
BAB 77
Pamela dan Leon sama-sama mendapatkan pendidikan parenting yang telah disiapkan. Meskipun begitu keduanya baru belajar selama satu minggu.
Untuk Leon sendiri di tuntut bisa bersikap sebagai seorang suami yang tanggap pada istrinya ketika baru melahirkan dan menjaga anak mereka. Sedangkan Pamela diberikan pengetahuan tentang bagaimana menangani bayi baru lahir dan meredakan stress yang mungkin muncul setelahnya.
“Bagian mana yang tidak bisa?”, tanya Leon berbeda dari biasanya.
“Ummm.... aku rasa harus pergi ke kamar nenek, pasti nenek bisa bantu atau mom bisa”, Pamela turun dari ranjang, tetap mengeratkan tangannya pada El.
Kesempatan emas bagi Leon, tidak akan ia sia-siakan kesempatan yang datang padanya. Dengan begini Leon yakin Pamela akan luluh dan memaafkan semua perbuatannya di masa lampau.
“Aku bantu, tidak perlu keluar kamar”, menahan kedua bahu Pamela dan memaksa wanita itu duduk di tepi ranjang.
Leon menurunkan pandangannya pada bayi yang merengek di pangkuan sang istri, lalu beralih pada Pamela.
Segenggam daging dalam dada berdenyut nyeri, istri yang ia rindukan masih enggan menatapnya bahkan untuk kebaikan El pun Pamela tidak mendengarkan Leon.
Usaha Leon kali ini menahan sang istri dalam kamar tidak berhasil, karena nyatanya Pamela keluar dari ruangan ini dan masuk ke kamar neneknya di lantai satu.
“Sabar Leon”, menghembus napas kasar, ia mengerti akan penolakan Pamela. Dahulu Pamela begitu penurut dan takut akan perintahnya, ia pun selalu murka bisa mendapat sedikit saja penolakan.
Sekarang bukan lagi rasa amarah dalam diri tetapi berganti menjadi sedih, siapa yang tidak sakit setelah menahan tumpukkan rindu yang menggebu, dengan harapan mendapat pereda dan melepas kerinduan, justru tertampar kenyataan menyakitkan.
Pamela tetap menolaknya, walau tanpa ada kata yang keluar dari bibir ranum wanita itu.
Sementara Pamela dalam kamar neneknya terus berlatih cara memberikan nutrisi terbaik yang ada pada dirinya untuk El.
“Kenapa tidak mudah nek? Beberapa hari yang lalu aku belajar memposisikan bayi yang benar, tapi sekarang El tidak nyaman”, keluh Pamela menghela napas.
“Kamu hanya belum terbiasa, pelan-pelan saja Pamela. Nenek akan terus mengajarkannya padamu”, tutur wanita sepuh ini.
“Sekarang coba gendong El dari kasur, kamu harus mendapat kenyamanan baru anakmu akan nyaman kalau ibunya sendiri tenang”.
“Baik Nek”, untuk perempuan berusia 21 tahun seperti Pamela yang tidak terbiasa mengurus bayi tentu menjadi kesulitan tersendiri.
__ADS_1
“Apa ada yang kalian katakan? Bagaimana hubungan kalian?”
Seketika Pamela yang sedang memberi asupan gizi untuk anaknya ini terhenyak mendengar kalimat neneknya.
“Maksud nenek aku dan.........dan Leon?”
“Iya, siapa lagi? Apa kamu berharap nenek akan tanya hubunganmu dengan Tuan Muda Pembohong itu?”
“Tidak nek, bukan seperti itu”, Pamela tersenyum kaku menanggapi apa yang dikatakan neneknya.
Leon yang telah selesai merapikan diri keluar kamar menyusul istrinya dan berpapasan dengan Nyonya Torres, “Bagaimana Pamela? Apa dia baik-baik saja?”.
“Ada di kamar nenek”, jawab Leon tidak perlu menjelaskan lebih.
“Ah begitu rupanya. Kamu harus tetap sabar Leon, mom yakin rumah tangga kalian akan kembali utuh”, tersenyum hangat dan memeluk putranya.
“Maaf, Tuan Leon dan Nyonya Besar, di luar, pos pengamanan ada keributan. Tuan Dylan datang mengantar Alonso dan memaksa masuk mansion”, tutur seorang pengawal yang datang sangat tergesa-gesa.
