Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 96 - Tugas Leon


__ADS_3

BAB 96


Pamela dan Nyonya Torres sedang menikmati makanan yang baru-baru ini viral di Kota Madrid, banyak kaula muda menggilai makanan itu. Tentu pelopornya adalah anak muda, Pamela yang tidak bisa mengendarai mobil enggan pergi keluar meninggalkan El, apalagi memesannya mengantre pasti membutuhkan banyak waktu. Akhirnya seorang sopir ditugaskan membeli makan viral itu.


Nyonya Torres yang tidak pernah sembarang makan, semua harus terukur kadar kalori, garam, gula, lemak, protein kini hilang sudah. Besama Pamela, nenek satu cucu itu menikmati lezatnya makanan pinggir jalan yang di kemas layaknya bintang 5.


“Pamela ini enak, mom baru pertama kali mencobanya. Besok kita beli lagi yang banyak, semoga daddy dan Leon tidak memarahi kita, apalagi Leon, hah anak nakal itu sangat cerewet. Mom minta kamu memaklumi Leon ya, dia hanya galak dan kejam dari luar tapi kamu lihat sendiri kan sikapnya di dalam mansion sangat manis. Dia itu menyayangi kamu Pamela, kamu wanita kedua yang dicintainya.” Tutur wanita paruh baya ini panjang lebar.


“Eh, i-iya mom...... ya tentu saja aku yang kedua, yang pertama pasti Megan. Huh, hentikan Pamela jangan berpikir negatif tentang suamimu.” Kata hati Pamela tercengang mendengar Nyonya Torres mengatakan jika ia adalah wanita kedua yang dicintai Aleandro Leonard.


“Pamela mom harap kamu jangan berpikir negatif tentang Leon, mom tahu apa isi kepalamu itu. Hahaha. Wanita pertama yang anak akal itu cintai tentu saja aku ibunya, kamu perhatikan semua yang mom inginkan pasti dituruti sedangkan bersama daddy, Leon selalu berdebat.”


Nyonya Torres menggenggam erat kedua tangan menantunya, ia sangat bahagia Leonard tidak salah memilih wanita. Pamela adalah pilihan yang tepat untuk mendampingi Leon yang dikelilingi kobaran api ketika sedang marah dan hanya Pamela penyejuk serta pereda emosi Leon.


“Kamu wanita kedua yang dicintainya. Sikap kerasnya luluh begitu saja kalau bersama kamu, anak itu menjadi kucing manis.” Tawa keduanya pecah.


Benar apa yang dikatakan Nyonya Besar ini. Seringkali Leon dibuat tidak bisa berkutik sama sekali, jika Pamela mengatakan ‘tidak’ atau ‘ya’.


“Sepertinya aku harus minta royalti dan bayaran dari mom juga istriku.” Celetuk Leon, suaranya muncul tiba-tiba di balik pintu.


Pria ini sengaja pulang lebih awal dari jadwal dan menyerahkan sisa tugasnya pada Alonso, tentu dengan iming-iming bonus tambahan yang akan diberikan setelah selesai mengerjakan semuanya.


“Leon , kamu tidak biasanya pulang cepat?.” Tanya Pamela yang menoleh pada Leonard dan mendapat sambutan hangat dari bibir pria kejam itu.


“Heh dasar anak muda, kalian melupakan mommy. Cepatlah Pamela urus bayi besarmu ini sebelum menyusahkan.” Usir Nyonya Torres, tidak hanya satu atau dua kali memergoki adegan seperti itu.


Tidak merasa lelah sedikitpun Leon membawa istrinya ke kamar dengan menggendong Pamela, memberi kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah sang istri.

__ADS_1


“Malam ini kita keluar, aku pastikan kamu menyukainya.” Bisik Leon, mempersiapkan semua yang akan Pamela pakai untuk malam ini mulai dari alas kaki, gaun hingga seorang MUA.


“Kita mau kemana?.”


“ Ke kamar.” Mengerlingkan sebelah mata tanda menggoda.


Leon yang dahulu menyeramkan perlahan berubah dan sangat menyenangkan di mata Pamela.


.


.


