
BAB 85
Selesai mendapat penanganan dari dokter keluarga Torres, Leon hanya berbaring di atas ranjang, sesuai pesan dari tenaga medis bahwa pria kejam ini diharuskan istirahat agar proses pemulihannya berjalan cepat.
“Terima kasih dokter", Pamela mengantar dokter itu sampai ke pintu kamar. Dirinya sangat terpukul melihat keadaan Leon yang begitu memprihatinkan.
Selama tinggal dengan suaminya tidak pernah sekalipun Pamela lihat Leon terluka. Baru kali, rupanya pria itu memiliki rasa sakit dan tubuh yang bisa berdarah.
Sekian lama tidak berada dalam satu ruangan yang sama, membuat Pamela dan Leon sama-sama canggung, iya canggung. Apa mungkin karena kejadian yang menimpa, ditambah Leon belum sepenuhnya menerima maaf dari sang istri.
“Ehem, kenapa kondisinya jadi seperti ini?”, batin Leon.
Pamela yang baru saja menutup pintu kamar enggan memutar tubuhnya, ia terus memegang handel pintu. Menahan sekuat tenaga agar gemetar pada dirinya tidak terlihat oleh Leon. “Kamu ini kenapa Pamela, ini bukan pertama kalinya satu ruangan dengan Leon, jangan berlebihan”, masih tegak berdiri.
“Leon”
“Pamela”
Panggil keduanya bersamaan, semakin menambah rasa gugup antara Leon dan Pamela.
“Dia masih tidak mau melihat ku, kenapa?”, pikir Leon.
“Untuk apa Leon memanggil? Tidak, jangan mendekat. Lebih baik aku keluar dari kamar”, kata hati Pamela.
“Leon, sebaiknya kamu istirahat, aku keluar. Hubungi kepala pelayan kalau kamu memerlukan sesuatu, aku dan El tidur di kamar tamu”, tegas Pamela, kakinya mulai melangkah keluar dan seketika Leon hanya menatap sendu punggung yang tertutup rambut panjang curly istrinya.
“Pamela, kenapa sikapmu dingin?”, keluh Leon, untuk pertama kalinya mendapat sikap dingin dari wanita, Pamela bukan wanitanya yang dulu penurut dan sangat takut, Leon kerap memberi ancam.
Wanita itu kini menjadi lebih berani menentang keinginannya dan parahnya mengabaikan Leonard yang ingin diperhatikan.
__ADS_1
“Jangan gegabah Leon, yang penting istri dan anakmu sudah kembali dan bersedia tinggal di mansion, tidak apa sekarang terpisah kamar, mungkin Pamela membutuhkan waktu lebih banyak, ini semua juga salahmu”, Leon mencoba menghibur tapi berakhir mencela dirinya sendiri.
Kepala pelayan datang membawa makanan untuk Leon, tapi yang Leon harap adalah wanitanya bukan kepala pelayan yang berusia setengah abad ini. “Dimana Pamela?”, walaupun terluka dan tidak berdaya, Leon tetap menunjukan sikap angkuhnya.
“Nyonya di kamar tamu bersama Tuan Muda El, berpesan pada kami jika Tuan ingin bertemu Tuan Muda EL, sebaiknya besok pagi karena hari ini Tuan Leon membutuhkan istirahat”, tutur kepala pelayan.
“Hah, apa-apaan ini? Sampaikan padanya aku menunggu di sini, ah ya katakan juga kalau aku tidak akan makan apapun kecuali ditemani oleh Pamela, CEPAT!!!!”, perintah Tuan Leon menjadi santapan lumrah bagi para maid, tetapi kali ini sorot matanya tidak biasa, begitu tajam menusuk.
Lama Leon menunggu sekitar 30 menit, ia gelisah dan tidak tenang, kedua tangan disisinya terkepal kuat, tidak biasa menunggu apalagi sampai 30 menit. Kalau saja bukan Pamela tetapi orang lain, pasti telah dibinasakan orang itu berani membuatnya menunggu.
Dimana Pamela yang selalu patuh? Dimana Pamela yang selalu menuruti semua perintah Leon? Pamela yang selalu tepat waktu, semua hilang. Sekarang Leon harus bersabar menghadapi semua sikap asli istrinya, wanita yang tidak bisa lagi ia kendalikan dengan uang, melainkan dengan kesungguhan hati.
