Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 64 - Rencana Tuan Torres


__ADS_3

BAB 64


Leon membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan menekan sandi pada pintu untuk menguncinya, tak tinggal diam, Pamela berusaha membuka pintu itu.


“Leon, aku mohon lepaskan aku, aku mohon, izinkan aku hidup tenang”, Pamela berkeringat dan menangis, bayang-bayang Leon selalu menyakitinya dan kalimat akan melenyapkan anaknya sendiri sangat membekas dalam ingatan.


“Aku tidak akan melepaskanmu Pamela, kau harus tinggal denganku”, nada Leon  penuh penekanan.  Pria ini masih belum bisa menguasai emosinya, Leon mencengkram cukup kuat kedua bahu Pamela, “Jangan pergi, kau tidak akan pergi kemanapun”.


Leon menggiring istrinya untuk duduk dan tenang di atas ranjang, tapi Pamela masih gelisah dan takut. Karena selama menikah tak pernah mendapat hal yang baik dan manis dari suaminya, semua akan berakhir menyakitkan.


Pamela tidak mau terjadi kesekian kalinya, “Apa yang kau inginkan Leon? Aku tidak akan meminta apapun darimu, tapi ku mohon lepaskan aku”, sesak Pamela, apalagi ia ingat bahwa suaminya bertunangan dengan Megan. Sungguh ia tidak mau menjadi pelampiasan lagi, dirinya wanita yang memiliki hati bukan patung atau boneka.


“Aku menginginkanmu Pamela, selama ini aku terlalu larut dalam kebencian terhadap wanita yang menginginkan uang. Aku salah menilaimu, kau melakukan ini karena mengobati sakit nenek, benar kan?”


Pamela hanya mengangguk pelan sebagi jawaban, beringsut menjauh dari Leon yang ingin membelai perutnya.


“Apa dia baik-baik saja? Apa kau sudah menyiapkan keperluannya?”


Lagi hanya gerakan kepala yang Leon dapatkan sebagai jawaban. Leon meraih jemari Pamela dan mencium punggung tangannya, tapi sayang wanita ini menarik cepat tangannya. Pamela tak lagi mau terperangkap bersama Leon, apalagi terjerat dengan bujuk rayunya.


“Leon biarkan aku pulang”, cicit Pamela.


“TIDAK, kau tidak tahu betapa sulitnya mencarimu Pamela? Mana mungkin aku lepaskan begitu saja”, lantang Leon. “Kau dan anak itu milikku, semua yang ada pada dirimu adalah milikku Pamela”, pungkas Leon.


“Tidak, anda tidak bisa memberikan perintah apapun padaku”, Pamela berusaha keluar kamar, bertepatan dengan pintu yang diketuk dari luar.


“Ck, siapa yang mengganggu”, terpaksa membuka pintu, rupanya kedua orang tuanya ingin memastikan keadaan Pamela serta cucu dalam kandungannya baik –baik saja.

__ADS_1


“Nyonya tolong aku, tolong bebaskan aku”


Sontak Nyonya Torres marah, melihat kondisi Pamela yang ketakutan pasti ada suatu hal dilakukan oleh putranya. Membawa menantunya itu ke ruangan berbeda, dan bicara dari hati ke hati sebagai seorang wanita.


Sementara Tuan Torres bersama putranya dalam kamar, ia memiliki suatu rencana yang diharapkan baik bagi Leon dan Pamela.


Rencana ini ditolak mentah-mentah oleh Leon karena tidak masuk akal baginya. Tapi Tuan Torres tetap bersikeras bagaimana pun ia tidak mau kehilangan anak, menantu serta cucunya.


“Kau harus mengerti Leonard, ini memang berat tapi percayalah kalian akan bahagia”, tutur Tuan Torres.


“Dad gila itu sangat gila, aku tidak bisa. Pamela itu istriku Dad, kami menikah resmi dan tercatat di badan kependudukan”, berang Leon sangat marah mendengar ide konyol ayahnya.


“Semua ini terjadi karena dirimu, tingkah bodohmu sendiri Leonard. Kau harus tahu itu”, bentak Tuan Torres.


Sedangkan di ruangan lain, Pamela menangis dalam pelukan Nyonya Torres. Wanita hamil ini mencurahkan seluruh isi hatinya, namun ia tetap menutupi sedikit tingkah gila yang Leon lakukan, termasuk keinginan pria itu untuk melenyapkan darah dagingnya sendiri.


