Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 89 - Sehat


__ADS_3

BAB 89


Pamela akui kecelakaan yang menimpa suaminya memang berat dan tragis, mungkin jika orang itu bukan Leon entahlah keadaannya sekarang bagaimana. Tapi pria itu selamat dari kecelakaan, yang bahkan Pamela lihat motornya rusak cukup parah, padahal menurut hasil uji coba memiliki ketahanan pada benturan keras sekalipun.


Mengejutkan sekali bukan? Leon pulang ke mansion dalam keadaan selamat, keluarga mensyukuri keajaiban ini. Kendati mengalami kecelakaan parah, Leon masih bisa berjalan walau tertatih, kakinya terluka pada bagian engsel, bayangkan betapa ngilunya memiliki luka diarea itu?.


Dua hari suaminya hanya berbaring di atas kasur, tanpa melakukan gerakan kaki, sesekali ke kamar mandi membuang air, itupun dipapah oleh Kepala Pelayan dan Alonso, sikap Leon sangat manja seperti batita kecil yang harus selalu bersama ibunya.


Iya seharusnya ibu tapi tidak berlaku untuk Leon, melainkan Pamela. Pria berumur 30 tahun lebih ini menyukai Pamela di sisinya, ingin disayang, dimanja, mendapat sentuhan perawatan dari wanita yang ia cintai.


Pamela berkacak pinggang melihat Leon berjalan tegak tak terlihat sakit apapun, Leon yang baru saja masuk kamar setelah mengambil makanan untuk sang istri sangat luwes bergerak, seketika  tubuhnya mematung menyadari sesuatu.


“Pamela?”, lirih Leon menelan saliva yang begitu kelat.


“Ya?”


Menunggu penjelasan dari Leon, kenapa sekarang suaminya bisa dengan mudah berdiri dan berjalan mungkin juga bisa berlari.


“Akh, kaki ku sakit. Bisa lebih dekat? Tolong Pamela”, iba Leon, yang mulai ahli dalam berakting. Dia senang Pamela menurut membantunya membaringkan tubuh di atas ranjang.


Leon sangat menikmati segala bentuk perhatian Pamela, hal yang sangat ia inginkan mendapat balasan cinta, kasih sayang dan wujud perhatian dari orang yang dicintai.


“Pamela, kenapa kamu berhenti? Suapi aku sekarang, aku masih lapar”, pinta Leon, nadanya suaranya menggelitik pendengar Pamela.


“Makanlah sendiri Leon, aku lihat kamu baik-baik saja, tangan dan kaki bisa bergerak kesana kemari. Jadi gunakan saja tanganmu itu”, Pamela menolak bukan karena marah pada Leon.


“APA? Kamu lihat ini, ini, ini dan ini. Lukanya belum mengering, aku masih kaku menggerakkan sendok”, alasan Leon padahal baru saja Pamela lihat, pria itu mampu membawa nampan berisi satu mangkuk sup dan iga panggang lengkap baby potato panggang juga dua gelas minuman, satu susu  lalu satunya lagi jus jeruk.


“Apa kamu ingin aku terus di kamar seperti ini dan merepotkan? Aku juga mau sembuh Pamela, ayo suapi aku makanan”, permintaan yang lebih mengarah pada perintah tak terbantahkan.


“Ok, aku bantu makan, tapi......”, Pamela mulai duduk di tepi ranjang dan menyuapi suaminya makan hingga habis.


“Tadi, ada yang mau kamu sampaikan, apa itu?”, Leon menikmati sentuhan Pamela di bibirnya, menghapus noda makanan yang terisa.

__ADS_1


“Aku mau menjenguk Dylan, aku khawatir padanya”


Sontak Aleandro Leonard terperanjat dan turun dari atas ranjang, memeluk tubuh Pamela menjadi padu dengannya, sangat erat dan kuat.


“Jangan, apa kamu tega meninggalkan suami yang sakit sendirian?”, bisik Leon, tidak rela wanitanya pergi menjenguk rival bisnis sekaligus kehidupan asmaranya.


Pamela mendorong tubuh Leon sedikit menjauh darinya, sampai pria ini mundur beberapa langkah. Manik coklat Pamela terus memperhatikan Leon dari atas ke bawah secara berulang, lalu beralih pada luka-luka di wajah, lengan dan menatap pada bagian kaki yang terbungkus celana panjang. Sepintas Leon memang sakit, tapi fisiknya ini masih mampu melakukan kegiatan normal.


