekerja, aku tidak mau nenek sakit lagi”, peluk Pamela, ia tidak akan rela waktu lalu terulang lagi.
Pamela yang bedrest hanya tidur, makan dan bergerak seperlunya saja. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada janinnya.
Pamela dan Neneknya menghabiskan waktu menonton acara televisi, dan keduanya merasa sebal karena terganggu sekilas berita yang muncul ketika serius melihat drama.
Mungkin janin dalam kandungan itu bergejolak tidak menerima ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain, dan mengabaikannya yang sedang bertumbuh di rahim sang ibu. “Tenanglah, tidak apa. Kita akan selalu bersama dan bahagia tanpanya”, lirih Pamela begitu sakit melihat berita.
Ternyata sebesar itu rasa cinta Leon pada Megan, padahal beberapa minggu lalu sempat diberitakan bersama putri salah seorang pengusaha. Tapi kini Leon tegas menyampaikan bahwa Megan adalah tunangannya.
“Lihatlah Pamela, Leon benar-benar menjadikanmu pelampiasan, tak ada hati untukmu di dalam sana. Jangan berharap lebih apalagi menginginkan kalau anak ini diakui, tidak. Aku akan menutupi dan menyembunyikan dia selamanya darimu Leon”, pikiran Pamela hanya takut jika sampai Leon tahu pasti akan membunuh darah dagingnya dan tak mungkin kembali menyiksa Pamela.
Seketika tubuh Pamela bergetar hebat, keringat menjalar pada seluruh tubuh, penyiksaan Leon terekam jelas dalam benaknya. Takut, Pamela selalu takut jika ingatan itu datang dan sesak dalam dada.
“Pamela, sudah nak, kamu aman disini, kita jauh darinya”, nenek begitu prihatin pada cucunya yang mengalami trauma, pasti tuan muda itu tak memiliki hati sedikitpun sampai cucunya mengalami rasa takut berlebihan.
Pelukan hangat nenek mampu meredakan gemetar dan gelisah dalam diri Pamela, sampai terlelap tidur dalam dekapan hangat nenek yang sangat menyayangi cucunya ini.
__ADS_1
“Kamu jangan takut nak, nenek akan selalu ada untukmu. Terima kasih karena rela berkorban demi nenek”, sambungnya, meneteskan air mata. Tak kuasa menahan perih selama berbulan-bulan Pamela harus tersiksa jiwa raga oleh Leonard hanya demi uang. Hidup memang sebercanda ini, mempermainkan Pamela gadis muda yang pekerja keras hingga bertemu Leon dan mengubah hidupnya bahkan sampai saat ini, meski telah jauh tetap saja dampak ulah pria kejam itu masih tersisa.
**
Kota Madrid
Malam penat bagi Leon untuk pulang ke mansion yang jaraknya lebih jauh, ia pun rindu akan penthouse dan sosok wanita yang biasa menunggunya serta melayaninya. Leon ingin melepas lelahnya malam ini bersama Pamela.
Bukan main-main memang tugas yang diberikan Tuan Torres begitu berat dan sulit, sampai Leon menghabiskan serta mencurahkan seluruh waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat banyak itu.
Tiba di dalam penthouse, semua gelap pelit akan cahaya lampu hanya sedikit penerangan di bagian dapur. “Ck apa wanita itu tidur?”, sinis Leon.
“PAMELA”
“PAMELA”
Teriak Leon, menggema dalam ruangan. Ia menunggu cukup lama tak aja suara atau pergerakan dari lantai 2, “PAMELA”, masih panggil Leon tanpa beranjak dari duduknya.
Ia yang kesal akhirnya menyalakan semua lampu hanya dengan satu kali tepukan tangan dan melangkah ke kamar sang istri. Dibukanya dengan kasar ruangan itu, Leon tersentak tidak menemukan Pamela bahkan jejak di atas ranjang pun tidak ada.
“Sial kemana wanita murahan itu”, menelisik seisi ruangan, membuka pintu kamar mandi dan masuk dalam walk in closet, masih sama tidak ada tanda keberadaan istri ringkihnya.
“Pamela dimana kau”, Leon sungguh tidak habis pikir, apa wanita itu keluar penthouse tanpa memberi tahunya.
Satu hal yang menjadi pusat perhatian Leon, menghilangnya semua benda kumal Pamela yang berada dalam tas.
“SHIT”, pekiknya.
__ADS_1
...TBC...