Malam ini terpaksa Pamela meninggalkan El untuk pertama kali, menitipkan putra kecilnya pada nenek dan ibu mertua. Susah payah Leon membujuk istrinya agar ikut keluar dan menikmati waktu berdua.


Berbeda dengan Leon yang tampak senang dan bahagia, akhirnya setelah hampir dua tahun ia memiliki waktu berkualitas bersama istri, menyesal tidak memanfaatkan waktu dengan baik sebelumnya.


“Memangnya kita kemana? Apa masih lama?.” Pamela merasa perjalanan malam ini begitu jauh dan panjang, atau mungkin hanya perasaannya saja.


Sepasang suami istri itu tiba di gedung bergaya renaissance, bangunan yang elok dan bernilai seni tinggi.


Pamela tahu tempat ini tidak bisa sembarang dimasuki oleh semua orang, hanya kalangan tertentu saja yang bisa masuk, dengan memiliki kartu keanggotaan dan biaya pertahunnya yang membuat siapapun menggeleng.


“Ayo turun.” Leon mengulurkan tangannya dan mendapat sambutan dari Pamela.


Semakin masuk ke dalam, kedua bola mata Pamela tampak berbinar kagum, rupanya ini galeri seni beragam kesenian ada di gedung ini. Mulai dari teater opera, pameran benda antik, tembikar, fotografi sampai pada bagian atas gedung dimana lukisan karya seniman terbaik terpajang disini.


Pamela yang memiliki ketertarikan akan lukisan tak henti menatap pada banyaknya karya itu. Sampai pada suatu titik dimana hanya ada satu lukisan terpajang berbingkai emas.

__ADS_1


“I-itu, Leon Itu, aku..... itu milikku.” Pamela mengedipkan kedua mata berulang kali, bagai mimpi hasil lukisannya terpajang bersama seniman terkenal.


Wanita yang malam ini menggunakan gaun berwarna navy dan kalung berlian menambah kesan mewah pada penampilannya. Pamela menangis haru, ia tidak percaya apa yang dilihatnya.


“Kenapa bisa ada disini?.” Lirihnya, kemudian tersentak dengan dua tangan kekar yang memeluknya dari belakang, Leon menyangga dagupada bahu kanan Pamela.


“Leon ini semua ulahmu? Seingat ku, lukisan ini aku tinggal di Jakarta dan hanya nenek yang tahu.”


“Kamu yakin hanya nenek? Bagaimana dengan kepala pelayan?.”


“Bagaimana bisa Leon?.”


Tentu saja apa yang tidak mungkin bagi seorang Leonard? Leon banyak mengorek informasi dari para pelayan di mansion Jakarta, banyak kabar positif yang didengarnya, hobi Pamela bertambah tidak hanya memasak tetapi melukis.


Beberapa hasil karya Pamela dikirim dua minggu yang lalu dan baru saja sampai kemarin malam. Detik itu juga Leon memberi tugas penting pada Alonso, tugas yang cukup berat dan alot. Tengah malam asisten pribadi Leon itu harus merelakan jam tidurnya untuk negosiasi pembelian gedung seni ini.


Awalnya mendapat penolakan karena ini adalah sarana pameran seni yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun tapi lagi-lagi tangan Leon bergerak cepat hingga pagi ini gedung bernilai estetika luar biasa itu resmi menjadi milik Pamela.


Ya, Leon membeli atas nama sang istri, dengan catatan tidak mengubah fungsi gedung dan benda-benda antik di dalamnya.


“Ini semua milikmu, mau berkeliling?.” Tawar Leon, tidak sia-sia mengutus Alonso dari malam sampai pagi, bujangan itu menghabiskan waktunya untuk memenuhi keinginan Leonard.


“Aku suka, dan sangat berterima kasih, lukisanku yang masih jauh dari kata sempurna bisa bersanding dengan ......dengan seniman senior. Tapi kamu berlebihan sampai membeli bangunan ini.”


“Semua aku lakukan untukmu Pamela. Apapun aku lakukan demi istriku, membuatmu bahagia dan tersenyum ah salah tapi tertawa adalah tugasku. Terima kasih sudah menerima suamimu ini, terima kasih menerima segala kekurangan dan kelemahanku, terima kasih sudah mengandung dan melahirkan El.”


...TBC...

__ADS_1


 


__ADS_2