Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 36 - Pelajaran Untukmu


__ADS_3

BAB 36


Hal yang sangat memuakkan bagi Pamela duduk di atas pangkuan suaminya, menemani Leon berkerja. Sesekali tangan pria itu pun tak diam melainkan semakin merapatkan Pamela mendekat dan menempel padanya. Tentu hal ini muak karena ia harus menggoda Leon secara sengaja, membuat wanita yang duduk di sofa tengah menatap tajam pada Pamela yang menguasai kekasihnya.


Leon tidak peduli pada dua wanita yang saling tatap, ia begitu menikmati suasana mencekam diantara keduanya. Seperti itukah kekasih dan istrinya menjaga uang mereka, pikir Leon di kepalanya.


Megan hanya bisa menahan kesal dengan mengepalkan kedua tangan di atas paha, niatnya datang menghampiri Leon hari ini ingin makan siang tetapi melihat pemandangan di luar dugaan. Megan pun heran apa kini kekasihnya seorang player? Tetapi Leon masih enggan menyentuhnya, hal yang semakin membingungkan bagi Megan.


“Sayang aku lapar”, cicit Megan memegang perutnya.


“Ok, baiklah kamu mau makan dimana?”, tanya Leon menyandarkan tubuh hingga Pamela ikut bergerak menahan bobot tubuhnya, selain takut terjatuh ia juga tak sudi ikut menyandar pada Leon.


“Pria macam apa dia ini, mempermainkan wanita seperti ini”, geram Pamela hatinya memberontak tapi tubuhnya diam bagai patung.


Leon menghubungi Alonso untuk memesan tempat khusus bagi ketiganya, dan tentu saja ruangan itu harus VVIP karena Leon enggan berbaur dengan banyak orang.


“Kalau begitu, apa aku boleh minta tolong Alonso untuk mengantar ku pulang, tuan?”, tanya Pamela ragu-ragu, meremat kedua tangan yang tanpa berhiaskan cincin pernikahan.


“IKUT”, tegas Leon menusuk telinga Pamela.


**


Disinilah ketiganya duduk  dalam ruang VVIP restoran yang lokasinya tidak jauh dari pusat perkantoran. Lagi-lagi Pamela harus merelakan suaminya disentuh dan duduk bersebelahan dengan Megan. Statusnya sebagai istri tidak bisa gunakan, orang-orang hanya mengetahui Pamela adalah wanita bayaran Leon. Tidak salah memang julukan itu di sematkan padanya, ia memang bayaran dan Leon membayarnya sangat mahal.


“Aku permisi ke toilet”, ucap Pamela sesak dalam dada melihat Megan menyentuh rahang dan mencium pipi, rahang serta bibir suaminya. Selain itu Leon hanya diam saja seakan menikmati sentuhan yang berikan kekasihnya.

__ADS_1


Pamela mengepalkan tangan, menarik napas yang habis dalam rongga dadanya, menghilangkan rasa sesak dalam dada yang ia sendiri tak mengerti. Bulir bening yang nyaris menetes, seakan mengering cepat saat tangan wanita menariknya paksa hingga membentur dinding toilet.


“Nona Megan, ada apa?”, Pamela tidak mengerti kenapa Megan menyusulnya ke toilet.


“Hey dengar kau murahan, Leon adalah kekasihku dan dia milikku. Rayuanmu sangat murahan, dia tak akan pernah memilih mu, dasar wanita j*****”, umpat Megan menatap benci pada istri dari kekasihnya ini.


Pamela hanya menanggapi dengan senyum tipis mendengar apa yang disampaikan Megan. Ia meggelengkan kepala, dadanya bergemuruh mendengar kata-kata jahat Megan. Jika bisa Pamela ingin mengatakan pada dunia bahwa ia adalah istri Leonard Torres.


“Kenapa kau tersenyum, hah?”, Megan semakin meradang, tapi Pamela tak ingin bertengkar dengan wanita berambut pirang di depannya, hanya membuang waktu dan tenaga.


“Sialan kau”, pekik Megan leluasa, kondisi toilet pun sepi.


Megan menarik paksa rambut Pamela yang tergerai indah sebatas punggung, sampai rasanya hampir rontok akibat tangan Megan.


“Ah, apa yang anda lakukan nona?”, Pamela mengadu sakit, menyentuh kepala yang sakit.


