
BAB 81
Kerjasama yang ditawarkan oleh Manassero Corp Leon pelajari dengan sangat teliti, projects yang bernilai Jutaan Euro, “Cukup menguntungkan”, pikir Leon yang juga memeriksa laporan keuangan Manassero Corp.
“Sepertinya bukan pecundang itu yang mengajukan kerjasama”, ucap Leon. Dilihat dari kematangan konsep dan budget yang tertera, pasti seseorang ini telah berpengalaman dibidangnya.
Leon memanggil Alonso tengah malam ke mansion utama Torres, hanya untuk menyelidiki siapa yang mengajukan kerjasama ini.
“Cari tahu siapa yang mengajukan kerjasama dengan ku, apa Tuan Besar atau hama pengganggu itu. Dapatkan semua dalam 30 menit !!!!!!”, perintah Leon yang terdengar sangat menakutkan.
Sambil menunggu, Leon menuang wine kedalam gelas, dan menikmati harum aroma kemudian meneguknya. Ditatap bingkai foto kecil di atas meja, foto Pamela tengah menggendong El yang ia ambil secara diam-diam, kemudian gambar dirinya di sisi Pamela.
“Benar-benar keluarga bahagia”, miris Leon, mengingat bahwa foto itu di edit oleh Alonso, perintah dari Leon yang sangat ingin memiliki foto keluarga.
“Pamela masih tidak terbuka kah pintu hatimu? Harus ku ketuk bagaimana? Kembalilah Pamela”, gumam Leon lalu meneguk wine.
“Jangan biarkan aku menderita lebih lama lagi Pamela, dulu aku akui aku salah semua itu karena kebodohanku sendiri”, rekam perilaku buruknya ia ingat, salahnya sendiri membuat Pamela enggan kembali bersama dan memilih pergi dari kehidupan seorang Leon.
“Kamu tempatku kembali Pamela, kamu......hanya kamu yang aku inginkan, hanya cintamu yang aku harapkan, aku sudah cukup menderita selama ini”, gumam Leon, membelai wajah manis dalam bingkai foto.
Leon dan Pamela saling terikat kuat satu sama lain, pernikahan mereka yang tercatat di badan kependudukan dan kehadiran El yang tidak mungkin dihilangkan.
“Apa cinta yang ku beri tidak berarti bagimu?”
“Maaf aku pernah mendustai dan mengkhianatimu”
“Kembalilah Pamela, lihatlah aku, Leonard yang dulu kamu benci sudah berubah, aku bukan pria jahat seperti dulu”
“Sampai kapanpun, sampai kapanpun tidak akan aku biarkan seorang pria manapun mendekatimu, tidak ada yang layak mendapatkan hatimu selain aku”, tegas Leon.
Ditengah lautan kegundahan hati seorang Leonard, Alonso datang dan sedikit menepis pikiran tuannya tentang sang istri yang terpisah jauh.
“Katakan apa hasilnya?”
“Tuan, ini”, Alonso menyimpan satu berkas hasil penyelidikannya malam ini, ia rela begadang dan memangkas waktu istirahat demi memenuhi keinginan tuannya, dari pada kehilangan pekerjaan sebagai taruhan.
Ternyata Tuan Besar Manassero yang mengajukan kerjasama, untuk membantu mereka mendanai proses pembuatan sirkuit balap motor dan mobil, kemudian mengutus putranya Dylan Manassero yang akan menangani semua projects.
__ADS_1
“Jadi aku akan sering bertemu dengan b3d364h itu? Hah memuakkan”, melempar map.
“Atur jadwal pertemuan besok”
“B-baik tuan”
**
Jakarta
Semalaman ini Pamela gelisah dalam tidur, tidak biasanya hal ini terjadi, terkahir ia mengalami ketika akan melahirkan El. Tapi sekarang tidur nyenyak dalam waktu lebih dari 5 menit pun kesempatan emas baginya.
Mendadak pikiran Pamela kalut, otaknya berkelana memikirkan Leonard, pria yang telah membuat dunianya berubah dalam satu detik.
“Kenapa jadi terpikir dia?”, gumam Pamela, mengigit bibir bawah, lalu melirik pada El yang masih damai dalam balutan selimut.
“Tidak....tidak, tidak mungkin kan aku merindukannya? Apa-apaan kamu Pamela. Aku harus melakukan apa yang seharusnya, apa yang menjadi tujuan, hilangkan Leon dari dalam sini”, tunjuk Pamela pada kepalanya.
