Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 57 - Kamu Dimana


__ADS_3

BAB 57


Pamela makan sup dengan tenang di meja makan, walau makanan sederhana jauh dari kata mewah ia tetap menikmatinya. Menambah berkali-kali, tidak lagi peduli jika bobot tubuhnya bertambah beberapa kilogram. Demi bayi dalam kandungannya, ia rela apapun akan dilakukannya.


“Pamela ada yang mencarimu”, panggil nenek.


“Siapa?”


Pamela tersentak melihat sosok pria tampan nan jangkung tengah memegang bunga dan beberapa kotak susu segar dalam bungkusan. Wajahnya terhalang oleh buket besar, untuk masuk rumah saja memerlukan bantuan. Untuk apa pria di depannya ini membawa bunga mawar merah sangat berukuran luar biasa itu.


“Hi, Pamela. Kamu tidak mengizinkan aku masuk? Perjalananku jauh kesini, kamu tahu? Aku cuti beberapa hari”, memperlihatkan wajah tampan yang selalu menyihir banyak wanita dan jangan lupakan bualan bibirnya selalu berhasil menjerat mangsa ke atas ranjangnya.


“Dylan, untuk apa kamu membawa ini semua?”, Pamela menatap banyaknya snack dan suplemen makanan yang dibawa pria ini.


“Tentu saja aku rindu dengan mu......temanku”, ucap Dylan tersenyum menyerahkan bunga itu pada nenek yang berdiri tegak di samping Dylan.


BRAK


“Berani sekali kau anak muda, berani datang menemui cucuku. Pria memang pembohong, aku ingin mencekik lehermu”, hardik nenek yang masuk ke dalam mengambil sapu dan memukul Dylan.


Pamela tertawa melihat tingkah keduanya, sampai akhirnya memisahkan Dylan dan neneknya. Ketiganya duduk di ruang tamu, rumah ini tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar, ruang tamu dan dapur serta kamar mandi namun cukup layak dihuni dari pada rumah lama di pinggir Kota Madrid.


“Aku bawakan ini untukmu, disini susah bukan mencari susu dan vitamin? Jagalah anakmu dengan baik Pamela”, ucap Dylan tulus, awalnya berat tapi Dylan berusaha menerima darah daging rivalnya yang kini bertumbuh dalam rahim Pamela.


Tentu saja untuk mendapat simpati Pamela, ia harus bisa menerima anak Leonard di dalam sana. Biarlah masalah keluarga menerima atau tidak urusan terakhir yang utama kini Dylan akan mendapatkan hati Pamela lebih dulu.


“Terima kasih Dylan, tapi kamu tidak perlu repot membawa semua ini”


“Ini, minumlah”, Dylan membuka penutup susu dan menuangkan dalam gelas.


Nenek yang memandangnya hanya diam, keduanya tampak seperti sepasang suami istri yang saling mencintai. Tapi wanita sepuh ini tidak akan memberi restu pada cucunya untuk menjalin hubungan dengan pria seperti Dylan.


“Untukku mana?”, tanya Nenek, memecah konsentrasi Dylan.

__ADS_1


“Ah itu...... ummm ini saja nek, semakin tua kita harus menjaga kesehatan tulang, minum ini nek”, Dylan menuangkan susu dan memberikannya pada nenek.


“Kau hanya ingat pada cucuku, tapi aku tidak, ya baiklah aku tidak membutuhkan apapun”, Nenek bergerak cepat dan meninggalkan keduanya.


“Sekarang tugasku bertambah, harus menaklukan nenek tua itu, ah yang benar saja? Waktu ku bersama Pamela hanya akan terbuang percuma”, kesal Dylan dalam hati.


Jauh datang ke desa ini untuk bertukar kata dengan Pamela tapi harus membujuk neneknya juga, dan Dylan tidak berpengalaman menggoda wanita senja seperti itu.


**


Di Hotel


“KENAPA? KALIAN AKU BAYAR MAHAL UNTUK MENCARI DUA WANITA”


“Maafkan kami tuan”, semua pengawal menunduk


“DIMANA ALONSO?”


“Apa semua ini lelucon? Kau tahu aku sangat ingin bertemu dengannya?”, Leon melempar vas bunga yang hampir terkena pada salah satu kepala pengawalnya.


