
BAB 73
Pamela yang tengah dilanda rasa sakit, tiba-tiba mengingat suami yang telah lama tidak dilihatnya, hatinya mendadak menyebutkan nama pria itu “Leon”.
Pandangan mata Pamela pun terarah pada pintu masuk, tangannya tetap terkepal menahan rasa sakit yang ada, entah kenapa kepala dan hatinya memanggil nama pria itu sembari menangis, kenangan selama tinggal bersama Leonard berputar di otak Pamela.
“Leon”, lirihnya
“Leon aku.......aku membutuhkanmu”, Pamela menarik dan menghela nafas.
BRAK
Pintu terbuka cukup kuat, suara napas seseorang sangat terdengar sampai ke telinga siapapun yang berada dalam ruangan.
“T-tuan Muda, huh huh huh”, suara seseorang yang sangat dikenali tengah mengatur napas, akibat berlari setelah tiba di pelataran GB Hospital. Pengawal yang lain pun ikut terhenti gerakannya saat melihat tuan mereka dalam keadaan baik-baik saja.
“Kalian tunggu di luar”, suara perintah yang tak pernah menerima bantahan apapun. Meski napasnya masih tidak beraturan tapi intonasi dan sikapnya tetap tegas.
Ya, dia adalah Aleandro Leonard Torres, pria yang terkenal memiliki ketampanan di atas rata-rata serta sikap kejamnya pun tidak kalah dari kesempurnaan fisik, dan namanya selalu menjadi nomor 1 di Spanyol sebagai pengusaha muda sukses, berbakat dan menggebrak dunia bisnis dengan terobosan terbaru.
Leon melangkahkan kaki perlahan mendekati istrinya yang tengah merasa sakit, apa rasa yang dialaminya telah menghilang? Tentu saja tidak, Leonard tetap nyeri dan ngilu pada bagian punggung bawah serta perut.
Namun itu semua ia tahan, yang terpenting saat ini adalah istrinya dan anak mereka yang akan segera lahir.
“L-Leon”, panggil Pamela.
Semua orang dalam ruangan menatap pada pria ini, apalagi Nyonya Torres tidak percaya apa yang dilihatnya, padahal sejak semalam putranya tidak bisa dihubungi dan menghilang, tapi lihat sekarang Leon tiba-tiba datang.
“Pamela.........Pamela, maaf aku baru datang”, ucap Leon kaku tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Aku merasa seseorang memanggil namaku sangat jelas”, lirih Leonard.
Pria ini membungkukkan tubuh sejajar dengan perut buncit istrinya yang terbaring miring, membisikkan kata-kata pada buah hati di dalam sana, “Son, ini daddy. Maaf, daddy datang terlambat. Sekarang lahirlah. Dad dan mom ingin melihat, menggendong”, mengecup perut Pamela.
Lalu pandangan mata biru safir ini teralih pada kepalan tangan Pamela yang nampak sakit. Sigap Leon meraih tangan istrinya dan menggenggam erat kedua tangan Pamela.
“AKH”, pekik keduanya bersamaan, lagi-lagi membuat orang dalam ruangan kebingungan.
Dokter kandungan gegas memeriksa jalan lahir, Leon yang melihatnya pun menatap ngeri serta semakin sakit perutnya. Ia tidak menyangka wanita yang selalu disakitinya, hamil dan kini merasakan sakitnya melahirkan. Leon semakin bersalah pada Pamela, tanpa sadar pria beralis tebal ini menitikkan air mata.
“Nyonya, pembukaan jalan lahir sudah tahap 9. Sebaiknya kita pindahkan ke ruang bersalin”
“Lakukan yang terbaik untuk istriku”, tegas Leon.
Tidak menunggu lebih dari 10 menit, setelah sampai ruang persalinan Pamela telah mencapai pembukaan lengkap. Didampingi Leon yang selalu menggenggam erat tangannya, Pamela berjuang melahirkan buah hati yang tak diduga hadir dalam rahimnya.
“Semangat Nyonya, pasti bisa, tarik napas, dan mengejan”
“Ayo nyonya, kepala bayi mulai terlihat”, ujar dokter spesialis kandungan, memberi aba-aba pada Pamela.
