Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 52 - Kecelakaan


__ADS_3

BAB 52


“PAMELA?”


Leon tetap memanggil nama istrinya, sampai asisten rumah tangga dan penjaga yang bertugas menghampiri.


“Tuan...”


Asisten rumah tangga yang merasa sesuatu akan terjadi, hanya menundukkan kepala, tangannya bergetar, takut pada tuannya.


“Dimana istriku? Seharusnya kalian menjaganya? Dimana dia?”, bentak Leon.


Tidak mendapat jawaban memuaskan, Leon menghentak kasar tubuhnya dan keluar apartemen, mengendarai mobil sport mewahnya. Sepanjang perjalanan mencoba menghubungi Alonso tapi selalu gagal, sepertinya pria itu telah terlelap damai peraduan.


“Sial, dimana kau Pamela? Beraninya perempuan itu kabur”, memukul berulang setir mobil. Leon pun memerintahkan anak buah lainnya untuk mencari keberadaan Pamela dan memberikan alamat lama tempat tinggal istrinya. Leon yakin Pamela kembali pada rumah kumuhnya di pinggir kota.


“Temukan dalam satu jam, jika tidak kalian akan menanggungnya, mengerti !!!”, karena terlalu fokus menghubungi seseorang Leon sampai tidak bisa menghindari mobil lain yang muncul mendadak di depannya.


Gesekan ban pada aspal terdengar nyaring hingga asap mengepul, kecelakaan tak bisa terhindarkan. Seketika pria kejam itu kehilangan kesadaran, dengan kepala yang membentur kaca pada sisi kursi kemudi.


Samar-samar Leon mendengar suara riuh orang serta nyaringnya ambulan, kendati tak membuka mata tapi pendengarannya masih berkerja sangat baik.


“Tuan Muda Torres? Tuan Muda? Apa anda bisa mendengar saya?”


Beruntunglah Leon, keamanan pada mobil mewahnya tidak mengakibatkan ia cidera serius namun tetap mendapat penanganan di rumah sakit. Kepalanya sedikit memar, dan hasil tontgen serta MRI semua baik-baik saja.


Nyonya dan Tuan Besar Torres terkejut luar biasa mendengar kabar putra tunggalnya masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Wanita paruh baya itu hanya menangis di sisi ranjang Leonard, berbeda dengan sang ayah, rasanya mustahil Leon mengalami kecerobohan seperti ini.


Pasti ada hal yang menyita seluruh perhatiannya, bukan terkait pekerjaan namun masalah pribadi.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu terbaring tidak berdaya seperti ini”, todong Tuan Besar Torres.


“Dad, sudahlah”, Leon enggan menanggapi pria tua yang selalu l menuntut darinya.


“Kau ini, anakku baru siuman jangan banyak bertanya, oh Leonku sayang”, ucap Nyonya Torres, cemas.


Leon mencari ponselnya, ia harap ada kabar dimana keberadaan aset miliknya yang telah ia beli sangat mahal.


“Untuk apa mencari benda itu? Istirahatlah, kau ini terlalu senang bekerja”, omel sang ibu sangat mengganggu pendengaran siapapun yang hadir. “Awas saja kalau kau seperti ini karena model sialan itu, mom tidak akan memaafkannya, mengerti kau Leon”.


Akhirnya malam ini berakhir dengan Leon yang terpaksa memejamkan mata tanpa mengetahui dimana istri pelampiasan. Nyonya Torres bahkan tak segan membuang ponsel mahal milik anaknya ke dalam toilet jika Leon nekat bekerja dalam keadaan sakit. Leon tak bisa membantah perintah wanita yang ia sayangi.


“Sepertinya putramu melakukan kesalahan”, imbuh Tuan Torres.


“Apa itu? Apa karena wanita? Wanita mana? Megan? Hah aku tidak rela putra berhargaku mencintai wanita menjijikan itu”, kesal wanita paruh baya.


“Dia juga putramu, bukan hanya aku yang memilikinya”, sergah Nyonya Torres.


Sampai pagi Leon tak juga diizinkan memegang gawai, merasa kondisinya baik-baik saja, Leon memaksa keluar rumah sakit, namun ia tidak bebas bergerak sesuai keinginan.


