
BAB 72
Nyonya Torres cekatan memanggil dokter kandungan di mansion, memeriksa kondisi Pamela dan janin dalam kandungannya. Masih terbilang aman, pembukaan jalan lahir pun masih di skala 1, masih memerlukan waktu hingga mencapai pembukaan lengkap.
“Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?”, cemas Nyonya Torres melihat menantunya kesakitan.
“Saya khawatir nyonya akan menunggu lama dan tidak nyaman berada di ruang rawat sebaiknya disini saja dulu. Kami akan mendampingi Nyonya Pamela”
“Mom akan mengabari Leon”, menggeser tubuh dari sisi menantunya, dan tangan wanita paruh baya itu tertahan oleh Pamela.
“Mom, j-jangan. Aku mohon “, lirih Pamela. Nyonya Torres semakin bingung, antara senang dan sedih bercampur menjadi satu. Demi menjaga perasaan Pamela Nyonya Torres menuruti keinginan istri dari Leonard ini.
“Baik, sekarang kamu jangan berpikir negatif, tenangkan dirimu”, mengelus punggung menantunya begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Nyonya Torres memberi bahasa isyarat dengan kedua bola mata pada kepala pelayan, dengan sigap pria yang bertanggung jawab di mansion ini pun keluar kamar Pamela.
Menghubungi Leonard sesuai keinginan Nyonya Torres, tapi sangat disayangkan teleponnya tidak tersambung. Beberapa kali mencoba masih tetap sama tidak ada jawaban apapun, bahkan asisten pribadi Leon sama menghilang.
“Dimana Tuan Leon? Apa yang harus aku katakan pada Nyonya Torres?”, kepala pelayan berpikir sangat keras, dan akhirnya ia masuk kembali ke kamar Pamela, memberitahukan apa yang terjadi.
Seketika wajah wanita paruh baya ini menjadi tegang dan khawatir, sebelumnya mendapat kabar dari Alonso bahwa Leon sedang sakit tapi sekarang kedua orang itu menghilang entah kemana. Pengawal pun tidak tahu keberadaan Leon dan Alonso.
“Pamela, mom keluar sebentar”, mengelus puncak kepala Pamela dan tersenyum ramah pada nenek yang duduk di samping cucunya.
.
.
Empat jam berlalu dokter spesialis kandungan melakukan pemeriksaan pada bagian jalan lahir bayi, dan hasilnya masih tetap sama belum ada perubahan, tapi dokter tetap menyemangati Pamela dan menyarankan wanita hamil ini istirahat.
“Pamela, sebaiknya kamu tidur. Lihat, tidak baik ibu hamil kelelahan”, ujarnya menggerakkan bola mata pada jam tangan yang menunjukan 5 pagi.
“Tapi aku tidak bisa tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda, kamu tahu dadaku ini berdebar hebat. Apa setiap ibu yang pertama kali melahirkan akan mengalami hal serupa?”, tanya Pamela menghapus peluh di keningnya.
__ADS_1
“Ya tentu, beberapa dari mereka mendadak cemas berlebihan. Begini saja untuk mempercepat proses pembukaan nanti kita jalan-jalan pagi di taman mansion”, ide yang berhasil mengalihkan Pamela dari kegusarannya.
Ibu hamil itu pun tidur di pelukan sang nenek yang setia menemani, tidak meninggalkan cucunya satu detik pun.
“Mana mungkin bayi ini menunggu ayahnya, hah, hal macam apa itu”, kata hati nenek.
“Cicitku, kami semua sangat menyayangimu, kami menunggumu lahir, segeralah lahir dengan mudah dan selamat”, mengusap perut besar Pamela yang terhalang selimut.
**
Turki
“Daddy pikir aku tidak punya ide? Hah, pesawat pribadi bisa dicekalnya tapi maskapai penerbangan reguler mana mungkin”, tawa seorang pria yang memakai topi dan menggendong tas besar.
Kabur dari mansion dengan penjagaan ketat bukan hal sulit bagi Dylan Manassero, ia memiliki jalan rahasia sendiri yang dibangunnya sejak kecil untuk lepas dari pengawasan Tuan Manassero. Nasibnya sangat baik didukung dengan perginya Tuan Besar itu ke Kanada, tentu saja pengawal inti pergi mengikuti tuannya.