“Pamela, kamu bisa, aku yakin”, bisikan Leon seakan penyemangat bagi wanita ini.
“Akh”, mengejan untuk terakhir kalinya dan putra yang sangat dinantikan oleh semua pihak lahir ke dunia, diiringi tangis menggema dalam ruangan.
Leon mengecup dahi, pipi, dan hidung serta bibir istrinya. Dia tidak tahu lagi bagaimana mengucap bahagia dan keberuntungannya ini. Pamela tidak menolak sentuhan yang diberikan sang suami, badannya terlalu lelah untuk menghindar, fokus mata tertuju pada bayi di tangan seorang dokter.
Wanita yang tanpa sengaja menjatuhkan minuman tepat di kemeja putih Leon, saat dirinya berada di bar karena putus cinta dari Megan Stewart. Dinikahi karena dianggap menghamba pada uang, dan mendapat penyiksaan bertubi-tubi dari Leon, kini memberinya anugerah tak terhingga.
Bayi merah di berikan di atas dada ibunya, mata biru safirnya terlihat jelas sama seperti sang ayah, serta bibir merahnya bergerak-gerak, tangan mungilnya seolah memeluk tubuh ibu yang mengandung selama 9 bulan.
__ADS_1
“El, maafkan daddy”, Leon tidak kuasa menahan tangis, air mata mengalir tidak lagi peduli siapa pria ini, tidak lagi memikirkan penampilan dan malu dilihat orang. Leon hanya menumpahkan apa yang ia rasa saat ini.
Bayi mungil ini mengedipkan kedua kelopak mata yang terarah pada sang ayah. Leon memegangi tangan kecil dengan kuku panjang itu, mengecup lembut.
Anak yang tak pernah di harapkan kehadirannya dan selalu ia cegah dengan memberi sang istri suntik obat. Anak yang akan ia lenyapkan bila hadir dalam tubuh Pamela.
“Maafkan daddy, El”, Leon seorang pria gagah dan ditakuti ini terisak di samping ranjang bersalin sang istri.
“El?”, lirih Pamela tanpa menoleh pada Leon.
“Ya, aku memberinya nama Donatello Xavier Torres”, Leon tersenyum kecil menatap mata jernih anaknya.
Pamela bergeming mendengar nama itu, sebelumny dia sempat berpikir akan memberikan nama ‘Donatello’ untuk putranya.
“Anugerah Megah untuk Keluarga Torres”, ucap Leon lantang, dirinya bernapas lega. Rupanya benar sakit yang dialaminya karena sang istri akan melahirkan, dan lihatlah kini semua menguap. Tidak lagi sakit pada pinggang dan perut bagian bawah.
Semua keluarga menyabut suka cita, anak pertama, cucu pertama dan cicit pertama bagi masing-maisng anggota keluarga. Pamela yang telah dipindah ke ruang perawatan tertidur akibat kelelahan.
Sementara bayi Leon menjadi pusat perhatian Tuan, Nyonya Torres dan Nenek Pamela. Bayi merah itu dalam gendongan Nenek Pamela, tidak ada saling rebut dan iri. Nyonya Torres tidak egois atau menyebabkan keributan hanya untuk menggendong cucunya.
Anak itu lahir ke dunia dalam keadaan sehat saja menjadi keberuntungan luar biasa, wajah Leonard benar-benar tercetak jelas pada El. Orang lain yang melihatnya pun akan tahu siapa ayah dari bayi ini.
“Leon, apa kamu sudah minta maaf pada Pamela?”, tanya Nyonya Torres mengalihkan perhatiannya.
Leon menggeleng kepala sebagai jawaban, menoleh pada Pamela yang terlelap tidur. Wajah yang sangat ia rindukan, selama berbulan-bulan hanya bisa menatap cantiknya sang istri melalui layar datar.
“Kamu harus memohon maaf, jangan ditunda Leon. Apalagi sekarang El hadir diantar kalian, mom yakin Pamela bisa menerima kamu lagi. Tunjukkan padanya kalau kamu adalah Leon yang berbeda dan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya”.
Nyonya Torres menepuk bahu kekar putranya dan memeluk buah hati yang selalu berjuang kembali pada sang istri dan mendapat maaf atas segala perilakunya.
__ADS_1
...TBC...