
BAB 97
Pamela semakin menyalurkan bakatnya melukis, bahkan Leon mendatangkan guru khusus yang mengajari istrinya. Wanita itu hampir tidak keluar area mansion, kegiatannya sehari-hari hanya berurusan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk keluarga.
Tepat seperti keinginan Leon memiliki istri penurut dan mendedikasikan banyak waktu untuk keluarga, sebagaimana Nyonya Besar Torres.
“Lukisan mu semakin bagus dan bernilai jual tinggi, apa harus mengadakan pameran khusus?.” Kecup Leon di puncak kepala Pamela.
“Benarkah? Aku lihat masih sama belum ada perubahan. Terima kasih Leon, mendukung semua yang aku lakukan.”
“Apa yang tidak untuk istriku, kamu ingin oleh-oleh apa?.”
“Ummmm.....apa ya? Aku rasa tidak ada, eh aku hanya minta suamiku pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Aku pasti merindukanmu Leon,.” Pamela memeluk tubuh suaminya sebelum pria ini bertolak ke New York untuk perjalanan bisnisnya.
Kali ini ia tidak pergi sendiri melainkan bersama Dylan, mereka memiliki projects kerjasama yang sedang berlangsung dan salah satunya di New York.
Leon dan Dylan tidak pernah akur kendati memiliki kerjasama, keduanya masih tetap bersaing dan selalu adu kekuatan. Asisten pribadi yang selalu mengekor kemanapun hanya bisa menggeleng kepala ketika tuan mereka berdebat, termasuk masalah kerjasama. Lebih menuju rival daripada rekanan.
“Kurang ajar Leonard membuatku menunggu, seharusnya aku menggunakan pesawat sendiri bukan menumpang padanya. Kenapa daddy memaksa harus menggunakan pesawat milik keluarga Torres ini?.” Dylan melirik jam tangan, 15 menit ia menunggu tapi mantan musuhnya itu belum juga terlihat batang hidungnya.
“Alonso......dimana tuanmu? Waktuku sangat berharga, tidak bisa dia menghargai hah? Pimpinan macam apa itu.”
“Tuan muda Leon sedang dalam perjalanan, diperkirakan kurang dari 5 menit tiba.”
Dylan semakin kesal pada Leonard yang begitu mudah memiliki sesuatu sedangkan dirinya harus menjadi yang kedua dan ketiga. Hanya berhasil satu kali mengungguli sorang Leonard, dan itu tidak terlalu membanggakan menurut Dylan.
Akhirnya mobil hitam yang ditumpangi Leon datang, dan mulai memasuki pesawat. Leon tersenyum sinis pada Dylan, karena wajahnya tertekuk malas. Apalagi dalam waktu cukup lama kedua pria itu harus berada dalam pesawat.
__ADS_1
“Hebat sekali pebisnis sepertimu bisa terlambat, tidak disiplin.” Cemooh Dylan, sedikit ternganga melihat sesuatu di balik kerah mantan rivalnya itu. Sesuatu yang ia sangat hapal dan aktivitas apa yang dilakukan Leon sebelum ini.
“Sengaja menunjukannya padaku, sial benar.” Gerutu Dylan.
Rupanya berhenti menjadi seorang casanova tidaklah mudah. Harus merelakan wanita cantik dan seksi melewatinya tanpa menyentuh ataupun menggoda. Semua karena Tuan Besar Manassero yang selalu memaksa Dylan menikah diusia yang melebihi kepala tiga ini.
Selain itu sejak Dylan mengejar cinta Pamela tidak ada lagi keinginan drinya bersama wanita lain, begitu besar daya tarik Pamela sampai bisa merubah kebiasaan buruk Dylan.
Delapan jam perjalanan melelahkan Leon dan Dylan tiba disalah satu hotel terbesar di New York, kota yang selalu hidup selama 24 jam ini memang memiliki keistimewaan tersendiri. Kedua pria tampan itu memutuskan untuk istirahat sebelum meeting bersama salah satu penanggung jawab proyek mereka nanti malam.
“Awas kau Leon kalau sampai terlambat lagi, tidak akan aku maafkan.” Ancam Dylan pada Leon yang telah menjauh.
Sedangkan dirinya fokus melihat ponsel, membaca beberapa laporan Manassero Corp yang diserahkan oleh asisten pribadinya.