Sebenarnya ibu mertuanya ini bahagia, mimpinya memiliki menantu wanita baik seperti Pamela menjadi nyata. Semula sangat menentang status dan latar belakang menantunya sebagai pelayan bar tapi setelah mengetahui siapa wanita itu, Nyonya Torres menghepas semua rasa yang mengganjal.


“Panggil aku, Mommy, aku ini ibu mu Pamela, mertua mu, kau bukan pelayan atau pegawai ku. Kau adalah putriku Pamela”, mengelus punggung tangan menantunya.


“Mom, harap kamu bisa memaafkan kesalahan Leonard dan hidup bersama untuk membesarkan anak kalian”, menatap sayang pada perut yang terlihat bergerak itu.


“Dia bergerak”, bahagia Nyonya Torres.


“Iya, Nyonya.....umm maksudku mom”, tersenyum kaku, Pamela tak tenang meninggalkan neneknya, pasti wanita sepuh itu tengah khawatir.


“Pamela katakan dengan jujur, apa kamu mencintai Leonard putraku?”, tatapan berharap begitu ketara dari kedua mata wanita paruh baya ini, menginginkan menantunya menjawab ‘ya’.

__ADS_1


“Maaf, mom. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Tuan Muda”, Pamela memelankan suara, ia menampik pernah memiliki sedikit rasa pada suaminya tapi karena semua sikap Leon, benih itu pun layu sudah.


“Mom, tolong bantu aku menjauh dari Leon, aku......aku tidak ingin kembali dengannya”, Pamela mengiba pada ibu mertuanya ini, ia yakin Nyonya Torres bisa merasakan jika kembali pada Leon itu bukanlah hal mudah seperti membalik telapak tangan.


Setelah mencapai diskusi panjang dan alot, Leon menyetujui dengan berat hati merelakan malam ini Pamela kembali ke rumahnya.


Meskipun sangat ingin memeluk dan mendapat sentuhan Pamela, ia tak bisa semena-mena. Bahkan merasakan pergerakan janin dalam kandungan pun tidak bisa.


“Dad yakin kau bisa menjalani semua ini Leon, percayalah. Ini untuk kebaikan rumah tanggamu”, menepuk bahu putranya yang menatap nanar punggung Pamela, semakin jauh dan masuk ke dalam perumahan sederhana.


Pamela terus berjalan, memantapkan hati tanpa mau menoleh ke belakang. Dirinya berharap keputusan kali ini yang paling tepat.


“Pamela, dari mana kamu? Nenek khawatir”


“Aku, aku berkunjung ke rumah teman nek, maaf membuat nenek cemas”, merangkul tubuh keriput neneknya, masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat. Pamela khawatir Leon akan datang secara tiba-tiba dan masuk begitu saja melakukan sesuatu.


“Kenapa? Ada apa? Tidak biasanya kamu terlihat ketakutan Pamela?”, selidik nenek menangkap gelagat aneh dari cucunya, “Pamela tuan muda pembohong itu mengirim sesuatu untukmu, nenek belum membukanya. Nenek simpan di kamar”


“Dylan? Apa yang dia kirim kali ini?, Pamela yang penasaran langsung mengambil paket dan membukanya perlahan. Senyum terbit dari bibir ranumnya, Dylan mengirim oleh-oleh dari perjalanan bisnis, padahal minggu lalu pria itu mengirim banyak suplemen makanan.


“Maaf, aku tidak bisa berkunjung, terlalu banyak pekerjaan menyita waktu, semoga kamu suka hadiahnya”


Memo Dylan, di atas baju hangat bayi. Ini bukan kali pertama Dylan memberi perlengkapan bayi, sebelumnya membawa selimut dan beberapa pasang sepatu new born.


Pamela selalu sedih menerimanya, karena janin dalam kandungan mendapat perhatian dari pria yang bukan ayah kandungnya, namun kini setelah bertemu Leon hanya rasa takut dan sakit saat kembali bersama pria itu.


“Maafkan mama sayang, maaf kamu harus berpisah darinya, semoga suatu hari kamu mengerti alasan mama”, Pamela menitikkan kristal bening yang lolos dari sudut mata.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2