
BAB 82
Siang ini Leon bertemu Dylan, pria itu masuk ke gedung Torres Inc, sesuai perjanjian akan mempresentasikan sejumlah materi kerjasama. Semula Dylan menolak tugas dari Tuan Manassero tetapi setelah dipikir, akhirnya ia menerima semua dan bersedia mengikuti keinginan Leon untuk kerja sama ini.
“Selamat siang Tuan Muda Torres”, sapa Dylan tanpa merubah ekspresi wajah angkuhnya.
“Tidak perlu basa basi, silahkan masuk dan selesaikan semua, waktu ku 15 menit”, telak Leon tidak ingin mendengar kalimat omong kosong dari Dylan Manassero.
Ditemani satu orang asisten, Dylan menjelaskan maksud dan poin-poin penting dari kerjasama ini. Dia juga sama tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama dengan Leonard. Presentasi saja memakan waktu nyaris 15 menit kurang beberapa detik.
“Oke, aku setuju dengan itu. Alonso berikan kontrak kerjasamanya, dan antar tuan muda ini keluar dari Torres Inc”
“Baik Tuan”
Dylan menawarkan hal yang ia yakini tidak akan ditolak oleh Leonard. Pria ini menantang sang raja bisnis untuk balap motor, tentu saja Dylan tahu Leon juga memiliki ketertarikan pada kendaraan roda dua itu.
“Pukul 7 malam nanti aku tunggu di sana, kau tidak akan menyesal menjajalnya. Aku ingin tahu seberapa hebat kemampuanmu selain bisnis dan bela diri”, tantang Dylan sangat matang.
“Kau pasti akan menangis menerima kekalahan”, sarkas Leon tidak main-main pada apa yang dilakukannya.
Kendati telah lama tidak menyentuh kendaraan roda dua tetapi Leon masih hapal bagaimana mengoperasikannya.
Tidak hanya itu, Dylan pun membuat kesepakan dengan Leon, tentu tidak jauh dari Pamela. Tuan Muda Manassero itu menginginkan Leon memberinya izin bertemu Pamela dan menginap di mansion Jakarta.
Meskipun ini ide gila dan tidak masuk akal tapi bagi Leon , tantangan Dylan menyangkut harga dirinya sebagai seorang pria.
“Tuan tapi itu, sirkuit belum diresmikan karena ilegal, kita dilarang masuk area itu Tuan”, peringatan Alonso pada bosnya.
Namun sayang Leon yang keras kepala dan tetap pada pendiriannya tidak mendengar kata-kata Alonso, pria ini pun pergi meninggalkan ruangan.
Memerintah bagian otomotif di kantor untuk memeriksa motor sport miliknya di mansion, karena malam ini Leon akan menggunakan kendaraan itu untuk mengalahkan seorang Dylan Manassero, keinginannya membuat Dylan menangis menelan kekecewaan harus terlaksana.
__ADS_1
.
.
Malam yang ditunggu akhirnya datang, Leon mengamati motor hitam yang telah lama terkurung dalam garasi. Kendaraan itu masih dapat berfungsi dengan baik meski berbulan-bulan tidak digunakan olehnya.
“Tuan sebaiknya anda......”
“Kau Alonso, pilih kehilangan pekerjaan atau potong gaji?”, sengit Leon memegang helm di atas motornya.
“Potong gaji, tuan. Maaf saya hanya khawatir, Tuan”
Leon hanya pergi membawa beberapa pengawalnya yang mengikuti dari belakang, begitupun Dylan telah sampai lebih dulu dan duduk bersantai di atas kap mobil, ia membawa seorang wanita yang menemani.
“Sial pria rendahan sepertinya masih berani mendekati istriku”, geram Leon.
Rute balapan pun dimulai dari tempat yang mereka pijak saat ini semakin masuk ke dalam melewati beberapa semak di pinggirnya dan mengelilingi hutan, kemudian berakhir ditempat semula.
“Apa kau takut Tuan Muda Leon? Aku pikir kau tidak takut apapun tapi ternyata salah”
Tapi sekali lagi motor yang digunakan Leon, diganti, menggunakan motor yang telah disediakan oleh Putra Tuan Manassero itu, alasan yang cukup masuk akal bagi Leon untuk menerimanya, tapi ia pun wajib waspada, karena tidak menutup kemungkinan Dylan mencelakai dirinya.
