Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 94 - Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

BAB 94


Leon dan Pamela menyapa tamu undangan yang hadir, Tuan dan Nyonya Besar Torres benar-benar mengundang kolega bisnis yang sangat banyak, para tetua kerabat kakek Leon turut hadir memberi berkat pada keturunan mereka. Sedangkan tak satupun dari semua Pamela kenal karena ia hanya mengundang beberapa orang dan semuanya telah pulang.


“Kenapa kamu lelah?." Bisik Leon yang selalu memperhatikan wajah Pamela.


“Ya lumayan tapi aku masih kuat.” Senyum manis Pamela sunggingkan di bibirnya. Benar kata Leon untuk menjadi istri seutuhnya tidak mudah, sejak upacara pernikahan tak henti Pamela berkenalan dan menghapal semua kolega bisnis suaminya.


Usahanya dalam belajar selama beberapa bulan tidak sia-sia, semua terbukti hari ini, Pamela setidaknya banyak bercengkrama bersama para istri pengusaha terkenal. Semua ilmu yang ia pelajari benar-benar dipraktikan.


“Kita ke kamar.” Ajak Leon siap menggendong tubuh mungil Pamela yang terbalut gaun indah.


“Jangan Leon, pernikahan ini hanya satu kali seumur hidup kita. Lebih baik menikmatinya."


“Tapi kamu kelelahan, lepas saja sepatu itu, menyakitkan bukan?.” Leon menyingkap gaun Pamela dan terlihat kaki indah istrinya yang mulai membengkak. Pria ini menjentikkan jari, Alonso yang paham langsung meminta seorang maid membawa flat shoes milik Pamela.


Tidak sampai lima menit alas kaki untuk istrinya datang, Leon menundukkan diri seolah berlutut di depan wanitanya, perlahan melepas stiletto gold dan menggantinya dengan yang lebih nyaman di kaki.


“Terima kasih Leon, ta-tapi banyak yang memperhatikan kita." Cicit Pamela malu sekaligus tersentuh.


“Apa pedulinya? Abaiakan saja.”


Tidak ada yang menyangka bahwa pimpinan utama Torres Inc jatuh hati pada istrinya begitu dalam.


Setelahnya Leon rangkul pinggul Pamela dan menyapa tamu lain, sesekali mata biru safirnya juga melirik tajam pada Dylan. Menegaskan bahwa Pamela adalah miliknya, hanya milik Aleandro Leonard, dan dia pemenangnya, harap Dylan mundur sejauh mungkin.


“Maaf Tuan, Nyonya saya menggangu, Tuan Muda El menangis, menolak minum susu di botol." Lapor seorang maid.


Tentu saja sebagai seorang ibu Pamela mengutamakan anaknya, ia bergegas berlari kecil masuk ke ruang pengantin, ditemani Leon yang selalu ikut serta dalam pengasuhan El.


“Maaf El, kamu haus ya. Ayo sini sayang.” Meraih bayi gembul itu dari tangan Nenek Pamela.

__ADS_1


Leon sigap membantu istrinya melepas kancing di bagian belakang, semakin mempercepat Pamela memberi asupan nutrisi untuk putranya.


“Terima kasih Leon”


“Tentu saja itu tugasku meringankan beban istri”


Leon memainkan jemari El yang semakin bulat, menciumi kuku mungil bayi yang pernah tidak diinginkan ini. Jika waktu itu Leon sampai melenyapkan anaknya, maka penyesalannya semakin berat, dan pasti tidak akan bisa kembali merajut cinta bersama Pamela.


Lihat saja, karena El hadir di tengah kedua orangtuanya, bayi ini mampu membuat ayah dan ibu yang terpisah menyatu kembali.


“Terima kasih El, daddy sangat sayang El.” Tatap sayang Leon begitu besar pada anaknya.


Pamela menyugar rambut Leon dengan satu tangannya yang bebas, pria yang ia kenal sejak kecil kini menjadi suaminya. Pamela tersipu malu, pernah membayangkan ‘kakak tampan’ menikahinya di masa depan, dan ya inilah masa depan itu.


 Leon tanpa Pamela, sama seperti pohon yang kehilangan akarnya. Segala kekurangan, kelemahan Leon dan Pamela menyatu menyempurnakan kisah cintanya, karena sisi itulah keduanya bertemu dan menjalin hubungan hingga saat ini.


