
BAB 45
Mendengar jawaban Pamela, Nyonya Torres berubah sedih dan kehilangan harapan untuk menjodohkan Pamela dengan Leon. “Hah, jodohmu Leon telah menikah dengan pria lain”, ucap Nyonya Torres dalam hati.
“Ku pikir kamu belum menikah, karena usiamu masih terlalu muda, Pamela”
Pamela tersenyum kaku dan ya mau bagaimana lagi semua karena uang, kebutuhan mendesak itu tak bisa ditunda atau di ganti dengan hal lain. Ia pun tidak mau menikah semuda ini dan mengalami nasib buruk dari pernikahannya bersama tuan kejam tak memiliki hati itu.
“Baiklah kamu tidak perlu menjawab, itu hal pribadi, aku pulang Pamela. Sampaikan salam dan doa untuk nenekmu, semoga lekas sembuh”, Nyonya Torres mencium pipi kiri dan kanan menantunya. Sungguh Pamela merasa kehangatan bersama wanita paruh baya ini, andai saja ia belum menikah dengan Leon mungkin akan menerima tawaran Nyonya Torres dijodohkan dengan putranya, agar terhindar dari pria iblis seperti Leonard.
Cukup lama Pamela menunggu, hingga dokter keluar dan menyatakan jika neneknya telah melewati masa kritis , tapi tetap wajib dalam pengawasan dokter, hingga belum bisa dipindah ke ruang lain. Pamela pun menerima tagihan rumah sakit yang sangat besar, ia gunakan uang pemberian Leon untuk melunasi semua biaya perawatan.
“Berikan perawatan terbaik untuk nenekku”, ucap Pamela pada bagian administrasi.
.
.
“Nyonya?”, panggil Alonso melihat Pamela tertidur di kursi tunggu.
“Hah Alonso?”, Pamela kesulitan menelan saliva, ia tidak menyangka tangan kanan suaminya sendiri yang langsung menjemput Pamela dan sialnya menemukan keberadaannya, ia pikir para pengawal di penthouse akan menyeretnya pulang tapi ternyata bukan.
“Mari pulang, satu jam lagi tuan akan tiba di Penthouse. Seharusnya anda tidak boleh bertindak ceroboh seperti itu”, tegas dan dingin Alonso memberi peringatan pada Pamela.
Untung saja Leon sangat mempercayai Alonso, sehingga mudah bagi Alonso melindungi Nyonya Muda ini dari hukuman Tuan Muda, meskipun ia harus berdusta pada tuannya. Tapi jika Pamela tertangkap basah oleh mata Leon, maka saat itu Alonso tidak bisa melindungi wanita lemah ini.
“Apa kau akan mengadu lagi padanya?”, tanya Pamela yang mengikuti langkah kaki Alonso.
“Seharusnya nyonya tidak boleh bertindak bodoh, yang akan mengundang reaksi dari Tuan Leon, semoga nasib baik masih menaungi Nyonya”
Ditengah guyuran hujan dan dinginnya malam, Pamela tiba di penthouse segera melepas pakaian dan berendam menghilangkan lelah juga penat. Ia memejamkan mata sampai 30 menit lamanya, ketika kedua matanya terbuka Pamela tersentak dan nyaris tenggelam dalam genangan busa sabun.
__ADS_1
“L-Leon”, gugupnya.
“Rupanya kau disini? Ku pikir kucing kecil sepertimu sedang kabur dari tuannya”, Leon tersenyum licik memainkan air dalam bak mandi besar itu.
Tanpa Pamela bertanya ia tahu keinginan suaminya malam ini, dan sangat berharap malam ini tak akan pernah ada. Lagi pula kenapa Leon harus pulang secepat ini bukankah pagi tadi ia memiliki janji temu dengan kekasihnya.
“Aku pikir malam ini anda tidak pulang dan bersama Nona Megan”, Pamela berani menatap wajah tampan suaminya namun dingin menusuk ulu hati bahkan terkesan menguliti.
“Kau pikir siapa dirimu berani berpikir seperti itu? Kau tidak berhak mengetahui apapun tentang apa yang aku lakukan”, tunjuk Leon pada dahi Pamela. Lalu sigap pria ini membuka seluruh pakaian dan turut bergabung bersama Pamela berendam ditemani pemandangan gemerlap lampu kota.
