Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 67 - Menyerahlah Sebelum Menangis


__ADS_3

BAB 67


BUK


Suara benda  terjatuh bersamaan dengan terbukanya pintu ruang kerja Dylan.


“TIDAK AKAN MENIKAH BAGAIMANA, HAH?”, sentak Tuan Manassero.


“Daddy tahu jawabannya apa, tidak perlu aku menjawab karena apa bukan?”, sinis Dylan masih tetap terpaut pada Pamela.


Tidak ada satu pun wanita yang ia kenal selama ini dan membekas di hatinya begitu dalam. Padahal Pamela tidak pernah memberinya apapun, tidak seperti teman kencan Dylan termasuk .


“Ku seret kau untuk menikah dengan perempuan pilihan Daddy, paham !!!!”. Tuan Manassero melenggang pergi usai mengancam putranya.


Ratusan ribu perempuan menanti dan rela mengantre ,mungkin juga mengikuti kompetisi jika ada. Tapi Dylan, bagaimana mungkin menyukai istri orang lain?. Terlebih wanita itu istri dari pria pemilik perusahaan nomor 1 terbesar di Eropa yang juga bersaing dengan Manassero Corp.


“Ck, mungkin dia bosan hidup”, jengah Tuan Manassero.


Sementara dalam ruangan, Dylan memaki asisten pribadinya yang tidak menutup pintu dengan baik sampai udara membawa kalimat yang Dylan katakan.


“Maaf bos”, menunduk dan takut.


“Aku tidak akan begitu saja, kau ingat Megan yang sangat mencintai Leonard saja bisa ku rebut apalagi Pamela yang jelas-jelas membenci Leon”, pikir Dylan, otak dan hatinya tidak sinkron. Salah satu pihak mengatakan menyerah tapi pihak lain memaksa untuk berjuang sampai akhir, walau hasilnya menang sangat kecil.


“Tapi bos bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungan Nona Pamela?”


“Apa kau bodoh, tentu saja dia akan menjadi anakku, ku beri nama keluarga Manassero di belakangnya. Aku menyayangi anak itu”. Dylan menyandar lemah pada dinding.


Tidak tahu apa alasannya begitu menerima anak Leonard, apa karena rasa cintanya pada Pamela teramat besar?, ya Dylan mengangguk, pertama melihat wanita ,tu hatinya berdetak cepat dan semakin lama mengenal semakin tumbuh rasa yang berlebihan bagi Dylan.


“Pamela belum bisa menerima Leon karena trauma yang diberikan pria kejam itu, dan kau tahu ini adalah kesempatan bagiku. Jika aku berhasil mendapatkan Pamela, itu artinya secara tidak langsung menghancurkan Leonard dan Torres Inc”, tawa jahat Dylan.


“Bos sebaiknya sekarang anda istirahat, besok kita akan menghadiri acara amal dan.......”


“Apa? Kau itu bicara tidak benar, katakan dengan lugas”, bentak Dylan.


“Tuan Muda Torres akan hadir”


“Ck, hanya itu, Biasa saja. Aku ingin melihat seperti apa rupanya saat ini”, senyum licik Dylan Manassero.

__ADS_1


**


Mansion Utama Torres


Pagi yang cerah untuk memulai kegiatan hari tanpa terlewat sedikitpun.


“Pagi Tuan Muda Leon”, sapa kepala pelayan.


“Hem”


Setiap kali terbangun dari tidurnya, pria ini selalu menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Sangat berharap Pamela yang dilihatnya pertama kali dan menyapa pagi hari, bukan kepala pelayan yang sudah berusia lanjut seperti ini.


“Ck, kosong”, Leon membatin.


Beranjak dari tempatnya dan membersihkan diri, ia akan menjaga penampilannya karena hari ini bertemu dengan rival sejatinya.


“Pria brengsek itu, akan melihat bagaimana berkuasanya tangan ini”, sudut bibir bagian kanan Leon berkedut.


Seenaknya saja mantan casanova itu mengunjungi istri dan memberi perhatian pada calon anaknya, bebas kesana kemari sedangkan Leon menahan diri sebisa mungkin.


Kepala pelayan tetap berada di dalam kamar Leon, sampai tuan muda ini keluar kamar mandi dengan rambut basah yang meneteskan bulir air berjatuhan mengenai otot dadanya.