“Bawa istriku sekarang, sampaikan padanya aku demam”, bohong Leon hanya untuk memancing Pamela naik ke kamarnya di lantai 2.
Tepat pada menit ke 45, rahang yang semula kaku dan ketat menahan amarah serta suasana ruangan yang tegang berubah hangat, kala pintu terbuka dan Pamela berdiri menatap pada lurus pada suaminya.
“Kalian keluar !”, usir Leon tidak suka waktu berkualitasnya diganggu siapapun.
“Makanlah, kamu memerlukannya, jangan sampai dokter datang lagi akibat kamu tidak mau makan”, datar Pamela tidak menoleh sama sekali.
Menutup mata dengan satu tangan, Leon menghela nafas kasar. Niatnya minta diperhatikan tetapi Pamela diam saja duduk seolah tidak ada Leon.
“Tanganku sakit, kamu tidak bisa bantu suamimu? Setidaknya bantulah sedikit”, Leon sangat berharap dalam hati dan “YES”, teriaknya dalam hati ketika Pamela berdiri.
“Akhirnya dia menurut, tidak masalah aku sakit selama diperhatikan olehnya”, girang Leon tapi kegembiraan yang baru saja singgah lenyap sudah mendengar Pamela mengatakan sesuatu di luar dugaan seorang Aleandro Leonard.
“Aku panggilkan kepala pelayan, beliau yang membantumu makan”, Pamela gegas keluar kamar tanpa tahu Leon terduduk lemas, pupus harapannya untuk meraih simpatik dari wanita yang ia rindukan.
.
__ADS_1
.
“Selamat pagi, Tuan Leon”, kepala pelayan dan jajarannya siap membatu Leon pagi ini, tapi pria yang masih terbaring lemah di atas ranjang tidak bersemangat menjalani hari, semalaman tidurnya tidak nyenyak selalu terbayang wajah Pamela.
“Tuan, kami akan membantu anda mandi. Nyonya Pamela dan Tuan Muda El sebentar lagi sampai di kamar ini”, tutur Kepala Pelayan.
Mendengar nama Pamela dan putranya disebut, Leon menjadi semangat. Bahkan melupakan rasa sakit di kaki, ia berjalan seorang diri ke kamar mandi, masuk walk in closet memilah pakaian yang cocok untuk bertemu wanitanya.
Sikapnya ini lebih cocok disebut sebagai anak muda yang baru saja mengenal indahnya jatuh cinta.
“Tuan Leon, Nyonya sudah tiba”
Secepat kilat Leon menyelesaikan penampilannya dan keluar menyambut anak , istrinya. Tawa El sangat dirindukan, anak yang setiap harinya bertambah besar dan bertingkah lucu. “El rindu daddy? Kemarilah”, mengulurkan kedua tangan meminta El dari pangkuan ibunya.
Seluruh pelayan tidak menyangka jika tuan yang mereka sukai tiba-tiba memiliki istri dan anak, tidak juga terdengar kabar pernikahan. Leon yang dikenal tak tersentuh oleh wanita manapun pasca putus dari Megan , telah menambatkan pada satu nama yaitu Pamela.
“Kenapa kamu diam disana? Kemarilah duduk”, menepuk sisi ranjang yang kosong. “Tidak perlu sungkan, kelak ini kamarmu juga”, ucap Leon menyeringai tipis.
“APA?”, sebal Pamela sekaligus malu pada maid yang masih diam di dalam kamar.
Leon menginginkan malam ini El tidur dengannya di kamar dan mulai siang hari harus bermain di kamar, pria ini meminta para maid menyiapkan perlengkapan El.
“Mana bisa Leon? Kamu harus istirahat. Tidak bisa menjaga El semalaman”, tolak Pamela, selain tidak percaya Leon bisa menjaga putranya dengan baik, dia juga masih terluka pada beberapa bagian tubuh.
“Tentu saja kamu juga ikut tidur disini, kita bertiga. Apa kamu tidak takut El bangun tengah malam dan mencari mommy-nya?”
“Jangan gila kamu Leon”, Pamela membuang muka, tidak sangka pria ini masih bersikap licik di mansion. .
...TBC...
__ADS_1