Lihat saja ia sigap memeluk Pamela karena takut bertemu dengan Dylan.


“Kamu ya sakit?”, tatapan selidik Pamela.


“Ya, lihat kan luka ini. Ini perih Pamela”, manja Leon kembali duduk dan membaringkan tubuh.


“Aku mau menjenguk Dylan, bagaimanapun kita berteman, dia selalu menemaniku saat aku hamil, aku merasa berhutang padanya Leon”, tutur Pamela mengingat Dylan banyak membawa susu dan suplemen makanan untuk Pamela dan El, lalu jaket dan perlengkapan bayi lainnya.


“Oke, aku antar dan ikut. Aku tidak akan membiarkan istriku pergi sendirian”, pungkas Leon. Merasa pura-pura sakit ini tidak berguna, dan mengakhirinya.


.


.


Dua insan ini sampai di rumah sakit milik Keluarga Torres, Leon tak melepas sedetik pun tangan Pamela dari genggamannya, sedari keluar kamar hingga melangkah masuk ke area rumah sakit.


Beberapa perawat tidak asing pada Pamela dan Leon, ya tentu Pamela satu tahun yang lalu sering mengunjungi tempat ini untuk menyelesaikan biaya administrasi neneknya, menjenguk sang nenek yang dirawat.


Untuk Leon sendiri, merupakan putra pemilik rumah sakit, tentu semua jajaran mengenalnya.


Menatap tidak percaya wanita yang berpegangan tangan bersama Tuan Muda Torres adalah Pamela, lalu apa hubungan mereka? Apa Pamela istri yang selama ini disembunyikan Leon? , banyak pertanyaan di benak para perawat dan dokter itu.


“Leon mereka memperhatikan kita”, bisik Pamela, ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian.


“Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri dengan publik, kedepannya akan lebih banyak mata yang memperhatikan mu, aku akan menggelar pesta pernikahan kita, tapi tidak dalam waktu dekat”, tutur Leon, dan ya langkah kaki Pamela seketika terhenti.

__ADS_1


“Apa? Tapi aku cukup nyaman hidup seperti ini Leon”, jawab Pamela.


“Tidak Pamela, aku ingin dunia tahu kalau wanita cantik ini milikku, milik Aleandro Leonard Torres”, Leon menangkup kedua sisi wajah istrinya dan melabuhkan satu kecupan pada bibir ranum Pamela.


Pandangan Leon turun ke jari-jari lentik Pamela, tidak ada satupun cincin melingkar cantik yang menghiasi. Tiba-tiba Leon ingat, ia pernah mengajak istrinya ini untuk memilih perhiasan tapi nyatanya sengaja diberikan untuk Megan.


“Maaf Pamela”


“Untuk?”


“Semua, aku akan menebusnya”, senyum Leon hangat.


Keduanya kembali berjalan menuju kamar Dylan.


Pamela menangis menatap Dylan yang hanya bisa terbaring lemah dengan kaki dan tangan menggunakan penyangga.


”Dylan?”, tangis Pamela pecah begitu saja, walaupun pria ini tidak memiliki hubungan baik dengan Leon tapi Dylan selalu bersikap baik dan menyenangkan pada Pamela. Terutama ketika mengandung El, Dylan selalu menyediakan waktu luang untuk Pamela.


Ada


“Pamela kamu datang dan ya bersama bodyguard”, malas Dylan menatap Leon.


“Jangan menangis Pamela, aku sehat dan baik-baik saja”, bohong Dylan berbanding terbalik pada kenyataan yang  jelas terlihat.


“Cepat sembuh Dylan, El pasti senang suatu hari bisa bertemu denganmu”, serak Pamela tetap menangis bersandar pada suaminya.


Dylan menatap iri dan miris pada kenyataan yang kali ini berakhir pahit, Pamela tidak berhasil ia rengkuh dan mendapat buah dari kekalahannya di sirkuit balap motor.


“Apa kau menyerah Dylan? Bukankah sudah ku peringatkan menyerah di waktu yang tepat sebelum kau menangis karena kekalahan”, tegas Leon.


“Aku masih memiliki satu tantangan untukmu Leon, tunggu aku sehat, dan aku akan mengalahkan mu”, senyum Dylan.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2