
BAB 88
Leon terjaga lebih dulu padahal hari masih sangat gelap dan Tuan Besar Torres membebaskannya dari segala pekerjaan selama masa penyembuhan, tapi Leon sudah dua jam ini terus memandangi wajah manis Pamela yang berada dalam dekapannya.
Tidak tahu apa reaksi Pamela ketika bangun nanti akan marah atau memukulnya, mungkin menendang jatuh dari atas ranjang, Leon tidak peduli yang jelas istrinya ini nyenyak dalam pelukannya.
“Maafkan aku Pamela”, gumam Leon, membelai pipi lembut Pamela yang begitu hangat, lalu dengan tidak sabar mengecup singkat pipi istrinya.
“Te amo mi amor, Pamela, tinggallah di sisiku selamanya. Sebelumnya aku begitu takut jatuh cinta lagi, tapi bersamamu......kamu bisa memiliki aku sepenuhnya dan aku jatuh sedalam-dalamnya pada ketulusanmu Pamela”, Leon kembali melabuhkan ciuman di kening wanitanya ini.
“Cinta membuatku tidak mengerti dan gila Pamela, tapi kehadiranmu mampu merubah segalanya dan menolong pria gila ini, Pamela, jadilah wanitaku, istriku dan mommy dari anak-anak kita”, tatapan kasih sayang Leon berikan pada wanita yang terlelap dalam tidur ini.
“Leon?”, suara serak Pamela membuka kedua mata, tanpa Leon tahu istrinya ini mendengar semua apa yang disampaikannya tadi. Hati kecilnya tersentuh dan tidak memungkiri itu semua.
Diluar dugaan Leon, setelah bangun istrinya tetap diam dan tidak melawan atau menendangnya sampai terpelanting ke lantai kamar. Pamela hanya diam menatap lekat-lekat wajah lebam Leon, wanita ini tidak percaya suaminya yang dikenal kejam dan kerap menyiksanya serta tidak memiliki belas kasih, kini saling berpandangan melukiskan sebuah rasa.
“Leon?”
“Ya? Kamu membutuhkan sesuatu?”, dahulu suara itu tidak pernah selembut ini ketika bicara, sekarang setiap untaian kata bisa Pamela dengar sangat halus.
“Apa semua pria yang jatuh cinta menjadi gila? Apa Leon memberi hatinya untukku? Mungkin dengan hadirnya El dia belajar menerima”, kata hati Pamela yang memegangi diri agar tidak terjerumus dalam kubangan harap semu.
Tidak terjerumus bukan berarti takut kan? Hanya membatasi diri saja. Cukup sekali menggantungkan hidup pada sesama manusia, terutama pria. Makhluk visual itu yang selalu memandang lawan jenisnya dari keindahan fisik.
Tidak ada yang bisa menjamin apa Leon berdusta atau tidak, tapi Pamela akan memberinya kesempatan kedua ah bukan kedua melainkan kesempatan terakhir.
“Leon?”
“Hem?”
Mengurangi rasa malu, kedua tangan Pamela meraih pipi dan mengecup singkat bibir suaminya.
Sontak Leon membuka lebar kedua matanya, terkejut? Ya, mungkin dunia nyaris terhenti karena sikap istrinya pagi ini tidak pernah bisa ia tebak.
__ADS_1
Tidak mau kehilangan kesempatan, sekaligus memanfaatkan keadaan, Leon mempererat tangannya di pinggul Pamela sedikit menyesap dan mengigit bibir bawah yang selama satu tahun ini tidak dinikmati.
Sepasang suami istri yang berusaha merajut kembali tali pernikahan begitu larut dalam suasana pagi, saling bertukar saliva menyalurkan rindu dalam dada.
“Hah hah hah, Leon”, Pamela mulai kehabisan napas dari permainan yang dilakukan pria kejam ini.
“Maaf.....Ehem”, Leon berdeham, mengurai pelukannya, sungguh ia menginginkan lebih ketika bersama wanitanya, harum aroma yang tidak biasa selalu menggoda naluri sebagai pria dewasa.
Akhirnya Leon hanya menahan, tanpa meminta dan bicara apapun, lagipula kondisinya masih belum stabil, luka dimana-mana, kalau ia bergerak gegabah semakin menambah parah luka di tubuhnya.
Jemari Leon tiada henti mengabsen seluruh wajah dan ceruk leher Pamela, memberi sentuhan lembut yang belum pernah ia berikan.
