
BAB 42
Acara terakhir di Maldives yang digelar oleh Tuan Muda Marquez, dihadiri para pengusaha muda dan pewaris perusahaan ternama. Malam ini Leon datang bersama Pamela, tuntutan dari Tuan Muda Marquez, jika semua tamu yang hadir wajib memiliki pendamping.
Pamela dan Leon menjadi sorotan tamu yang hadir terutama Dylan, mengeram kesal. Pasalnya ia gagal mengajak Pamela ke pesta dansa, akhirnya Dylan ditemani wanita bayaran yang di sewanya pagi ini.
Gaun berwarna merah sangat anggun membelit tubuh Pamela bak sebuah kado mewah berhias pita emas, semua yang digunakan hari ini khusus Leon pesan dan hanya satu-satunya di dunia yang Pamela miliki.
Penampilan Pamela begitu padu bersama Leonard, yang menjadi incaran para wanita. Benar-benar sosok pria tampan menggoda iman. Pamela melirik ke sisi kanan dan kiri, tatapan kagum ditujukan pada suaminya. Lagi pula siapa yang tidak mau menjadi bagian dari kehidupan Leon? Pengusaha muda sukses yang juga pewaris Torres Inc, konglomerat nomor satu itu.
“Tu....Leon”, gugup Pamela.
“Ingat, jangan mempermalukan ku Pamela. Alonso sudah memberitahumu bukan?”, bisik Leon dingin, aroma mint menguar dari bibirnya.
“Iya Leon, aku mengerti”, lirih Pamela, takut, gugup bercampur jadi satu. Pamela menggandeng lengan suaminya erat, begitu pun Leon merengkuh pinggang istrinya sangat erat dan padu dengan tubuhnya.
“Jangan tundukan kepalamu”, bisik Leon, sebelum menyapa Tuan Muda Marquez dan rekan bisnisnya lainnya.
“Iya”, Pamela tersenyum, turut hadir menemani Leon kedua kalinya di acara resmi masih canggung bagi Pamela apalagi banyak para wanita menatap benci padanya.
“Selamat malam, Tuan Muda Torres. Wah anda kembali ditemani wanita cantik yang sama. Apa mungkin nona ini kekasih anda?”, tanya Tuan Muda Marquez setengah bergurau.
“Menurut anda bagaimana Tuan Muda Marquez?”, Leon membalas ambigu candaan itu.
Apa Pamela sakit hati tidak diakui sebagai istri? Tentu saja ia merasa sakit tapi untuk apa terlarut dalam kesedihan. Suaminya ini pun tidak memberikan jaminan apapun baik pengakuan pada dunia, kesetiaan, kasih sayang kecuali uang. Leon memenuhi semua kebutuhan sang istri lebih dari cukup dan melimpah.
Tubuh Pamela selalu berada di sisi Leon, pria kejam itu menyadari tatapan geram seseorang yang berkerumun bersama para tamu. Namun kedua matanya tertuju pada Pamela, ya Dylan mengamati pasangan itu. Dia jengah memperhatikan tangan Leon bertengger di pinggang Pamela. Ingin rasanya Dylan menyingkirkan seorang Leon jauh-jauh dari wanita pujaannya.
__ADS_1
“Ku pastikan Pamela menjadi milikku, Leonard”, desis Dylan di hatinya.
.
.
Usai pesta dansa berakhir Leon membawa istrinya keluar hotel, ia lelah selalu dalam pengawasan banyak pasang mata yang ingin tahu kehidupan pribadinya. Selain itu Dylan mengganggu pergerakan Leon.
Leon membawa istrinya ke Villa pribadi Torres di Maldives menggunakan helikopter, tentu saja benda berbaling-baling besi itu milik Leon pribadi bukan sewa atau pinjam. Pamela kembali kagum pada suaminya, benar-benar ia baru mengetahui bahwa Leon bisa mengendarai benda ini.
Tapi sepanjang berada dalam helikopter, Pamela hanya duduk diam melihat lurus ke depan. Ia yang semula ingin tersenyum menahan sekuat tenaga, ketika betapa eratnya Leon memasang sabuk pengaman.