BRUK
“Hey kau punya mata tidak? Kalau jalan fungsikan matamu dengan baik.” Murka Dylan, karena dirinya terbentur dinding dan nyaris saja ponselnya jatuh.
“Sial siapa wanita itu? Berani sekali padaku.”
Dylan yang emosi langsung memerintahkan anak buahnya mencari siapa wanita yang sangat lancang dan berani berkata kasar padanya. Tapi tanpa mengetahui nama dan hanya menyebutkan cir-ciri saja tidak cukup bagi asisten pribadi untuk mengungkap siapa yang dimaksud tuannya.
.
.
Malam hari Leon dan Dylan serta salah satu orang kepercayaan, duduk di restoran hotel membahas hal yang sangat krusial bagi kelangsungan projects ini. Hingga pemimpin perusahaan wajib turun tangan langsung.
__ADS_1
Dylan yang sedang fokus buyar seketika melihat wanita yang menabraknya tadi sore. Wanita itu merubah warna rambutnya menjadi hitam pekat tapi mantan casanova ini hapal betul struktur wajah dan warna bola mata yang sebiru lautan itu.
“Wanita aneh.” Gumam Dylan.
Leon menyadari arah pandang rekannya ini, dengan sengaja menginjak kaki Dylan cukup kuat dan berbisik “Aku senang kau bisa melupakan istriku, Dylan.”
“Sialan kau Leon.” Desis Dylan tidak terima pantofel mahalnya diinjak begitu saja oleh Leon.
“Tuan, apa anda tahu siapa wanita yang duduk disana? Sepertinya rekan saya begitu penasaran dengannya.” Leon yang tidak tahu tempat langsung menembak keingintahuan Dylan, dan bertanya pada rekan lain mereka.
Dylan hanya menanggapi dengan tawa tapi dalam hati sungguh jengkel dan marah pada Leon, bisa-bisa bertanya hal receh pada orang lain, sungguh memalukan dan merusak harga dirinya sebagai mantan casanova.
“Saya tidak terlalu mengenalnya dengan baik tapi gadis itu pemilik hotel ini tuan, putri dari kerabat pemilik hotel ini dan sebaiknya anda berhati-hati mendekatinya karena sepengetahuan saya Tuan Adam terkenal kejam dan tidak memiliki perasaan.”
Sontak Dylan menelan susah payah saliva yang begitu kelat, pantas saja perempuan muda itu sangat berani rupanya bukan berasal dari keluarga biasa. Lalu siapa lagi nama yang disebutkan? Pertama kali Dylan dengar.
“Apa baru pertama kali Tuan Muda Manassero mendengar Tuan Adam? Beliau pemilik kontruksi terbesar yang juga berkerja sama dengan perusahaan saya, perusahaan utamanya bergerak di bidang consumer goods, sepertinya belum merambah pasar Spanyol. Tapi keluarga besarnya berasal dari Inggris.” Tutur klien Leon dan Dylan.
“Menarik.” Bukan Dylan melainkan Leon yang merasa perlu berkenalan dengan gadis itu untuk mengembangkan sayapnya di bidang barang konsumsi.
“Lupakan Leon kau jangan berpikir mendekati perempuan lain, kalau sampai terjadi aku akan merebut Pamela dari sisi mu, tidak hanya itu tapi El akan menjadi anakku.” Ancam Dylan tidak ingin wanita yang dicintainya menangis dan merasa sakit lagi.
“Buang pikiran sempitmu itu, ck memalukan.”
Usai pertemuan, kedua manusia tampan ini memutuskan dan membuat jadwal kosong untuk tantangan berikutnya, panjat tebing. Leon dan Dylan sama-sama memerintahkan asisten pribadi merubah jadwal mereka.
Dylan yang merasa kondisinya sangat baik tidak ragu akan mengalahkan Leon di tantangan berikutnya, tidak apa hadiahnya bukan Pamela, yang penting ia ingin menang dari pria kejam itu.
__ADS_1
“Jangan mimpi untuk mengalahkan ku Dylan Manassero, jangan menangis ketika kau kalah nanti, ku pastikan akan membuatmu menyesal memberi tantangan itu.” Desis Leonard.
...TBC...