Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 74 - Memanggil Mu


__ADS_3

Bab 74


FLASHBACK


24 jam sebelumnya


Kota Madrid


“Tuan.....tuan Leon, saya mendengar Nyonya Pamela merasakan sakit yang sama seperti anda”, tutur Alonso sengat cemas.


Pikiran Leon kembali mengingat kalimat sepupu jauhnya, yang mengatakan jika penyakitnya ini tidak diketahui dokter dan hasil lab sangat baik. “Sepertinya benar apa kata dokter sombong itu”, gumam Leon pelan.


Mengabaikan rasa sakit pada punggung dan perut bawah serta kakinya sulit berpijak pada lantai, Leon berdiri, ia harus menyelesaikan ini semua. Memerintahkan Alonso mempersiapkan pesawat  pribadi.


“ALONSO, aku akan menemui istriku sekarang juga”, seru Leon.


“Eh, ta-tapi tuan, anda masih sakit”, cegah Alonso.


Tapi Leon tetaplah Leon, pria yang melangkah maju tak gentar apapun, tidak suka keinginannya tersendat atau ditolak orang lain. Dirinya sangat yakin bahwa obat dari ini semua adalah Pamela.


“Kau ingin ku pecat sekarang juga, hah?”, bentak Leon disela rintihan sakitnya.


Sigap Alonso mempersiapkan semua keperluan Tuan Muda Leon yang akan terbang dalam waktu lama, pakaian, identitas Leon dikemas dengan baik.


Detik ini juga Leon meninggalkan rumah sakit dan bertolak ke Jakarta, hatinya gusar mengamati rekam CCTV. Wanita pemilik hatinya itu kesakitan dan membutuhkannya sekarang juga.  “Pamela”, lirih Leon, mengusap layar benda pipih yang ia lihat.


Leon dan Alonso menggunakan pesawat pribadi milik Leonard untuk pergi ke tempat tujuan, hanya beberapa pengawal yang turut serta. Leon pun mematikan daya ponsel, karena semakin membuat dirinya khawatir, ingin menangis mendengar suara Pamela yang kesakitan.


“Apa kamu menunggu daddy? Kalau begitu tunggulah tapi jangan membuat mommy kesakitan”, lirih Leon dalam hati, matanya terpejam.


.


.


.


Dua belas jam di udara pikiran Leon tetap mengarah pada wanitanya, rasa sakit pada tulang bagian belakang semakin terasa dari jam ke jam. Mungkinkah waktu kelahirannya masih dekat, sementara dirinya masih sangat jauh.


“Bagaimana istriku. Alonso?”


“Tuan, nyonya di rujuk ke rumah sakit GB Hospital, Nyonya Pamela hampir kehilangan tenaga dan hasil pembukaan jalan lahir hanya berubah sedikit”, tutur Alonso dengan takut menyampaikan pada Leon.


“Berapa jam lagi kita sampai?”, melirik ke arah luar, ia bisa dibilang beruntung memiliki burung besi ini, kalau tidak harus menggunakan pesawat komersial. Belum tentu detik ini mendapat tiket pesawat. Ia pun harus rela transit di bandara lain sebelum menemui istrinya, sangat memakan waktu lama, pikir Leon.

__ADS_1


“Lima jam lagi tuan, pesawat sudah memasuki kawasan Asia”


“Hem, cari terus kabar terbaru istriku”, perintah Leon kembali memejamkan mata melepas segala sakit pada punggung dan perut bawah, ia tidak lagi mengeluh kesakitan hanya duduk dengan suasana hati yang berdebar kuat.


“Kita akan bertemu Pamela, aku pastikan akan membawa mu pulang kali ini”, harap Leon dalam hati sembari tersenyum kecil.


Ugh..... sungguh dadanya berdebar kuat, Leon gemetar mengingat wajah cantik Pamela, ia rindu akan sentuhan dan menyentuh wanitanya, suara manis renyah Pamela yang memanggil namanya serta makanan yang Pamela masak di pagi hari.


.


.


Pesawat berlogo A.L Torres itu landing sempurna di bandara. Mobil khusus telah siap menjemput Leonard dan membawanya ke rumah sakit dimana istrinya itu menanti.


“Tuan, pembukaan jalan hari bertambah. Sepertinya anak anda tahu ayahnya akan datang”.


“Cepatlah, aku tidak ingin terjadi apapun pada istri dan anakku”, perintah Leon pada driver.


