Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 58 - Tetap Mencari


__ADS_3

BAB 58


Satu minggu pasca pencarian gagalnya, Leon berubah menjadi kusut, penampilannya pun berantakan, wajah dipenuhi rambut halus.


Kembali pada kegiatan lamanya yang selalu mabuk setiap pulang kerja, tapi kali ini Leon tidak pulang ke apartemen melainkan mansion. Tuan dan Nyonya Torres tidak perlu mencari tahu kenapa putranya berprilaku seperti ini, sudah pasti jawabannya karena wanita.


Leon berangkat kerja lebih siang dan pulang larut malam, taringnya tetap menancap pada dunia bisnis tak ia kurangi sedikitpun. Namun kini Leon semakin kejam dan tidak terkalahkan, selama satu minggu ini juga wajahnya memenuhi beberapa majalah bisnis.


Sikapnya semakin arogan, tak menerima kesalahan sekecil apapun, setiap hari ada saja karyawan yang mendapat caci maki darinya termasuk beberapa direktur.


“Bagaimana apa ada hasilnya?”, tanya Leon melalui telepon.


“Kenapa kerja kalian tidak becus?”, maki Leon pada anak buahnya.


Dirinya mengerahkan seluruh kemampuan untuk menemukan Pamela tapi nihil, sampai pelosok desa Alonso dan timnya mencari Pamela tidak juga ditemukan, mereka pun curiga jika Pamela dan neneknya pergi meninggalkan negeri ini.


“Temukan, temukan secepatnya !!!!!!!”, bentak Leon menggema dalam ruangan.


Sementara hubungannya dengan Megan semakin dekat, iya wanita itu selalu datang ke kantor untuk makan siang bersama kendati bersikap acuh, Leon tidak menolak kehadiran Megan. Kekasihnya ini kerap kali meminta uang untuk pembayaran pada beberapa vendor yang menyiapkan pertunangan mereka. Tetapi Leon selalu berdalih jika perusahaannya sedang dalam perfoma kurang baik, membuatnya harus menghemat pengeluaran.


Megan percaya saja, karena ia yakin Leon berbeda dari Dylan. Selain itu penampilan berantakan kekasihnya tidak menjadikan Megan nyaman dan terkadang malu saat bertemu Leon di luar.


Sementara Leon mengatakan hemat pada kekasihnya, ia menggelontorkan dana sangat banyak demi bertemu kembali dengan istri yang saat ini mungkin masih mengandung darah dagingnya.


“Sayang aku pulang, kamu tidak perlu mengantarnya”, tolak Megan sebelum Leon menawarkan bantuan.


“Hem, hati-hati”, sahut Leon dingin dan datar seperti jalan bebas hambatan.


Megan meninggalkan ruangan Leon, ia bisa bernapas lega. “Ada apa dengannya? Kenapa tidak merawat wajah?”, Megan mendengus kesal. Tentu ia kesal, karena tambang emasnya kini menghentikan pengiriman uang dan tidak bisa diajak pergi keluar hanya untuk berkencan dan Megan tidak menyukai pria kaku.


.

__ADS_1


.


Malam hari Leon kembali menyambangi club dimana pertama kali bertemu sang istri, berharap wanita itu kembali bekerja. Leon yang mabuk selalu memperhatikan pelayan lalu lalang, mencari diantara mereka wajah wanitanya.


Matanya masih cukup tegas bisa membedakan semua, tidak ada Pamela di dalam sini.


Kembali meneguk minuman beralkohol sampai hampir tidak sadarkan diri, sebenarnya Leon memiliki toleransi terhadap kadar alkohol tapi malam ini berlebihan dan melewati batas.


Alonso selalu setia mengawasi tuannya dari jarak dekat, dirinya sigap menangkap tubuh Leon saat terjatuh karena tak bisa menjaga keseimbangan. “Hey Alonso”, Leon tertawa sendiri.


Alonso tidak kuasa melihat tuannya kembali bersedih merasakan patah hati, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Leon  tidak menjaga pola makan dengan baik, menghabiskan waktu di kantor dan bar.


“Apa istriku sudah pulang? Jawab Alonso”, Leon melantur kesana kemari, dirinya pun heran kenapa sulit menemukan nyonya muda itu, jadwal perjalanan darat hanya melalui kereta dan tidak ada perjalanan udara. Tidak mungkin kan kedua wanita itu berjalan kaki ke tempat tujuan?.


