
BAB 46
Beberapa minggu berlalu Leon jarang pulang ke penthouse, hanya sesekali saja dalam seminggu. Pria itu membuktikan ucapannya tempo lalu, menghentikan aliran dana yang masuk ke rekening Pamela. Mungkinkah ini waktu yang dimaksud Pamela? Untuk apa ia bertahan jika tak lagi mendapat uang? Ia tak peduli penilaian Leon yang selalu menganggapnya murahan dan rendahan, telinga dan hatinya telah membeku.
Pamela pun merasakan jika Leon berubah sangat dingin sikapnya, acuh memang hingga Pamela tak menerima perlakuan kasar dari suaminya lagi. Tak apa, Pamela bisa bernapas lega walaupun masih terkurung dalam sangkar emas. Bahkan Leon tak mengizinkan istrinya masuk kamar lantai 1, menyentuh barang pribadi miliknya pun tidak diperkenankan.
“Pergi saja Leon, karena kehadiran dirimu hanya akan menyakitiku”, gumam Pamela ketika melihat punggung suaminya pergi menjauh.
Leon benar-benar marah, ia tidak bisa mengendalikan emosinya, sakit ya memang pria ini memerlukan bantuan ia sakit dan trauma akibat ditinggal begitu saja oleh kekasihnya dengan alasan uang dan kekuasaan. Berlebihan memang, karena Leonard terlalu bodoh dalam memberi
segala cintanya hanya untuk Megan, hingga bertemu Pamela yang dijadikannya alat.
Kenapa Leon menjauh dari sang istri? tentu saja ia merasa kecewa, tak menyangka hubungan Pamela dan Dylan sedekat itu. Padahal Leon menutupi akses sembarang orang menghubungi Pamela, namun Dylan masih bisa mengirim pesan itu artinya Pamela sendiri yang memberikan nomor telepon pada rival bisnis Leon.
“Aku tak mengerti, kenapa sikapnya berubah, ck tidak perlu Pamela jangan mengkhawatirkan pria sepertinya”, masih Pamela berpikir tegas, dirinya harus menjadi kuat dan tegar.
Pamela memandang senyum pada ponsel yang ia pinjam milik asisten rumah tangga untuk menghubungi rumah sakit, ia bahagia mendapat kabar dari rumah sakit jika kini kondisi neneknya perlahan membaik dan cukup stabil, beberapa alat yang menempel telah terlepas. “Nenek aku menyayangimu”, meneteskan air mata, memeluk benda pipih sejuta umat, anggaplah yang dipeluk itu neneknya.
**
Torres Inc
“Sayang, kapan kita akan meresmikan hubungan kita?”, tanya Megan suaranya mendayu manja, berdiri di sisi kekasihnya, menggoda Leon yang sedang sibuk menandatangani berkas.
__ADS_1
“Kau tunggu saja”
“Tapi sayang, aku bahkan belum bertemu keluargamu. Sebagai calon menantu yang baik aku ingin bertemu Tuan dan Nyonya Torres”, Megan tersenyum manis , rasanya tidak sabar menjadi bagian dari keluarga Torres yang selalu dielu-elukan banyak orang.
“Hah, aku benci kenapa pria ini selalu menundanya, bukannya dia bilang sangat mencintaiku. Aku harus bisa, setidaknya bertunangan dulu dan mengumumkan pada dunia kalau aku pemilik pria ini sesungguhnya”, pikiran dan hati Megan yang selalu menggebu menyangkut Leon.
“Ehem, Megan. Kau ingat wanita yang selalu ada di sampingku?”, tanya Leon seketika melirik tajam pada kekasihnya.
“Iya tentu saja, memang kenapa wanta murahan itu?”, tanya Megan sangat polos tanpa bercermin lebih dulu.
“Wanita itu juga menginginkan kepastian seperti mu”, ucap Leon dingin, “Bahkan dia melakukan lebih darimu, mungkin kau harus bersabar, karena aku ingin melihat siapa diantara kalian yang layak untuk bersamaku”, pungkas Leon sukses menggebrak hati Megan yang selama ini berharap lebih.
“Tapi...tapi aku kan kekasihmu Leon, bagaimana bisa kamu menjadikannya milikmu?”, Megan tak rela jika mimpi dan angannya untuk menjadi konglomerat instan gagal.