Balapan motor pun dimulai, Leon memimpin di depan jaraknya masih cukup dekat dengan Dylan, karena ini motor baru hingga ia memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri.
“Motor ini rupanya memiliki performa yang baik meskipun masih kalah dari motorku”, ujar Leon terus fokus pada jalan di depan, berkelok dan berliku tajam.
Dilihat dari kaca spion, sepertinya Dylan bukan pertama kali ke tempat ini dan kemampuannya pun tidak bisa diremehkan. “Ah rupanya dia menjebak ku ya? Cukup berani”, sinis Leonard.
Tepat pada putaran ke lima, Dylan mampu menyusul dan mendahului Leon. Sedangkan pria ini hanya tersenyum kecut, memberi angin pada Dylan untuk merasakan kemenangan sementara waktu sebelum ia merebut kemenangan yang sebenarnya.
Kedua asisten tuan muda itu menanti harap harap cemas bos mereka. Tanpa diduga truk box bermuatan cukup besar memasuki lintasan balap, mengambil jalan berlawanan dari arah kedua motor sport yang tengah beradu kekuatan dan teknik.
__ADS_1
“APA? Hei kau bukankan area ini sudah di sterilkan kenapa masih ada mobil masuk ?!!!!”, teriak Alonso sangat terkejut.
Semua anak buah Dylan pun sama terkejutnya, hal ini diluar dugaan, mereka segera mengutus orang untuk mencegah truk itu semakin dalam dan jauh.
“Apa Tuan Manassero sengaja meloloskan truk itu, hah apa niat yang sebenarnya dari balapan ini. Sudah ku duga ada yang tidak beres, Tuan Leon aku harap anda baik-baik saja”, gusar Alonso menanti di titik start.
Mereka juga mendengar bahwa truk itu sudah tidak terlihat sama sekali dan melaju cukup cepat, akhirnya Alonso dan asisten pribadi Dylan memutuskan mengejar dan mencari tuan mereka. Biar saja dipecat menjadi masalah belakangan yang terpenting adalah bagaimana bos mereka selamat.
Keduanya pun mulai memasuki jalan yang di kelilingi oleh hutan, tiba-tiba suara decitan ban dan dentuman keras terdengar nyaring merasuk pada gendang telinga masing-masing.
“Tuan”, pekik Alonso dan asisten pribadi Dylan.
Semakin memacu kuat kendaraan roda empat yang ditumpangi, dan benar truk itu berhenti di tengah jalan.
Sopir truk pun berusaha menolong seseorang yang terjepit di bawah badan truk, motor yang diklaim memiliki daya tahan akan benturan ini rusak parah, namun hanya ada satu motor dipinggir jalan, yang diyakini milik Leonard karena helm berlogo Torres Inc tergeletak di sisi roda besar truk.
“TUAN MUDA LEONARD”, pekik Alonso
“TUAN MUDA DYLAN”, teriak asisten pribadi Dylan.
“Tuan tolong, ada seseorang yang terjepit dibawah sini, saya tidak bisa mengeluarkannya sendirian”, tutur sopir truk.
Tubuh Alonso sudah lemas dan mungkin saja luruh karena melihat darah segar yang mengalir dari arah roda besar truk.
“Tu-tuan Leon”, tangis Alonso. Seluruh anak buah yang turut serta ke arena balap dikerahkan untuk membantu mengeluarkan Leon dari bawah badan truk, sementara Dylan masih belum ditemukan keberadaannya begitupun dengan motor yang ditumpangi.
“Tuan, saya mohon bertahanlah tuan, kenapa anda sangat keras kepala”
Karena badan truk yang sangat besar dan berat mereka menemukan kesulitan. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit bantuan dari polisi datang dengan alat berat yang akan mengangkat truk.
“Cepat tolong tuan kami”, teriak Alonso yang kehilangan akal.
__ADS_1
Alat berat pun mulai bekerja dan semua harap-harap cemas, Alonso tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan melihat banyaknya darah mengalir di sisi roda truk box.
...TBC...