
BAB 41
Napas Leon memburu dan sorot matanya tajam menusuk pada Pamela.Tatapan elang Leon seperti tengah mengintai mangsa begitu terasa seperti menguliti Pamela.
“KATAKAN PAMELA, kenapa kau memanggilnya? Menyebut namanya dengan lancar?”
“Ka-kami hanya berteman, tidak lebih tuan”, cicit Pamela, nyalinya sedikit menciut mengahadapi Leon. Menikah dengan pria yang selalu memberinya uang ini, membuat jantung dan ulu hatinya nyeri.
Leon menarik tangan Pamela, dan membawanya ke kamar mandi mendorong tubuh mungil itu hingga terhuyung nyaris jatuh. Sigap Pamela menahan tangan pada meja wastafel, telapak tangan yang perih ia biarkan. Hanya sekadar luka fisik tak terlalu berarti, namun sayatan di hati Pamela tak mudah sembuh. Perlakuan Leon begitu semena-mena padanya.
“T-tuan mau apa?”, Pamela melangkah mundur, melihat Leon melepas jas dan kemejanya, lalu dasi yang selalu membuat Pamela trauma. “Ja-jangan tuan, aku sungguh tidak sengaja bertemu dengan Dylan”.
“Kau memang gemar membuat masalah denganku Pamela”, desis Leon
PLAK
Memukul meja wastafel dengan dasinya, dan mengikat kedua tangan Pamela di atas kepala, sangat erat dan kuat, mungkin aliran darah tak mengalir akibat tekanan dari dasi.
“Jangan tuan”, Pamela menggeleng cepat kepalanya, sungguh ia tidak mau merasa sakit tak berdarah ini. Pamela menutup rapat kedua mata kala suara sobekan kain terdengar keras. Leon merusak pakaian yang dikenakannya dan melempar ke sembarang tempat.
Tak sabaran, pria ini me-l-u-m-at paksa bibir ranum sang istri. Liar dan tak ada ampun, bentuk hukuman Leon bagi Pamela karena berani mengucapkan nama pria lain dengan lantang.
“AHH”, pekik Pamela tertahan di kerongkongan, bibirnya terasa sakit, Leon mengigit keras hingga membengkak.
“Itu hukuman mu yang pertama”
“Apa tuan?”, lirih Pamela yang lelah dengan segalanya. Kedua bola mata Pamela melebar merasakan sesuatu melesak penuh dibawah. Sungguh ia ingin menangis dan teriak tapi tak kuasa lagipula siapa yang akan menolongnya dari pria berkuasa seperti Leon.
“Aku tidak suka kau menyebut nama pria lain, Pamela”, Leon semakin menghentak kuat tubuhnya, tak ada kelembutan sama sekali terhadap Pamela.
__ADS_1
“Tuan....tuan ma-maafkan aku”, lirih Pamela, sakit sudah yang ia rasa, tangan, bibir dan bagian inti tubuhnya, untuk hatinya sudah jelas hancur berantakan sejak pertama menikah dengan iblis berkedok pria tampan mapan seperti Leonard.
“Panggil namaku seperti kau memanggilnya, cepat j*****”, semakin mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Pamela, kuku-kuku Leon menusuk pada kulit lembut, mulus milik Pamela.
“Tuan Leon”, ucap Pamela ditengah isak tangis, suaranya pun bergetar, lemah terdengar sampai ke telinga Leon.
“KATAKAN YANG BENAR BODOH”, umpat Leon, menarik rambut Pamela.
“Tuan..... Tuan Muda Leon”
“Ucapkan namaku dengan benar, Pamela. Jangan sampai ku buat kau tidak bisa berjalan malam ini juga”, ancaman Leon yang tengah ditutupi kabut gairah bercampur dengan amarah.
“Al....Aleandro Leonard Torres”, cicit Pamela lemah, air mata yang mengalir membasahi wajahnya. Tubuh Pamela bergetar mendapat serangan bertubi-tubi dari Leon.
“I’m over the moon”, bisik Leon ditelinga Pamela, berpindah tempat membawa tubuh yang selalu memberi efek menagih padanya. Membaringkan Pamela di atas ranjang, melepas ikatan dasi yang membekas pada pergelangan tangan.