Bahkan selama satu minggu ini Tuan Torres memberikan cuti pada putra sematawayangnya, khawatir terjadi sesuatu. Leon pun harus rela terkurung dalam mansion utama dengan penjagaan ketat dari kedua orang tuanya. Bukan hanya itu, Megan pun diusir serta dilarang mengganggu Leon satu minggu ini.


“Tuan muda ini ada beberapa pesan untuk anda”, ujar maid menyampaikan map berisi laporan yang Leon tunggu.


Kedua tangan Leon terkepal kuat membaca isi laporan, rupanya Pamela memang sengaja melarikan diri dan lebih parahnya lagi tidak ditemukan di Kota Madrid, rumah kumuhnya pun kosong hanya ada debu bersemayam di sana.


“Sial dimana wanita itu?”.


Tidak hanya itu, Leon pun mendapati sejumlah uang yang Pamela tarik  beberapa hari yang lalu. Pria ini hanya tertawa sinis, Pamela memang mengincar uangnya, terlihat ia langsung melarikan diri bersama satu juta euro ditangannya, tapi tunggu pandangan mata Leon merasa ada yang janggal pada jumlah uang itu.

__ADS_1


“Hah, kenapa informasi ini hanya setengahnya? Apa mereka kekurangan uang sehingga tidak becus bekerja?”, keluh Leon. Ya hanya Alonso lah yang dapat diandalkan, tangan kanannya itu memang selalu rapi mengerjakan sesuatu tak terkecuali melindungi Pamela tanpa sepengetahuan Leon pastinya.


Tapi sayang Leon tidak bisa bergerak semaunya di mansion ini, aturan kedua orang tua itu merantai Leon dan membatasi dirinya. Lucu memang, pria yang terkenal berkuasa dan kejam harus tunduk dibawah kedua orang tuanya.


Selama ini juga Leon tak pernah memikirkan Megan, atau ingin menanyakan kabar kekasihnya, pikiran Leon hanya satu dimana Pamela saat ini. Wanita itu pergi hanya membawa barang jelek dan uangnya, bisa saja Pamela membawa berlian dan perhiasan yang tersimpan dalan walk in closet.


“Argh sialan, awas kau Pamela, sekalipun di lubang semut paling kecil akan ku temukan dan ku seret kau kembali”, tatapan tajam Leon, rahangnya mengeras dan napasnya memburu.


**


Di Desa terpencil , Pamela begitu menikmati hari-hari tanpa suara yang menyakiti telinga, raga dan batinnya. Apa Pamela tahu kalau suami kejamnya kecelakaan? Jawabannya tidak. Nenek Pamela memutuskan saluran televisi, iya wanita senja itu melihat kabar bahwa Tuan Muda Torres mengalami kecelakaan namun urung memberitahu cucunya.


Biar saja, Pamela dan Leon kini hidup masing-masing tak ada kaitannya lagi. Nenek tidak mau cucunya mengingat masa kelam, yang ada kini hanya masa depan tidak peduli walau hidup sederhana di desa.


“Nek, lihatlah tetangga kita mengirim banyak ubi dan kentang”, senyum Pamela mengelus perut, belakangan memang ia senang sekali makan ubi manis panggang, tubuh istri Aleandro Leonard ini pun mulai berisi dan terawat, tidak terlihat kurus. Pipinya tidak pucat dan bibir Pamela selalu mengulas senyum manis.


“Iya, kamu mau ubi panggang lagi? Nenek akan membuatnya untukmu dan cicit nenek”.


“Nenek sepertinya bulan depan aku akan mulai mencari pekerjaan, aku tidak bisa menggunakan uang itu sampai habis, setidaknya setelah anak ini lahir bisa mendapat kehidupan yang sedikit layak”, kedua mata indah Pamela turun pada perutnya yang mulai membuncit walau tidak begitu terlihat karena kaos yang digunakan Pamela cukup besar untuk wanita.


“Tapi Pamela bagaimana dengan kandunganmu? Apa kamu sudah memeriksakannya lagi?”, di desa ini hanya ada satu klinik dan lokasinya pun tidak mudah dijangkau, Pamela harus menggunakan dua transportasi umum untuk mencapai lokasi.


“Minggu depan aku akan mengunjungi klinik, apa nenek mau ikut?”


“Tentu, nenek akan selalu bersamamu nak”


...TBC...


 

__ADS_1


__ADS_2