Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 47 - Kehadiran Tak Diinginkan


__ADS_3

BAB 47


Hari pertama musim dingin di benua biru, Kota Madrid pun dihujani es tipis yang bisa Pamela lihat dari kaca kamar, pantas dirinya merasa pusing belakangan ini, rupanya terkait perubahan cuaca yang membuatnya flu. Ternyata dalam apartemen mewah sekalipun dan tidak membuatnya tetap sehat, ini buktinya Pamela bersin-bersin.


Ia tersenyum ingat masa lalu yang selalu menikmati turunnya salju pertama dengan menghabiskan waktu makan sup hangat masakan neneknya, ya ampun Pamela rindu menghidu, merasakan aroma masakan itu langsung dari kuali tanah liat yang tersimpan di atas kompor. Pamela mengusap perut datarnya, tiba-tiba rasa lapar menjalar keseluruh tubuh. “Hah rupanya halusinasi itu membuatku lapar”, lirih Pamela, berjalan keluar menuruni anak tangga, dapat ia hirup aroma sup yang baru saja matang.


“Nyonya, sarapan sudah siap, silahkan”, ucap asisten rumah tangga yang setia menemani hari-harinya ini.


“Terima kasih”, Pamela mulai duduk dan menyesap kuah beraroma bumbu khas yang menghangatkan tubuhnya. Tanpa sadar ia menghabiskan 2 mangkuk sup juga beberapa lembar roti dan ubi manis panggang. “Ya ampun aku makan sebanyak ini?”, tanyanya tidak percaya setelah kehilangan nafsu makan berminggu-minggu.


“Iya nyonya tidak apa, nikmatilah selagi tuan tidak ada”


Panjang umur rupanya Leon, telepon di sudut ruangan berbunyi dan asisten menerimanya. Alonso ingin bicara pada Pamela, meminta tolong mengambil serta mengantarkan berkas penting mega proyek Leon bersama Tuan Muda Marquez.


“Bagaimana nyonya apa bisa mengantarkannya kesini? Saya tidak bisa ke apartemen, karena menggantikan tuan muda rapat. Hanya nyonya yang bisa dipercaya untuk keamanan berkas itu”


Alonso begitu mengiba di balik telepon, akhirnya Pamela putuskan mengantar berkas milik suaminya tentu saja pengawal di penthouse menghalangi, tapi Pamela menunjukan map dan tas kecil berlogo Torres Inc, mereka pun mengerti hingga mengantar Pamela sampai ke gedung pencakar langit.


Lagi-lagi setelah memasuki gedung tak ada yang menyambut nya, Pamela hanya duduk diam menunggu Alonso datang menghampiri ke lobby.


Sampai 2 jam lamanya tak jua Pamela melihat asisten pribadi suaminya itu turun akhirnya putuskan menghubungi Alonso dengan meminta tolong resepsionis. Setelah mendengar perintah Alonso, Pamela diizinkan naik ke atas gedung dimana ruangan Leon berada dan menyimpan di ruangan itu.


“Silahkan nona”, petugas resepsionis membantu Pamela menunggu lift khusus petinggi Torres Inc terbuka.


Tangan dan kaki Pamela berubah gemetar menaiki lift bukan karena takut berada dalam lift seorang diri tapi ia tak ingin melihat wajah Leonard.


Pamela melihat pintu berukir mewah dan elegan di ujung, tak perlu bertanya lagi karena itu adalah ruangan kerja suaminya. Tanpa mengetuk pintu Pamela membukanya dan mendorong pelan pintu itu, betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang tidak seharusnya.

__ADS_1


Kedua matanya melebar, bibirnya terbuka, tubuhnya yang terbalut dress mahal bergeming diambang pintu. Pamela melihat sendiri bagaimana Leon dan Megan bertukar saliva di atas sofa ruangan, dengan tubuh wanita itu berada di bawa kuasa Leon yang kemejanya sedikit berantakan.


“Maaf, aku hanya mengantar ini”, Pamela menyimpan map tebal itu di atas meja kecil. Ia berlari keluar ruangan, jangan harap Leon menyusulnya untuk memberi konfirmasi. Iya pria itu hanya mengakhiri ciuman panasnya bersama Megan, merapikan kemeja dan mengusir halus sang kekasih dari ruangan.


“Pamela untuk apa kamu menangisi pria seperti Leon?”, menyusut air mata menggunakan punggung tangan, sikapnya ini mengundang perhatian dari seluruh pegawai dan pengawal yang menunggu di lobby. Pamela menerobos keluar dari hadangan pengawal, rasa sakitnya melihat Leon bersama Megan begitu kuat, hingga ia berjalan cepat dan lalu berlari menyebrangi jalan. Tangisnya menghalangi jarak pandang Pamela, sungguh ia tak bisa berpikir jernih sekarang ini.