Mencium puja pada bibir bengkak karena ulahnya, tangannya pun mengusap lembut bibir Pamela, “Mulai sekarang panggil namaku dengan jelas, aku tidak suka ini”, menunjuk bibir Pamela, “Mengucapkan nama pria lain, apalagi dia rival bisnisku, kau mengerti istriku !! katakan ya, jangan diam saja”, paksa Leon.
“Ya, ya tuan ma-maksudku Leon, aku mengerti”, lebih baik Pamela menuruti saja keinginan suaminya, ia tak lagi memiliki tenaga malam ini untuk berdebat.
“Karena kau adalah istriku jadi harus patuh dan tunduk padaku”, seringai Leon, kembali memacu gerak tubuhnya meraih pelepasan entah yang keberapa kali.
Pamela merasa tubuhnya remuk, bahkan untuk bergerak saja sulit, begitu ngilu dimana-mana. Pandangan Leon beralih pada pergelangan tangan Pamela yang merah dan lecet.
“Sakit?”, tanya Leon, tidak tahu ini wujud perhatian atau bukan yang jelas tak ada suara lembut terselip di pertanyaannya.
Kalau bisa Pamela ingin mengamuk dan berteriak dihadapan Leon, tentu saja sakit. Wanita mana yang tidak sakit dan sesak diperlakukan kasar layaknya hewan seperti itu. Gigi saling beradu menahan teriakan hati yang ingin keluar, namun Pamela lebih memilih menutup rapat dan mengunci bibirnya.
Leon pun membawa tubuh wanitanya ke dalam bathtub, mengalirkan air hangat agar Pamela rileks, “Perlu ku bantu?”, tanya Leon datar.
__ADS_1
“TIDAK PERLU”, teriak Pamela dalam hati.
Gerakan lambat menuang dan menyabuni kulitnya membuat Leon geram, akhirnya tanpa persetujuan pria tampan dan kejam ini membantu sang istri membersihkan diri.
Leon membalut pahatan indah milik Pamela dengan bathrobe putih dan menggendong kembali istrinya keluar kamar mandi. “Anda manusia kejam tuan”, ucap Pamela lolos begitu saja.
“Jangan memancing emosiku, dan ralat kalimat mu itu”, bisa saja Leon membanting keras tubuh dalam pangkuannya ke atas lantai tapi mengingat bagaimana suara merdu Pamela menyebut namanya, ia urungkan niat kejamnya itu.
“Kenapa anda tidak mengajak Nona Megan kesini? Bukankan dia kekasihmu Leon”, Pamela bernapas pelan menahan sakit dalam dada.
“Benar dia kekasihku, lalu kau pikir untuk apa aku membawamu kesini?”, tanya Leon sambil membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.
“Karena aku pelayanmu, wanita bayaranmu, benarkan L-Leon?”, bulir bening mulai turun perlahan dari sudut mata Pamela. Tangannya pun terkepal kuat di atas ranjang, memberi rasa perih pada pergelangan tangan yang lecet.
“Karena kau istriku, dan kewajiban mu melayani suami dimana pun, kapanpun”, pungkas Leon, berdiri dan masuk kembali ke kamar mandi.
“Apa? Aku istrinya? Yang benar saja. Suami seperti apa yang memperlakukan istrinya seperti ini? Aku lebih mirip seorang budak dari pada istri”, ucap Pamela dalam hati. “Tidak pernah puaskah anda menyakiti jiwa dan raga ku, Leon?”, sambungnya lagi sebelum menutup mata karena lelah, bahkan rasa lapar pun ia abaikan.
Leon yang telah mandi, menatap dalam wajah wanita yang selalu menangis ketika bersamanya. “Seharusnya kau tidak pernah melanggar apa yang aku perintahkan Pamela”, membelai pipi merah Pamela.
Leon yang juga kelelahan ikut berbaring di sisi ranjang kosong, bergelung dengan selimut. Tangannya yang terulur hendak memeluk Pamela dari belakang, ia tarik kembali mengurungkan niatnya. Tidak ingin wanitanya mendapat angin segar karena Leon bersikap lunak padanya dengan memberi pelukan hangat. Meskipun tidak munafik, jiwanya begitu ingin merasakan terlelap dalam memeluk sang istri.
“Sial, sebaiknya jangan berpikir aneh Leon”, makinya pada diri sendiri.
...TBC...
__ADS_1