“Aku akan menemani Pamela-ku melahirkan”, Dylan mengepal tangan memberi semangat pada dirinya sendiri.
Pesawat yang ditumpanginya dari bandar udara di Spanyol wajib transit di Turki, sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Walau melelahkan tidak apa Dylan lakukan, semua demi Pamela.
Tidak sampai disitu, pria tampan ke 3 di Spanyol ini juga membawa banyak perlengkapan bayi, semua orang mengira dirinya adalah seorang ayah yang baru memiliki bayi.
“Aku harus yakin kali ini Pamela dan anaknya akan berhasil ku rebut dan kau Leon......kalah untuk kedua kalinya. Ku pastikan anakmu memanggilku Daddy, karena aku yang menemaninya selama dalam kandungan, bukan dirimu”, seringai licik Dylan.
Ia selangkah lebih maju dari pada Leonard, karena Pamela selalu membalas pesan dan menerima telepon darinya. Bahkan kunjungan Dylan pun tidak di tolak, walaupun Pamela tetap menganggapnya sebagai seorang teman tidak lebih.
“Sial, lama sekali pesawat ini lepas landas”, keluh Dylan pertama kalinya menggunakan pesawat komersial. Untung sajak tidak mengantre lama seperti kelas ekonomi, rupanya kekuasaan uang kembali berbicara dengan tiket yang ia beli.
Drt....drt
“Untuk apa lagi dia menelepon? Apa uang yang aku bayar kurang? Hah, pengemis”, umpat Dylan terang-terangan hingga orang lain menoleh tidak suka padanya.
__ADS_1
“APA? CEPAT KATAKAN !!!!!!!!. Aku sibuk”, sentak Dylan pada seseorang itu.
“HAH, apa kau bilang? Jangan bercanda? Tetap awasi terus”
Wajahnya yang semula penuh tawa licik dan otak yang memikirkan ide curang kini berubah sudah, hilang setelah menerima telepon itu.
**
Jakarta
Pamela berjalan keliling taman sesuai saran dari dokter kandungan, ditemani nenek, ibu mertua dan beberapa pelayan. Kendati masih kuat berjalan, sesekali Pamela meringis kesakitan pada bagian perut bawah. Nyonya Torres dan Nenek Pamela selalu siap membantu.
“Huh, apa boleh istirahat sekarang?”, tanya Pamela yang bercucuran keringat.
“Tentu saja Pamela, ayo kita duduk. Aku akan memeriksa tekanan darahmu lebih dulu ya, jangan lupa banyak minum, aku tidak mau kamu dehidrasi”, tutur dokter yang berteman dengan istri Leonard.
“Awww”, Pamela semakin meringis sakit, mencengkram kuat tangan Nyonya Torres.
“Pamela, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, mom tidak bisa melihatmu terus seperti sayang”, tatapan kasih sayang dan tulus. Nenek Pamela yang melihatnya yakin bahwa ibu mertua cucunya ini tidak ada niat jahat sama sekali.
Pada akhirnya Pamela dirujuk ke rumah sakit, tentu saja ruang rawat VVIP itu di sulap senyaman mungkin dan menyerupai kamarnya di mansion.
“Dimana anak nakal itu? Istrinya mau melahirkan dia malah menghilang. Dasar Leonard”, geram Nyonya Torres dalam hati.
Hasil pemeriksaan dokter terakhir, pembukaan sudah pada tahap 4 pantas saja wanita berambut panjang ini semakin meringis kesakitan.
“Sayang, cucuku lahirlah. Oma menunggumu, lahirlah dengan selamat sayang”, bisik ibu mertua Pamela di perut buncitnya.
GB Hospital membentuk tim dokter yang akan berkerja sama dengan dokter kandungan dari Spanyol untuk menangani istri dari Aleandro Leonard Torres.
“Sa-sakit nek”, keluh Pamela terus mengepalkan tangan sampai kuku panjangnya menusuk telapak tangan.
__ADS_1
"Leon"
...TBC...