“Ya, kamu tahu. Pria seperti kami banyak dikelilingi wanita cantik sampai mereka rela melakukan apapun demi uang”, sudut bibir Leon berkedut tipis, seringai liciknya itu tidak terlihat oleh siapapun.
“Ah, mana mungkin aku tidak peduli pada uangmu, karena uang dan kekuasaanmu lah aku kembali Leon”, liciknya hati Megan yang berjalan dari pria satu ke yang lainnya hanya untuk menghisap uang mereka, memberinya kehidupan mewah tak terbatas.
“Sayang, aku rela meninggalkan Dylan demi dirimu Leon, demi rasa cintaku padamu Leon. Percayalah padaku”, Megan berani menyentuh rahang tegas milik Leonard, melabuhkan ciuman di pipi Leon. “Aku selalu ingin bersamamu sayang, bersama sampai kita menua”, bisik Megan begitu sensual. Wanita ini menatap Leon, membelai pipi kekasihnya. “Kamu tahu aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita kecil, aku tak akan melupakan kejadian itu”
Mendengarkan kata-kata Megan, Leon seakan terbawa ke masa lalu dimana dirinya pertama kali bertemu gadis cilik cantik dan menggemaskan, itulah salah satu alasan Leon mencintai Megan bahkan ketika wanitanya telah menyakiti dengan pergi bersama pria lain. Tentu karena Megan adalah cinta pertama bagi Leon, bukan yang lain.
**
__ADS_1
Penthouse
“Nyonya ini makan siangnya, saya membuat sesuai keinginan nyonya”, asisten rumah tangga masak makanan kesukaan Pamela, karena wanita ini selama beberapa minggu kehilangan nafsu makan. Stress yang melanda membuat Pamela enggan menyantap makanan, hanya untuk bertahan hidup ia mengisi perut.
“Nyonya harus semangat, saya berharap nyonya mendapat kebahagiaan secepatnya”, ucap tulus asisten rumah tangga, ia yang selalu merasa kasihan pada Pamela. Bagaimana pun Pamela adalah istri Leonard yang seharusnya mendapat perlakuan lebih baik, bukan mendapat hukuman setiap harinya.
“Terima kasih, aku sangat berterima kasih. Maaf jika kehadiranku disini merepotkan, aku janji itu tak akan terjadi lagi”, ucap Pamela tersenyum lalu menyantap sedikit demi sedikit makanan di depannya.
“Maksud nyonya?”
“Tidak ada, lupakan saja”, Pamela beralih meneguk air di gelas, tapi urung karena kepalanya berdenyut nyeri.
A
“Anda kenapa nyonya? Saya bantu ke kamar”, memapah Pamela naik ke lantai 2, membantu membaringkan tubuh ringkih yang semakin kurus setiap harinya.
“Ah ya terima kasih”, balas Pamela mengulas senyum.
Pamela pun memejamkan mata selama 30 menit lamanya, setelah itu dirinya turun dan masuk walk in closet menikmati semua pemandangan gaun mahal, tas, alas kaki bahkan perhiasan dalam kotak kaca di tengah ruangan. Meraba semua sembari tersenyum, “Terima kasih kalian telah menemaniku, tapi sayang semua ini bukan milikku, terima kasih Leon memberikanku pengalaman hidup yang sangat berarti”, Pamela menitikkan air mata, mengelilingi ruangan yang seluas rumahnya di pelosok perkampungan kumuh.
Membuka bagian lemari yang tertutup, Pamela mengulas senyum saat menatap tas kumal berisi pakaian yang ia bawa sewaktu pindah ke penthouse. Bahkan Leon ingin membakar pakaian yang menurutnya menularkan bakteri penyakit, tapi Pamela tahan karena bagaimanpun barang lusuh itu miliknya yang ia beli susah payah dengan menabung hasil keringat sebagai pelayan bar.
“Hah, berbulan-bulan sebagai nyonya tersembunyi membuat ku malas, apa tubuhku ini masih kuat?”, melirik pada kedua tangan dan kakinya, beralih pada sepasang sepatu kets warna putih yang tidak putih lagi. “Aku merindukanmu, kau selalu menemani langkahku mencari uang”, Pamela berjongkok memperhatikan sepatu lamanya. Sepatu pertama yang Pamela beli dari uang gajinya di bar, membantu dirinya mencari nafkah.
__ADS_1
...TBC...