Pagi nanti Pamela akan mencoba bicara pada Nyonya Torres, bagaimanapun sangat menghargai ibu mertua baik hati dan lebih bijaksana dibanding putranya.
Berharap Leon serta keluarganya mengerti bahwa Pamela tidak bisa kembali hidup bersama, tapi untuk El bebas saja jika ingin bertemu darah daging mereka.
“Maaf”, lirihnya.
.
.
Usai sarapan Pamela duduk menemani ibu mertuanya bermain dengan Donatello Xavier, wanita muda yang kini berubah menjadi seorang ibu, mulai bicara sepatah, dua patah kata.
Cukup hati-hati Pamela menyampaikan semua maksudnya, sebelumnya ia berdiskusi dengan nenek, dan ya semua keputusan berada di tangan Pamela, sekuat apapun orang lain menahan dan menariknya kembali.
“APA? J-jadi ini keinginanmu? Tidak adakah rasa untuk Leon tersimpan disana?”, kecewa Nyonya Torres menanggapi semua penyataan menantunya.
“Mom sangat ingin kamu kembali bersama Leon, Pamela. Apa El tidak akan mencari ayahnya nanti? Kenapa akhirnya seperti ini?”
__ADS_1
“Pikirkan lagi Pamela, Mom dan Leon, kami semua tidak masalah memberimu banyak waktu. Mom mohon padamu, sayang. Ini semua demi El, jika kalian berpisah..........”, Nyonya Torres tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia tidak tega harus menyaksikan cucu yang ditunggu kehadirannya itu hidup terpisah dan kasih sayang kedua orang tua yang tidak utuh.
“Maaf mom, aku.....aku tidak bisa pulang lagi ke Spanyol, tempat itu terlalu mengerikan. Tapi mom dan dad tenang saja, kalian bebas bertemu El kapanpun, aku tidak akan menghalangi siapapun dari keluarga Torres yang ingin berkunjung, begitupun dengan Leon”, tutur Pamela.
“Maafkan aku, maaf. Aku harus mengatakan semua ini, aku mohon mom tidak menyalahkan semua padaku, karena aku mencoba dekat dengannya tapi diriku tidak mampu, tidak bisa”, batin Pamela yang turut bersedih melihat ibu mertuanya menangis.
Tangis El pun pecah dalam gendongan neneknya, apa mungkin bayi sekecil itu mengerti maksud dari pembicaraan dua orang dewasa. Tangan El terkepal kuat, menangis tidak seperti biasanya.
“Ini Pamela mungkin cucuku lapar, mom masuk dulu, kepala mom mendadak pusing”, menyerahkan El pada menantunya.
“Ada apa? Kenapa El menangis? Apa sudah mengantuk lagi? Kita ke kamar ya, kamu mau mama bacakan dongeng?”, suara lembut keibuan Pamela masih belum meredakan tangis El.
**
Madrid
“El”, pekik Leon yang terbangun dari tidurnya. Baru saja ia masuk kamar dan terlelap 30 menit yang lalu, kini terbangun seperti mendengar tangis putranya. Rasanya sangat nyata dan tepat berada di samping telinganya.
Leon mengedarkan pandangan ke penjuru kamar, tidak ada orang lain selain dirinya dan untuk memastikan semua, pria kejam ini sampai mendatangi ruang kendali di luar mansion.
BRAK
“Eh Tuan Muda Torres, ada yang bisa kami bantu?”, gugup pegawai yang mengawasi kamera keamanan di seluruh mansion.
“Apa ada yang berkunjung ke mansion tanpa sepengetahuanku? Cari tahu sekarang juga”, tegas Leon yang mengawasi pekerjaan keduanya.
“Siap tuan”
Dengan tangan gemetar kedua petugas itu menyisir satu persatu CCTV yang ada pada ruangan, seperti perintah tuan mereka. Orang terakhir yang keluar masuk mansion adalah Alonso, tidak ada yang lain, apalagi bayi.
“Ck, aku merindukan putraku, sampai terbawa mimpi. Kenapa suaranya bisa sangat sejelas?”, tanya Leon pada dirinya sendiri.
Tangan kekarnya pun ragu ingin menghubungi Nyonya Torres, pasti wanita paruh baya itu tidak ingin selalu diganggu olehnya.
...TBC...
__ADS_1