“Sudah Tuan”


Masuk walk in closet memakai setelan yang semakin membuat aura pembunuh, kejamnya terlihat.


“Ini tuan sepatu anda”


“Hem, kau boleh keluar”, perintah Leonard, memakai sepatu pantofel seorang diri dan ya lagi-lagi bayang Pamela yang membantu memasang sepatu sangat terlihat jelas.


Tangan Leon terulur memegang rambut panjang indah istrinya, tapi kecewa harus kembali ditelan bulat-bulat, karens hanya angin yang teraba.


“Pamela”, gumam Leon, tidak ada tawa yang diingatnya selain wajah sendu Pamela.


“Aku akan membayar semua air matamu, kembalilah Pamela”, gumam Leon, sangat lemah dan rapuh, layaknya gumpalan awan yang tersentuh akan menembus tanpa ada penghalang kokoh apapun.


.


.

__ADS_1


Setelah sarapan Leon dan Alonso bergegas masuk mobil yang akan membawa dua pria tampan ini menuju lokasi amal.


“Tuan, ada kabar terbaru dari Nyonya Pamela”, Alonso mengirim sesuatu pada Leon. Tanpa buang waktu segera memeriksa ponselnya dan senyum hangat tercetak jelas di bibir pria kejam ini.


“Jadi dia menerima ranjang tidur bayi yang aku kirimkan?”, batinnya sangat senang, kendati harus menggunakan nama mommy-nya.


Tangan Pamela mengelus halus sisi ranjang dan senyum senang, menularkan secara langsung pada Leon yang terus memandangi layar benda pipih pada tangannya.


“Tuan kita sudah sampai, anda diminta memberikan sambutan”, ujar Alonso sebelum keduanya turun dari mobil.


Bertepatan dengan Leon keluar, pandangan matanya menangkap Dylan yang tengah mengunci sorot mata tajamnya pada Leon.


“Pertemuan lebih cepat dari dugaan”, pikir Leon memutus kontak mata dengan Dylan dan melangkah masuk tanpa menyapa pria yang sedari tadi menatap tajam padanya.


“Pagi Tuan Muda Torres”, sapa putra kedua Tuan Marquez memberi salam gaul pria.


“CK, kurang ajar Leonard, mengacuhkanku. Awas kau, tidak lama lagi ku buat menangis dan tidak bisa bangun lagi”, desis Dylan dalam hati.


“Berani kau menyentuh anakku, kau akan habis ku buat remuk Dylan”, pikiran Leon sangat bengis terhadap lawannya.


Lagi pula seharusnya bukan lawan karena jelas Pamela milik siapa dan statusnya apa? Mereka menikah secara resmi, tercatat di negara. Belum lagi bayi itu akan menjadi pengikat erat antara Pamela dan dirinya, Leon tidak perlu takut.


“Pasti dia sedang mengumpat dalam hati, kurang ajar. Pria tak berhati kau Leonard”, lanjut Dylan belum puas mengintimidasi Leonard yang tak akan mudah runtuh hanya dengan tatapan tajam seorang Dylan.


“Pria bodoh yang hanya membuang waktu, kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang ku miliki lagi. Tidak akan Dylan, sebaiknya kamu menyerah”, kata-kata ini ingin sekali Leon lempar dan tikam Dylan yang hanya buang waktu dengan sia-sia.


“Apa lagi yang dia katakan? Apa dia mengancamku? Hah aku tidak takut Leonard”, gumam Dylan, tidak memperhatikan asistennya bicara.


“Ya tuan anda memerlukan sesuatu?”


“Kau itu sangat mengganggu, menyingkirlah”, menggeser tubuh pria yang setia menemani putra Tuan Manassero ini hadir di berbagai acara.


Sementara Leon kembali fokus pada kata-kata pembawa acara hingga riuh tepuk tangan menggema di ballroom, memberi Leon rasa kuat percaya diri, dirinya naik podium, menyambut beberapa kata dan sesekali menatap tajam pada Dylan yang mengejeknya di atas sini,


“Menyerahlah Dylan sebelum kau menangis karena kekalahan “, tegas Leon dalam otaknya. Biar saja Dylan berada di atas awan sekarang, suatu saat Leon akan menghempas keras pria itu ke dasar bumi, Leonard tersenyum licik.


 


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2