“Leon sekarang kita kemana? Apa pulang ke penthouse?”, polos Pamela, ia benar-benar ingin tahu kemana suami tampan mapan kejamnya ini membawa raga keduanya. Melewati lautan yang membentang serta hutan, Pamela khawatir Leon mendorongnya hingga jatuh tenggelam di laut lepas.
Pertanyaan Pamela itu seakan hanya angin bagi Aleandro Leonard, dirinya hanya fokus memegang kendali helikopter tanpa sepatah kata menjawab Pamela yang sangat penasaran. Bahkan melirik sedikitpun tidak, patung ya Pamela hanya benda hidup yang Leon anggap sebagai aset bukan pasangan.
Pamela berhenti melangkah, tidak mengikuti suaminya yang berjalan lebih dulu. Tapi kemudian suara Leon memekakkan telinga wanita cantik berambut curly ini.
“PAMELA KENAPA KAU DIAM SAJA?”
“Eh iya Leon”, berjalan kembali mengikuti suaminya menuju sebuah kamar dengan pemandangan yang langsung mengarah pada laut.
“Kamarku dimana Leon?”, tanya Pamela lemah, ia tak mau terlalu percaya diri bahwa akan tidur satu ranjang bersama suami kejamnya ini.
“Apa matamu sakit? kau tidak lihat ini kamar?”, hardik Leon kesal pada Pamela yang selalu bertanya.
Pamela hanya tersenyum kaku menanggapi suaminya, “Huh, apapun yang ku tanya dan lakukan selalu salah di matamu Leon”, batin Pamela.
__ADS_1
“Besok pagi Alonso akan membawa semua barangmu kesini”, tegas Leon sambil membuka jas, dasi serta kemejanya membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos sempurna.
Sementara Pamela menatap dirinya sendiri, apa iya semalaman ini harus tidur menggunakan gaun panjang ini. “Leon, apa tidak ada pakaian ganti disini untukku”, cicit Pamela.
“Kau lebih baik tanpa sehelai benang, sekarang buka semuanya dan tunggu aku di sana
, tunjuk Leon pada ranjang besar di tengah ruangan. Sontak kedua mata Pamela terbuka lebar mendengar perintah suaminya.
.
.
Malam dingin dan semilir angin laut tidak melenyapkan suara dalam kamar pada sepasang suami istri yang baru saja usai berbagi peluh. Pamela yang kelelahan tidur meringkuk membelakangi suaminya, Leon masih fokus pada layar ponsel memeriksa beberapa laporan perusahaan yang masuk.
Ponsel mahal miliknya berdering, Pamela yang belum nyenyak tertidur samar mendengar suara manja seorang wanita dan ungkapan sayang serta cinta dari suaminya. “Pasti Nona Megan”, lirih Pamela dalam hati.
Kata-kata dan nada suara Leon begitu lembut tertuju pada kekasihnya, berbanding terbalik dengan apa yang diberikan untuk Pamela. Hanya bentakan, dan kekerasan yang diterimanya tak ada ungkapan cinta seperti bibir Leon ungkapkan kepada kekasihnya itu.
“Aku mencintaimu Leon”
“Hem, ya Megan aku juga sama mencintaimu”
Pamela hanya memegangi dadanya, terlampau sering Leon membuat hatinya patah berkeping-keping tak berbentuk. Menyakiti Pamela sesuka hatinya, secara berulang terus menerus entah kapan akan berakhir.
Bahu Pamela bergetar menahan tangis, tidak ini bukan perasaan cinta pada suaminya melainkan kecewa pada sikap Leon, ya pasti karena Pamela membenci suaminya. Namun lubuk hatinya menyangkal semua kata-kata yang ia tanamkan.
Lalu apa Leon mengerti kesedihan Pamela? Jawabannya tidak. “Kenapa?”, tanya Leon pada Pamela setelah selesai menelepon. “Kau cemburu? Mengharap dicintai dan disayangi? Jangan bermimpi Pamela”, hardik Leon tak berperasaan setelah 30 menit lalu mereguk kenikmatan dari istrinya.
__ADS_1
“Aku tidak pernah mengharapkan perasaanmu Leon. Tenang saja aku bukan wanita pemimpi”, tegas Pamela menyusut air mata yang menganak sungai. Entahlah rasa apa yang dialami wanita cantik ini, mungkinkah cinta yang terbalut benci atau hanya sekedar rasa benci berlebihan terhadap sang suami.