Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 39 - Membohongi Nenek


__ADS_3

BAB 39


Dua minggu berlalu sejak malam itu, Pamela bisa bernapas lega dan bergerak bebas. Pasalnya Leon pergi untuk perjalanan bisnis ke Manchester dan Barcelona. Menurut informasi Alonso, Leon telah kembali 3 hari yang lalu dan ia langsung pulang ke mansion utama. Pamela hanya mengangguk paham. Mungkin dalam hitungan hari atau jam Leon akan kembali ke penthouse.


Selama 14 hari ini juga Leon hanya 2 kali menghubunginya melalui video call, hanya untuk memastikan keberadaan Pamela dan memberi ancaman pada istrinya.


Pamela leluasa mengunjungi rumah sakit, neneknya pun senang melihat cucunya menjenguk sangat sering bahkan menemani wanita lanjut usia itu melakukan operasi besar untuk kedua kalinya. Namun pertanyaan lolos dari bibir neneknya mengenai Dylan, entah kemana pria itu menghilang. Pamela pun tidak menemukan Dylan.


“Aku tidak tahu nek kemana Tuan Dylan, sebagai seorang pengusaha pasti sibuk dengan kegiatan yang padat”, jelas Pamela menciumi punggung tangan neneknya dengan sayang.


“Benar juga, tapi nenek senang karena tuan muda itu sangat baik, kamu bisa lebih sering mengunjungi nenek. Maafkan nenek yang menjadi beban hidupmu Pamela”


“Tidak, nek. Hanya nenek keluarga yang aku miliki, aku akan berkerja keras mendapatkan uang untuk biaya pengobatan nenek”, Pamela menahan sesak saat mengatakannya, ia hanya berharap neneknya segera sembuh dan menjalani hidup normal di luaran sana.


“Ya Pamela, selama pekerjaanmu itu baik tidak masalah. Jangan sampai kamu menjual tubuhmu nak”, nasehat nenek yang membuat Pamela tercenung, hatinya mencelos, justru sebaliknya ia telah menjual diri pada seorang Leonard. Jika tidak dari mana Pamela mendapat uang untuk transplantasi jantung sang nenek yang harus memiliki uang banyak serta sabar menunggu pendonor.


“Ti-tidak nek, nenek tenang saja. Aku hanya orang kepercayaan tuan muda”, jelas Pamela berbohong pada neneknya.


.


.


Keluar dari rumah sakit, Pamela berjalan kaki sampai di halte bus. Ia sengaja menggunakan mantel lusuhnya agar tidak memancing perhatian orang-orang bahwa apa yang ada di balik mantel itu adalah dress mahal rancangan designer terkenal.


“Maafkan aku nek, aku bukan bermaksud berbohong”, lirih Pamela di hatinya..

__ADS_1


Ketika ia sedang asyik terbengong dengan pikiran sendiri dan memainkan ujung rambutnya, mendadak mobil hitam keluaran terbaru berhenti tepat di depan Pamela. Wanita cantik ini memejamkan mata, ia yakin Leon menjemputnya dan marah karena keluar dari penthouse.


“Nyonya, ayo ikut. Tuan sudah menunggu di landasan udara”, ucap Alonso.


“Hah?”, Pamela sama sekali bingung, apa maksud dari kalimat Alonso.


“Sebaiknya cepat nyonya, sebelum tuan memerintahkan anak buah lainya mencari nyonya”, Ucap Alonso datar, Pamela mengangguk mengikuti langkah pria kekar bertubuh tinggi itu. Duduk di kursi belakang dengan bingung.


“Apa selama ini hanya kamu yang diperintahkan Leon untuk mencariku?”, tanya Pamela ragu-ragu.