“Maaf mom, pria satu itu harus ku bereskan”, geram Leon berlalu dari hadapan ibunya.
“Apa Tuan Besar Manassero tahu bayi kecilnya keluar dari kandang?”, dengan tatapan tajam , Leon turun dari buggy car.
“Hey, apa maksudmu? Kau harus tahu Leon, aku ini datang memberi banyak hadiah untuk bayi Pamela, dan asisten mu ini dengan sangat baik ku perhatikan, mengantarnya sampai mansion”.
Seketika Alonso menundukkan wajah, ia merasa bersalah pada tuannya, karena diantar pulang oleh Dylan kini di mansion terjadi keributan, mengganggu waktu istirahat Leonard.
“Maaf Tuan”, tunduk Alonso.
Leon mengusir Dylan dan tidak mengizinkan pria itu menginjak sedikitpun tanah mansion, atau melihatnya dari jarak dekat tidak diizinkan.
“Kau lihat saja Leon, Pamela pasti marah karena aku diusir seperti ini”, mengeluarkan gawai dari dalam saku, menekan layar beberapa saat lalu menunggu sambungan teleponnya diterima oleh Pamela. “Ah Pamela dimana kamu?”, kesal Dylan.
Leon yang mendengarnya sangat tidak senang, Dylan dengan mudahnya akan menghubungi wanita miliknya dan mengetahui nomor telepon Pamela. Benar-benar pria tidak tahu diri, dan keterlaluan.
“KAU ALONSO, HUBUNGI TUAN BESAR MANASSERO SEKARANG JUGA”, lantang Leon, napasnya memburu dan telinganya panas.
__ADS_1
“Katakan padanya anak yang ia jaga kabur atau jika tidak antar pria gila ini pulang ke Spanyol”, tegas Leon.
“Siap Tuan Leon”
Dylan yang mendengar itu semua sontak melebarkan kedua matanya, dan melangkah maju ingin menyerang Leon tapi tidak semudah itu, ia yang lemah dalam bela diri tertahan oleh para pengawal yang berjaga.
“AWAS KAU LEONARD, PAMELA AKAN MEMILIHKU”
“Untuk yang satu itu tidak akan pernah, kau bisa memungut sampah dari kakiku tapi.........tidak bisa merebut berlian yang aku jaga”, Leon menunjuk bagian dadanya semakin mempertegas pada Dylan.
“Menyerahlah Dylan sebelum kau menangis, dan sekarang waktu yang pas untuk seorang hama seperti mu menghilang”.
Kalimat Leon sangat menyerang harga diri Dylan sebagai seorang pria yang dicintai dan digilai para wanita, dari beragam profesi sangat mudah Dylan dapatkan tapi Pamela begitu jauh tergapai meskipun di depan matanya.
Terpaksa Dylan pergi dengan mobil mewah yang baru dibelinya, Pamela yang diharapkan dapat membantu ternyata tidak menerima panggilan telepon darinya.
Dylan tidak tahu jika Pamela sibuk mengurus putra kecilnya dan benda pipih milik istri Leonard itu tergeletak di kamar utama.
“Hah, membuang waktu”
“Kau Alonso, karena berani membawa pria itu masuk, ku tugasnya khusus untukmu. Pastikan Dylan kembali ke Spanyol, apapun itu, gunakan cara agar Tuan Manassero menyeret paksa putranya”
“Baik Tuan”
“Setidaknya ini lebih baik dari pada potong gaji”, batin Alonso merasa lega.
Masuk dalam mansion, manik biru safir Leon menangkap istrinya yang baru saja keluar dari kamar nenek. Senyum pada wajah Pamela membuat Leon membeku di tempat, padahal bukan ini keinginannya melainkan mendekat, dan merangkul wanita yang sedang menyusuri undakan tangga.
Mendapat sebuah ide, Leon bergegas melangkah. Berjalan mengikuti irama yang keluar dari alas kaki Pamela.
Namun kehadirannya ini dirasakan oleh ibu dari anaknya, sontak Pamela menoleh dan mengerutkan kening.
“Oh, aku menjaga kalian, seharusnya kamu menggunakan lift bukan tangga”, alasan Leon mencari kesempatan, dia juga tidak menerima bantahan dari istrinya, dan memang benar lebih baik Pamela menggunakan lift karena lebih aman.
...TBC...
__ADS_1