Pamela membuang muka saat Leon meraih pipi dan mendekatkan wajahnya, hingga napas hangat itu hanya dirasakan telinganya.
“Ck, perempuan murahan seperti mu menolakku?”, sinis Leon yang gagal melabuhkan ciuman di bibir sang istri.
“Aku rasa sedang flu, tidak mau anda tertular penyakit ini”, balas Pamela sedikit pedas pada suaminya.
“Ok, kalau kau menolak, lagipula aku tidak pernah membutuhkan persetujuanmu. Pamela”, bisik Leon ditelinga Pamela membuat sang pemilik meremang. Wanita berambut curly ini benci situasi yang tak menguntungkan, membenci seluruh raganya yang harus terperangkap dalam kuasa Leonard.
.
.
Leon yang sedang duduk menyandar, menyipitkan mata melihat gawai Pamela menyala dan menunjukkan pesan dari seorang pria yang ia benci.
“Malam cantik, aku harap tidurmu nyenyak. Bagaimana kabarmu? aku berharap kamu baik-baik saja. Semoga kita bisa bertemu lagi Pamela”
“Kurang ajar”, geram Leon membanting keras smartphone satu-satunya milik Pamela.
BRAK
Bertepatan dengan Pamela yang masuk membawa jus di tangannya, “Hah, apa yang anda lakukan? Itu milikku”, teriak Pamela menatap nyalang suami kejamnya.
__ADS_1
Leon menyeret istrinya langsung menghempas Pamela yang bahkan masih menggunakan jubah mandi ke atas lantai beralas karpet.
“Aw”
PRANG
Gelas pun jatuh, pecahan bening berserakan di lantai, Pamela tidak tahu apa salahnya hingga Leon merusak barang penting miliknya. “Kenapa anda merusak ponsel ku?”, teriak Pamela memberanikan diri.
“DIAM”
Leon mencengkram kuat rahang sang istri sampai meringis sakit, “Berani sekali kalian masih berhubungan, kau tidak jera rupanya Pamela Gerard. Akan aku tunjukan seberapa berkuasanya aku”, geram Leon melepas kasar cengkeramannya sampai punggung Pamela jatuh, menyentuh lantai dan mengenai pecahan gelas.
“Akh”, pekiknya.
“Kau memang wanita tidak tahu terima kasih Pamela, apa kurang uang yang aku berikan? Berani sekali menjalin hubungan dengan pria brengsek seperti Dylan”, amarah Leon tak terkendali.
“Aku tidak mengerti apa yang anda katakan”, teriak Pamela yang mulai lelah menahan semua dalam dada.
“Lakukan saja apa yang ingin anda lakukan, aku tidak takut, bahkan jika anda membunuhku aku tidak takut”, teriak Pamela kalap, menumpahkan semua rasa dalam diri, ia benci Leon selalu mengancam dan mengintimidasinya. Menggunakan uang sebagai alat membungkam dan merantai kaki serta tangan Pamela.
Leon berjongkok menarik rambut Pamela ke belakang, menatap tajam istri yang kini banjir air mata serta keringat dan bagian punggung Pamela yang terluka. “Kau dengar baik-baik Pamela, mulai detik ini aku tidak akan mengirim uang sepeserpun padamu, dan jangan harap kau bisa lepas dariku, semua yang ada pada dirimu adalah milikku, camkan itu”.
Leon melangkah keluar kamar mengabaikan isak tangis Pamela dan rasa sakit pada punggung, darah pun mengalir sepanjang tulang punggung Pamela.
Asisten rumah yang mendengar keributan mengintip situasi dari bawah tangga, setelah tuannya turun ia segera naik dan betapa terkejutnya melihat pecahan gelas dimana-mana serta darah pada punggung Nyonya Muda Torres ini.
“Nyonya”, pekiknya. Membantu Pamela mengobati luka, ternyata bathrobe ini sedikit membantu, luka pada punggung tidak terlalu dalam hingga asisten rumah tangga bisa mengobati dengan mudah.
“Nyonya istirahat, biar saya yang membersihkan semua ini”, ia menangis melihat kekejaman yang dilakukan tuannya.
"Terima kasih"
__ADS_1
...TBC...