“Apa kamu mau kita tetap disini dan melanjutkan kegiatan lain?.” Tanya Leon penuh makna tersirat, sementara Pamela terus berpikir keras apa maksud suami kejamnya ini.


“Apa kamu lupa, ini malam apa? Malam pertama pernikahan kita.”


“Leon kamu benar-benar keterlaluan, malam pertama apa? Kamu itu seorang daddy bukan bujangan yang baru jatuh cinta dan menikah.” Gerutu Pamela tidak habis pikir pada suami batunya ini


“Kamu turunlah nanti aku menyusul setelah El tidur, riasan ku juga sedikit berantakan.” Tutur Pamela memperhatikan cermin besar menempel pada dinding.


“Oke, jangan lama Nyonya Torres.” Menyesap rakus bibir ranum Pamela.


Leon berjalan keluar ruangan, kembali ke taman bunga dimana para tamu menikmati makanan dan bercengkrama satu sama lain. Kaki Leon berhenti mendengar Alonso memanggil namanya, seperti ada suatu hal penting dan mendesak.


“Tuan?.”


“Katakan !!!!.”

__ADS_1


“Sebaiknya Tuan Leon segera ke taman, karena ......ayo tuan.” Ajak Alonso.


Mata Leon menatap tajam seorang yang berdiri di tengah para tamu, siapa yang tidak tahu wanita itu. Megan Stewart, mantan kekasih Leon sekaligus mantan tunangan Dylan Manassero.


“Kenapa tidak kalian usir??!!! Buang dia jauh-jauh.” Desis Leon kehadiran Megan merusak kebahagiaannya, dan rupanya wanita itu tidak jera menerima hukuman berat dari Leon.


“Tapi Nona Megan ingin bertemu Nyonya Pamela dan.....” Kalimat Alonso terhenti di tengah-tengah, mendapat lirikan tajam Leonard.


“Usir dia atau kau kehilangan pekerjaanmu Alonso.” Tegas Leon, ia takut jika Megan sampai bertemu Pamela dan mengatakan suatu kebohongan yang akan merusak segalanya.


Wanita itu sangat keras kepala, meskipun tubuhnya di seret paksa tetap Megan enggan keluar ia ingin bertemu Pamela dan neneknya. Susah payah mantan kekasih Leon menyelundup ke pesta menggunakan undangan milik kerabatnya, sekarang tidak ia biarkan keluar dengan mudah.


“PAMELA?.” Panggil Megan suaranya begitu keras, jika dalam ruangan pasti menggema dan berdengung di telinga setiap orang.


Sialnya Pamela menoleh mendengar seseorang memanggil namanya, ibu satu anak ini gegas menghampiri Megan , awalnya Pamela hanya ingin minta suaminya kembali masuk kamar tapi siapa sangka ketika mencari Leon malah mendengar suara dari wanita masa lalu yang membuatnya terluka.


“Pamela, sebaiknya kita ke kamar jangan dengarkan kata-kata wanita gila itu.” Leon merangkul dan mendekap erat tubuh wanitanya, ia tidak mau memiliki masalah lagi dengan masa lalu, cukup semua berakhir.


“Pamela, Leon.... aku minta maaf.” Kata-kata Megan mengalihkan tamu lain.


Dengan lancang Megan terus melangkah mendekat sampai akhirnya memeluk Pamela dan menangis di bahu istri mantan kekasihnya itu.


“Pamela maafkan aku, aku.......aku salah, aku mengambil masa lalu mu dan menuduh nenek mencuri perhiasan.” Ungkap Megan, kali ini tidak ada air mata palsu, Megan Stewart benar-benar menyadari kesalahannya, dari awal Leon memang tidak ditakdiran bersamanya tetapi ia memaksa dan aki banta sangat buruk bagi seluruh keluarga Stewart.


Kekuasaan Leon menghancurkan keluarga itu hingga benar-benar terjatuh ke dasar, dan tujuan Megan hanya satu, minta maaf pada Leon serta Pamela.


“Jangan dengarkan ular ini, sebaiknya kita temani El.” Leon memutar tubuh Pamela menghindari tatapan Megan.


“Leon, Pamela aku benar-benar tulus, aku janji ini terakhir kali kalian melihat wajahku. Mohon maafkan aku Pamela.” Tangis Megan.


Pamela yang tidak tega dan mudah tersentuh itu melepaskan rangkulan suaminya dan berjalan menghampiri Megan.

__ADS_1


__ADS_2