Sebelum keluar toilet, Megan lebih dulu mengacak rambut dan menarik pakaiannya, membuat kusut blouse mahal pada tubuhnya.


Pamela meringis sakit pada bagian tubuh belakang, belum juga sembuh dari luka fisik yang berikan Leon kini ia harus menerima luka baru dari kekasih suaminya. “Benar-benar pasangan tak berhati”, gumam Pamela, membuka pintu dan ya ia terkejut luar biasa mendapati Leon memeluk mesra Megan yang menangis dalam pelukannya.


“Sayang, lihat, perempuan itu menyakitiku”, tangis palsu Megan.


“Tuan, itu bohong. Nona Megan yang menarik rambutku dan aku terjatuh. Aku tidak pernah melakukan apapun, menyentuhnya pun tidak”, bela Pamela tak menerima tuduhan begitu saja.


“Leon mana mungkin aku berbohong padamu. Sakit sayang”, Megan semakin terisak menangis dalam pelukan Leon.

__ADS_1


“Hah”, Pamela tersenyum kecut. “Harusnya aku yang ada dalam pelukannya bukan wanita angkuh itu”, batin Pamela hanya bisa menatap nanar pada dua orang yang dudu di sofa empuk.


“Ayo pulang”, Leon merangkul kekasihnya dan keluar ruangan.


“Eh tapi sayang, kita belum makan”, raungan perut Megan tidak tertahan tapi akibat ulahnya itu menghilangkan nafsu makan dan selera Leon.


“Kau juga pulang Pamela”, suara tajam dan menusuk Leon, Pamela hanya menelan saliva mendengarnya, ia yakin Leon akan memberikan hukuman karena tuduhan kekasihnya itu.


.


.


Ketiganya berada dalam mobil, Pamela yang duduk di depan tepat di sisi Alonso, sedangkan Leon dan Megan bermesraan pada kursi belakang. Tawa renyah bisa Pamela dengar dari Megan, sesekali pun ia menoleh memperhatikan kedua orang yang berstatus kekasih. Tangan Leon sangat lembut memperlakukan Megan, memberi sentuhan kasih sayang pada puncak kepala model papan atas itu, membelai lembut rambut pirang Megan, serta genggaman tangan Leon menunjukan jika sangat mencintai seorang Megan.


“Jangan lihat ke belakang Pamela, jangan”, lirih Pamela pada dirinya sendiri, tangan Pamela bergetar. Sesakit inikah melihat suami bermesraan dengan wanita lain? Ini baru di tempat terbuka bagaimana Leon yang pernah pergi menemui Megan? Apa yang dilakukan kedua orang itu, membayangkannya saja Pamela tidak kuat, ia hanya menatap lurus ke arah jalanan dan menggeleng pelan menghilangkan pikiran menyesakkan hati.


Alonso yang menyadari perasaan Nyonya Muda, hanya bisa melajukan mobil menuju apartemen Megan, tapi siapa sangka saat sedang fokus Leon memintanya berhenti di tengah jalan. Pria kejam ini turun dan membuka pintu depan, menarik Pamela keluar dari dalam mobil.


“A-ada apa tuan?”, cicit Pamela.


“Kau turun disini!”, Leon hendak membuka pintu belakang mobil namun Pamela mencegahnya, bingung apa maksud suami kejamnya ini.


“Maksud tuan apa?”, Pamela berani bertanya dan menatap manik indah sang suami. Hatinya bergetar, bibirnya mengatup menghindari gemelatuk gigi akibat rasa dingin karena gerimis.


“Ini pelajaran untukmu, jangan berani menyakiti kekasihku”, bengis Leon meninggalkan Pamela dijalan yang bahkan sangat asing baginya. Sementara dalam mobil, Megan tertawa puas luar biasa, senang bisa menjauhkan Pamela dari kekasihnya.

__ADS_1


“Tuan tunggu, tuan jangan, Leon jangan tinggalkan aku”, teriak Pamela dan sayangnya mobil telah melaju dari hadapannya. Luruh sudah air mata yang tertahan di tengah gerimis mengguyur Kota Madrid, sialnya Pamela tak menggunakan mantel untuk menghangatkan tubuhnya ini. Ia sendiri bingung harus bagaimana, pulang ke apartemen Leon menggunakan apa? Jasa taksi? Bahkan dompet dan ponsel Pamela tertinggal dalam mobil.


...TBC...


__ADS_2