Di penghujung jalan, kepala Pamela mendadak pusing dan limbung nyaris jatuh, tapi seseorang menangkapnya dan melihat wajah Pamela yang menyedihkan. “Pamela, bangun”


“Sial”


Pria ini lantas membawa Pamela menuju rumah sakit terdekat, tentu rumah sakit milik keluarga Torres.


Tiba di rumah sakit, Pamela mendapat penanganan dari dokter yang melakukan pemeriksaan. Cukup lama pria itu menunggu di luar ruangan , menyatukan kedua tangan dan menatap tajam pada orang lalu lalang.


“Keluarga nyonya Pamela, apa tuan?”, tanya seorang perawat.


“Silahkan masuk tuan, dokter ingin bicara”, mempersilahkan duduk dan berhadapan dnegan dokter.


“Tuan, harus menjaga istrinya lebih baik lagi. Saya mengutuk suami yang tidak peduli pada istri apalagi melakukan kekerasan, lihat istri anda tubuhnya kurus. Mulai sekarang anda harus menjaganya karena apa? Karena bayi dalam kandungannya membutuhkan kasih sayang dan nutrisi yang baik”, tutur Dokter, sukses membuat Dylan melongo tidak percaya.


“Apa? Hamil? Bagaimana bisa?”, spontan Dylan mengatakannya sembari menoleh pada Pamela yang terbaring lemas.


“Kenapa bertanya pada saya? Anda suaminya kan”, kesal dokter di depannya.


“Mana mungkin hamil, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya”, kecewa Dylan mendengar kabar yang memecah keinginannya untuk memiliki Pamela. “Leon? Apa mungkin anak dalam kandungan Pamela milik Leonard?”, Dylan mengetatkan rahang, menelan saliva, tangannya terkepal erat.


Dokter pun merujuk Pamela pada bagian obgyn mengingat kondisinya yang sedikit memprihatinkan. Dylan mendorong kursi roda Pamela tanpa kata. Ia masih sangat syok ada janin yang tumbuh dalam rahim wanita pujaannya.

__ADS_1


“Dylan kita mau kemana?”, tanya Pamela sedikit lemas.


“Ah, ehem...dokter menyarankan kamu ke bagian obgyn”, jawab Dylan.


Mereka berdua di persilahkan masuk oleh perawat, dan dokter dalam ruangan sangat terkejut melihat Nyonya Muda Torres terduduk lemas di atas kursi roda. “Nyonya?”, pekiknya pelan.


“Nyonya?”, ulang Dylan, semua sangat membingungkan bagi pria tampan ini. “Kenapa dia memanggil Pamela dengan sebutan nyonya, ada apa ini? Aku seperti orang bodoh”, maki Dylan dalam diri.


Tatapan dokter beralih pada Dylan Manassero yang berdiri kebingungan, “Tuan Muda Manassero bisa menunggu di luar, terima kasih telah mengantar Nyonya Pamela”, ucapnya mengusir Dylan.


“Nyonya, saya telah menghubungi anda satu bulan yang lalu, dan mengirim pesan tapi tak ada balasan apapun”, ujar dokter yang selalu mengingatkan Pamela untuk datang menemuinya dan melakukan suntik KB.


Pamela hanya tersenyum getir mengingat ponselnya rusak tak berbentuk, “Jadi kenapa dokter umum menyarankan aku menemui anda, dokter?”, tanya Pamela yang dibantu berdiri dan berbaring di atas ranjang pasien, melakukan USG.


“Apa itu dokter?”, tanya Pamela melihat sesuatu yang berwarna gelap kecil ditengah layar.


“Nyonya, anda sedang mengandung, usianya 5 mingu”.


Kata-kata dokter kandungan ini bagai sengatan listrik di hati Pamela, dirinya tersentak dan diam tidak percaya.


“Nyonya? Keluhan apa yang anda alami, saya akan meresepkan obat pereda mual dan pusing, juga penguat kandungan”, tutur dokter.


“Bagaimana bisa aku hamil, dokter?”, lirih Pamela, seingatnya baru satu kali ia bolos tidak suntik tapi apa secepat itu .


“Mungkin belakangan ini anda mengkonsumsi beberapa vitamin”, lanjutnya.


Ingatan Pamela menerawang melintasi beberapa waktu lalu dimana Leon menggagahinya hingga ia sakit dan dokter memberi beberapa vitamin.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2