Tiba di pelataran rumah sakit, dada Leon sesak, telinganya berdengung, seakan ada yang memanggil namanya begitu kuat dan menginginkan kehadirannya saat ini.


“Leon”, suara Pamela yang meringis sakit sangat jelas. Leon pun menyisir area parkir mencari sumber suara tapi tidak ada apapun, sontak ia berlari sangat cepat menghampiri ruang rawat.


“Tuan, ruangan Nyonya Pamela di lantai 5, kamar 0101”, teriak Alonso yang juga turut berlari mengejar bos arogannya, disusul beberapa pengawal yang mengikuti langkah kaki kedua pria yang berlari lebih dulu.


Suara pintu terbuka keras


Tatapan Leon tertuju pada Pamela yang berbaring menyamping memegangi perut.


“Pamela”, lirih Leon.


“Kalian tunggu di luar”, memerintahkan Alonso dan pengawal lainnya ke luar ruangan, tidak ingin momen berharganya ini terganggu oleh para pria berjas hitam itu.


FLASHBACK END


**


Setelah terlelap dan mengistirahatkan tubuh selama dua jam Pamela melenguh, mulai sadar dari tidurnya. Mengerjapkan kedua manik coklat secara perlahan, seketika Nenek Pamela mendekat tapi ditahan oleh Leon.


“Aku saja nek”, senyum kaku Leon pada wanita senja itu.


Leon duduk di tepi ranjang rumah sakit yang cukup luas ini, netranya memandang wajah Pamela yang pucat dan bibir yang kering. Menopang dagu dengan satu tangannya, tersenyum manis pada sosok jelita yang tengah mengedipkan mata.


Pria ini ingat betul Pamela yang baru terbangun dari tidur usai malam pertama keduanya, wanita polos yang melirik kesana kemari lalu menjerit hebat sampai memekakkan telinga seorang Leon.

__ADS_1


“Nenek, aku......aku haus”, lirih Pamela yang masih lemas tak bertenaga.


“Haus, aku bantu”, suara Leon terdengar lembut di telinga Pamela. Sontak ibu muda ini membuka lebar matanya dan kaku melihat apa yang dilakukan Leon.


“Leon?”, Pamela pikir semua itu mimpi, kehadiran Leon tidak nyata tapi semua salah, pria iblis berwujud tampan kini benar-benar hadir di depan matanya.


“Ayo minum, kamu bilang haus kan?”, membantu istrinya duduk menyandar dengan tumpukan bantal.


“Donatello?”


“Ya, namanya Donatello Xavier Torres. Bukankah sudah aku katakan?”, senyum Leon begitu tulus untuk pertama kali Pamela lihat.


Leon menggenggam tangan wanitanya tapi gerak cepat Pamela menarik tangannya dari Leon, meski samar ia ingat bahwa Leon pernah mencengkram paksa pergelangan hingga membiru bahkan keunguan.


Senyum miris hanya bisa Leon berikan, ia paham mendapatkan kembali istrinya tidak mudah. Tapi ia akan memanfaatkan sedikit status mereka dan putranya agar Pamela kembali dalam pelukan seorang Aleandro Leonard.


“Aku ingin melihat anakku”, imbuh Pamela membuang muka dari Leon.


Nyonya Torres segera membawa cucunya ke pangkuan Pamela, bayi ini masih pulas tertidur, bibirnya bergerak pelan dan aroma tubuhnya sangat harum.


“Putraku”, ucap Pamela, mengecup kepala El.


“Anak kita”, timpa Leon yang ingin keberadaannya diakui sebagai ayah dari Donatello.


“Terima kasih Pamela, memberi anugerah pada keluar besarku. Aku janji akan menjaga kalian dengan segala kemampuanku”, tutur Leon.


“Kalian?”, lirih Pamela bertanya.


Klek


Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan seluruh orang yang hadir di ruangan kecuali Pamela tetap fokus pada bayinya.


“PAMELA”, suara pria yang tidak asing dan seketika bayi merah dalam gendongan ibunya menangis mendengar suara seseorang yang berisik.


“Pamela, kamu sudah melahirkan?”, Dylan masuk ke kamar tanpa izin lebih dulu.


“Tuan maaf, kami sudah mencegah Tuan Muda Dylan, tetap beliau memaksa dan menunjukan ini”, Alonso mengangkat hadiah yang dibawa Dylan.


“Bawa dia keluar sekarang juga, jangan ganggu anak dan istriku”, perintah Leon menatap tajam pada Alonso, pengawal, lalu Dylan.


“AWAS KAU LEON”, geram Dylan.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2