“Ya, nyonya karena tuan tidak hanya mempercayakan pekerjaan penting pada saya tetapi juga kehidupan pribadi, sekalipun itu privasi. Untuk itu saya mohon Nyonya Pamela jangan bertindak ceroboh”, terang Alonso terus fokus menyetir mobil. Tidak tahu berapa gaji yang Leon bayar untuk pria datar ini tapi yang pasti, Alonso selalu melindungi keberadaan Pamela agar tidak diketahui bahwa istrinya beberapa kali melanggar peraturan.


Pamela mendengar penjelasan Alonso jika hari ini ia dan Leon akan terbang menuju Maldives, tunggu sebentar bukankah itu destinasi wisata yang cocok untuk bulan madu. Ah tidak Pamela jangan senang dulu karena di menit berikutnya Alonso menyampaikan maksud kedatangan ke Maldives.


“Kenapa Tuan Leon tidak mengajak kekasihnya saja? Kenapa aku? Bahkan dunia tidak tahu siapa aku”, Pamela tersenyum kecut. “Tapi Alonso, aku belum menyiapkan barang-barang”, ingat Pamela, apa iya dirinya akan menggunakan pakaian yang sama setiap hari.


“Tidak masalah nyonya, asisten rumah tangga telah menyiapkan semua kebutuhan anda”


“Tuan tidak akan pernah mengajak Nona Megan pergi jauh, nona angkuh itu bahkan memiliki tata krama yang kurang dan akan mempermalukan tuan di depan umum. Selain akan munculnya skandal bila tuan menjalin hubungan dengan Nona Megan”, kata hati Alonso menjawab keingintahuan Pamela.


.


.


Pamela bisa melihat Leon yang baru saja turun dari mobil sport mewahnya, dan untuk kesekian kali Pamela terpesona serta kagum pada sosok suami yang selalu menyakiti hati.

__ADS_1


Sebelum turun Alonso lebih dulu memberikan Pamela mantel yang layak pakai, “Nyonya gunakan ini, dan cepatlah turun jangan membuat tuan menunggu”.


“Huh”, keluh Pamela yang hidupnya terlalu banyak aturan bahkan untuk sebuah mantel.


“Silahkan turun nyonya”, Alonso membuka pintu belakang penumpang. Kaki jenjang indah yang terbingkai heels cantik menginjak aspal.


Pamela menelan saliva, benar-benar terasa seperti sebuah mimpi dari tidurnya. Pertama kali ia lihat pesawat pribadi, ya ini milik Leon karena nama jelas di badan pesawat “A.L. Torres”. Tangan dan kaki Pamela bergetar untuk berjalan menghampiri Leon yang berdiri di dekat tangga menuju pintu masuk pesawat.


“Hapus air liurmu Pamela, kalau tidak ku lempar kau sekarang juga”, bisik Leon meraih pinggang ramping sang istri dan menaiki undakan tangga.


“Selamat datang Tuan Torres dan nona, silahkan”, sambut pilot serta co pilot.


Netra Pamela melirik kesana kemari melihat keindahan buatan manusia yang luar biasa indah serta mahal ini. Betapa bermimpinya ia sedang berada dalam pesawat jet pribadi milik suaminya ini.


“Duduklah Pamela”, seru Leon, bahkan memaksa wanita yang tidak fokus mendengarkan perintah ini, sampai tatapan Pamela dan Leon terkunci beberapa detik. “Jangan memalukan, jaga sikapmu, dasar perempuan kampungan”, cibir Leon.


“Kalau aku kampungan kenapa tuan tidak mengajak Nona Megan? Biarlah aku terkurung di sangkar emas anda”, jawab Pamela berani dan tegas pada Leon.


“Kau berani melawan dan membalas kata-kataku? Ingat akan hukumanmu Pamela”, desis Leon.


Sontak Pamela hanya menelan saliva yang terasa sulit itu, ia berpegangan pada kedua sisi tempat duduknya ketika pesawat mulai bergerak.


“Tuhan tolonglah aku”, gumam Pamela menjadi tontonan Leon yang menghibur melihat kepanikan di wajah istrinya.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2