Tanpa kehadiran Pamela, entahlah akan jadi apa perjalanan hidupnya, Leon tidak akan pernah melepaskan wanita ini, ia juga berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang pernah menyakiti Pamela.
“Jadi istriku ini memaafkan suaminya?”, memberi satu kecupan di puncak kepala.
“Ya bisa dikatakan seperti itu”, jawab Pamela yang mengulum senyum, menunduk malu.
“Leon, jika kamu memang mencintai aku, perempuan sederhana yang tidak memiliki apa-apa ini, maukah Tuan Muda Leon menuruti keinginanku?”
“Jangan pernah berhenti mencintaiku, sekalipun aku menua dan tidak indah dipandang karena termakan usia”, suara Pamela bergetar menahan tangis.
Leon memeluk erat wanitanya, istrinya, sekaligus belahan jiwa, menghapus air mata yang nyaris turun dari tempatnya. Pria ini jamin tidak akan ada lagi tangis yang Pamela keluarkan karenanya atau tidak akan ada yang bisa menyakiti ibu dari El walau hanya seujung kuku.
“Aku pastikan hanya Pamela Gerard ah, Pamela Torres yang ada di sini selamanya sampai kita menua bersama sampai memiliki cucu”, Leon menunjuk dada
Senyum mengembang di pipi Leon dan Pamela, bibir keduanya saling mendekat dan tak berjarak, tapi tangis bayi yang baru saja bangun dari tidurnya itu membuat kepala Leon sedikit pusing.
“Rupanya dia tidak mau kalah dariku, dasar El”, mendegus kesal.
Pamela mulai sibuk menghabiskan waktu dengan El, menyusui, mandi dan mengganti pakaian yang tidak sebentar.
Sementara Leon menahan keinginan untuk memeluk erat wanitanya, ia yang dulu selalu marah jika menunggu apalagi Pamela tidak pernah mendengar dengan baik segala perintah dari Leon.
__ADS_1
Sekarang, semua terbalik. Seorang Leonard meruntuhkan seluruh ego dalam diri demi keutuhan rumah tangga yang ia impikan. Leon, pria beruntung bisa bersanding bersama wanita hebat bernama Pamela. Cukup sudah masa suram dilewati, untuk sekarang senyum dan tawa akan menghiasi kehidupan Pamela, Leon dan El.
“Permisi, Tuan, Nyonya Pamela ditunggu sarapan oleh Tuan dan Nyonya Besar”, ucap Kepala Pelayan.
“Ck, lalu aku harus sarapan sendiri di kamar? Hah keterlaluan, kakiku masih sakit”, kesal Leon bersidekap dada,Pamela hanya terkikik geli.
“Aku temani, tapi tunggu El kenyang ya”
“Tentu saja, aku akan menunggu, tapi jangan lama-lama, Mi Amor”, gugup Leon mengucapkan kata-kata manis dari bibir. Baru pertama kali ia lakukan dan hanya Pamela seorang.
Leon setia menanti, dimanja oleh sang istri, ia juga menikmati pemandangan indah dimana Pamela selalu membuka percakapan dengan El, padahal bayi itu masih kecil sekali tapi bisa merespons apa yang ibunya ucapkan.
“Anak pintar”, bangga Pamela.
“El sudah kenyang, sekarang berikan mom untuk daddy”, tawa Leon yang mendapat lemparan bantal di wajah.
“Kenapa? Apa aku salah?”
Leon yang dewasa dan berwajah sangar mendadak menjadi kucing manis yang rindu belaian dari tuannya.
Pamela lebih dulu menyuapi Leon makan, ia terpaksa menahan sabar. Untuk ukuran pria dewasa Leon terlalu lama menelan makanan. Tentu saja sengaja melakukan ini karena berlama-lama manja pada Pamela itu menyenangkan.
“Leon bisa kamu makan lebih cepat?”
“Iya, kamu tahu, akibat kecelakaan kemarin, aku sulit menelan makanan, perlu waktu. Aku harap kamu sabar, tapi dimana makananmu?”, Leon baru menyadari Pamela terlambat makan dan itu semua karena ulahnya.
“Aku........ belum”
“Ck, kamu memerlukan banyak nutrisi, apalagi masa menyusui. Tunggu sebentar”, Leon tiba-tiba turun dari ranjang melangkah tegak keluar kamar, sementara Pamela hanya diam menatap suaminya yang tidak seperti orang sakit.
...TBC...
__ADS_1