Kemampuan Alonso yang luar biasa itu rasanya hilang karena tidak juga menemukan dimana keberadaan Nyonya Muda.


Tiba di mansion lagi-lagi asisten pribadi Leon mendapat tatapan tajam dari Nyonya Besar, “Terima kasih Alonso”, ucap wanita paruh baya penuh penekanan.


BRAK


“Sayang lihat, anakmu. Kenapa dia sepeti ini? Benar-benar perempuan tidak beretika, aku ingin pertunangannya batal”, seru ibunda Leon pada Tuan Besar Torres yang berdiri memandangi putra tunggalnya.


“Kau sudah pulang”, Leon menarik pinggang dan memeluk erat ibunya.


“Tentu saja, seharian ini aku di rumah. Kenapa?”, sinisnya selalu mendapat pelukan dari putranya.


“Aku merindukanmu”, Leon mencium pipi Nyonya Torres.


“Hah, lihat anak ini seperti anak kucing yang sedang manja pada induknya”, menyingkirkan tubuh bau alkohol dan membantu Leon berbaring.


“Aku merindukanmu”, gumam Leon dalam tidur, setiap malam dirinya selalu memimpikan Pamela yang kembali pulang ke penthouse.

__ADS_1


“Biarlah dia menyelesaikan masalahnya sendiri, anak itu telah dewasa. Menyangkut Megan kau tidak perlu khawatir, itu tidak akan terjadi”, Tuan Torres melirik pada putranya yang terlelap tidur.


Keduanya keluar kamar tidur, rasanya seperti baru menemani Leon kecil terlelap namun berbeda, dahulu tingkahnya menggemaskan tapi sekarang sangat menguras tenaga, emosi dan pikiran.


**


PAmela tersenyum senang sembari mengelus perutnya, ia senang melihat hasil USG janinnya. Sangat sehat dan pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.


Tadi pagi dirinya sempat sedih melihat banyak ibu hamil yang diantar oleh suami mereka, tatapan cinta terpancar dari keduanya, apalah Pamela yang datang bersama neneknya.


“Tumbuhlah dengan sehat, aku menyayangimu. Tidak apa kita hanya berdua, aku yakin kamu anak yang kuat dan hebat”, Pamela bicara pada anaknya. Dadanya pun ngilu, ia iri pada kebanyakan wanita hamil didampingi suami mereka, sedangkan Pamela menyembunyikan kehamilannya? Ayah dari anaknya bahkan ingin menggugurkan kandungan ini.


Tidak apa berharap dan memimpikan suami mendampingi selama itu tidak berlebihan dan membuat  Pamela sedih berlebihan.


Baginya Leon telah mati bersamaan dengan kalimat menyakitkan yang terkahir Pamela dengar. Jahat, iya  memang jahat. Dirinya berharap tidak akan bertemu lagi dengan suaminya itu untuk selamanya, biarlah menjadi ibu tunggal walau sulit.


“Terima kasih untuk uang yang tuan berikan, nenekku sembuh dan sehat seperti sekarang”, lirih Pamela memandangi nenek yang nampak sibuk di dapur mengolah makanan.


“Kamu adalah anugerah bagiku, kita akan menghadapi dunia berdua, jangan takut. Jadilah anak tangguh, aku mencintaimu anakku”, Pamela meneteskan air mata, menyambut kenyataan pahit baginya hamil dan membesarkan anak tanpa suami.


Ia pun enggan mencari pengganti Leon, selain harus mengurus berkas perceraian ke pengadilan, hal ini pasti akan memudahkan Leon mencarinya. Pamela trauma menjalin hubungan bersama pria, saat ini mendapat perawatan psikis seadanya dari klinik desa.


“Pamela ayo makan, ubi panggang kesukaanmu dan cicitku sudah matang”, teriak nenek dari dapur.


“Iya nek, tidak perlu meninggikan suara. Aku mendengarnya”, mencium pipi keriput neneknya.


“Nenek banyak menerima ubi dari tetangga, mereka sangat baik. Makanlah yang banyak, ini sangat manis”


“Terima kasih nenek”, meneguk susu yang dibawakan Dylan satu minggu lalu, terkadang rasa sakit pada hati karena pria yang perhatian padanya bukanlah ayah dari janin dalam kandungan melainkan pria lain.


“Jangan ingat Leon lagi Pamela”, lirihnya dalam hati, sambil tetap tersenyum kaku dan menikmati makan malam yang terlambat ini.

__ADS_1


...TBC...


 


__ADS_2