Alonso dapat menjamin bahwa informasi yang ia dapatkan dari bagian tiket memang benar, tapi sampai beberapa jam mereka mencari tak kunjung menemukan sosok wanita yang dirindukan bosnya.


“Temukan Pamela sampai ke lubang semut sekalipun”, bentak Leon meninggalkan kamar hotel, ia pun membuang banyaknya bunga mawar dalam mobil, sampai memenuhi area parkir.


Leon tak ingin pulang bersama semua anak buahnya termasuk Alonso, ia merampas kunci mobil dan melaju cepat kembali pulang ke Kota Madrid. Laju mobilnya tidak terkendali, tidak peduli membahayakan diri sendiri serta orang lain.


“DIMANA KAMU PAMELA?”, Leon menjambak rambutnya berkali-kali, ya baru kali ini Alonso gagal mendapatkan sebuah informasi.


Setibanya di mansion. Leonard tidak keluar kamar, ia membanting keras pintu kamarnya, beruntung bangunan ini kuat kalau tidak , mungkin akan runtuh beberapa detik lalu.


Leon membanting benda dalam kamar, hampir semua terpecah menjadi beberapa bagian, dan ia tidak peduli betapa mahlnya itu semua sampai tubuhnya melepas tinju pada dinding.


“Sialan, dimana kamu Pamela?”, lirih Leon.

__ADS_1


Kakinya berdarah terkena pecahan beberapa hiasan, ingatannya langsung kembali pada beberapa bulan yang lalu dimana tangan Pamela terluka, akibat ia memecahkan gelas dan peralatan makan lainnya, tidak selera dengan makanan yang dibawa oleh istrinya.


Dengan tega Leon masih menyiksa istrinya, padahal jelas luka itu menimbulkan darah yang menetes seperti sekarang kakinya mengeluarkan darah.


“Sialan”, makinya pada diri sendiri. Ini semua karena dendamnya pada Megan dan wanita lintah yang hanya mencintai uang, hingga menyakiti wanita seperti istrinya.


Nyonya Torres yang masuk kamar memekik, memanggil maid untuk menghubungi dokter keluarga.


“Leon ada apa denganmu? Kenapa seperti ini? Apa karena wanita itu? Berapa kali mom katakan jangan pernah memberinya hati”, geram Nyonya Torres.


“Batalkan pertunangannya itu, aku tidak sudi menghadiri acara itu”


“Mom tidak perlu khawatir, aku akan tetap melanjutkan proses persiapannya”, kalimat Leon sukses membuat ibunya tercengang, sungguh luar biasa seorang Megan mampu membuat putranya membantah perintah orang tua.


Leon masih belum bisa berkata jujur mengena status pernikahannya, ia tidak mau semakin banyak masalah muncul, pasti ibunya ini tidak akan merestui Pamela karena hanya mantan pelayan bar.


“Bersihkan ini”, perintah Nyonya Torres. “Jangan sampai putraku menjadi gila karena wanita”, gumamnya keluar kamar Leon.


Kepala pria bermata biru safir ini sakit semakin mengingat apa saja yang telah ia lakukan pada Pamela. Rintihan dan tangis Pamela di malam pengantin terdengar jelas oleh Leon, kenapa bisa ia menyebut istrinya sebagai wanita murahan jika dirinya yang pertama bagi Pamela.


Tidak hanya itu, beberapa ancaman dan paksaan yang pernah dilakukannya kini semakin terekam jelas. “Semua ini karena kau Megan”.


Dokter keluarga Torres telah datang, tapi ia enggan diobati dan mengusir kasar dokter setengah baya. Dirinya membutuhkan Pamela bukan yang lain, bukan pengobatan.


“Pamela”, lirihnya, kini tidak ada kenangan apapun yang bisa Leon tatap untuk mengobati rasa rindu padang sang istri tercinta.


Nyonya Torres pun kembali masuk, ingin memarahi Leon yang membiarkan lukanya, bagaimana kalau infeksi, namun kalimatnya tertahan, melihat buku jari Leon terluka dan terdapat cap darah pada dinding.


“Ada apa lagi denganmu Leonard?”, teriak Nyonya Torres, langsung memeluk tubuh kekar putranya.


“Katakan pada mom ada apa?”, tanya ibu ini sangat lembut tapi Leon tidak mengeluarkan satu patah kata apapun.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2