Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 61 - Usaha Pamela (edit)


__ADS_3

BAB 61


Waktu terus berjalan sampai berbulan-bulan, kehidupan Pamela telah damai dan tenang, dirinya pun tak pernah melihat suami kejamnya di acara televisi. Pamela dan neneknya memulai menjalani usaha catering kecil-kecilan untuk penyambung hidup, ya setidaknya tidak mengandalkan sisa uang pemberian Leonard.


Dylan pun sering mengunjungi istri Leonard, minimal 1 bulan sekali untuk membawakan susu dan vitamin. Meskipun anak dalam kandungan Pamela milik pria kejam rival bisnisnya, tetap saja Dylan ingin suaranya dan kasih sayangnya bisa dirasakan oleh janin itu.


Tak jarang Dylan berbicara pada janin yang selalu aktif ketika mendengar suaranya, ia senang diterima dengan baik. Meskipun sangat ingin menyentuh permukaan kulit yang buncit itu, Dylan menahannya sampai Pamela mengizinkan untuk membelai anak Leon di dalam sana.


Menginjak usia kandungan 6 bulan, Pamela semakin gigih mewujudkan keinginan tentu didukung oleh nenek tercinta. Walau sampai saat ini usahanya belum membuahkan hasil, tetapi Pamela tidak patah arang, ini demi kehidupannya dan anaknya kelak.


Dokter menyatakan kandungan Pamela semakin sehat dan kuat, tapi tetap tidak diizinkan untuk beraktifitas secara berlebihan.


Pamela naik turun bus untuk melakukan promosi usahanya, mendatangi pabrik-pabrik di sekitar desa serta beberapa villa mewah. Hanya mendapat sedikit pesanan, dan cukup untuk biaya makan sehari-hari. Ia tidak mengeluh sedikit pun, begitu juga dengan bayi dalam kandungannya yang mulai aktif bergerak jika malam hari.


“Huh”, Pamela menghela nafas setelah berhasil naik bus, perjalanan pulang usai mengantar pesanan makan siang dan snack ke 2 villa mewah.


“Terima kasih selalu membantu mama”, mengelus perutnya yang buncit, dan seketika tersenyum mendapat respon dari dalam.


Banyak dari pelanggan yang menyarankan Pamela membuka gerai makanan, karena cita rasa yang enak serta berbeda dari biasanya. Hal itu masih Pamela pikirkan, karena saat ini ia harus membagi waktu antara istirahat dan memasak catering.


Tiba di halte bus desa, Pamela di jemput oleh neneknya. Senyum merekah menghias bibir ranum itu, “Terima kasih nenek”


“Bagaimana hasilnya?”, Pamela menepuk pelan tas yang berisi uang, dia tidak mau menerima pembayaran secara transfer. Jika terjadi artinya Pamela menyerahkan diri percuma pada Leon.


“Ayo nek, kita pulang sebentar lagi gelap”, rangkul Pamela pada lengan sang nenek.


“Apa untuk besok ada pesanan? Biar nenek yang siapkan bahannya”


“Ada nek dari Villa di desa sebelah, aku masih kuat nek, nenek istirahat saja”


“Kamu juga harus banyak istirahat Pamela, jangan seperti ini. Nenek yang siapkan semua tapi kamu masak, bagaimana? Seimbang kan?”, negosiasi wanita sepuh ini sembari menjaga cucunya.


“Aku setuju apapun menurut nenek baik”, senyum Pamela di bawah sejuknya pepohonan.


**

__ADS_1


Kota Madrid


“LEONARD”


“ALEANDRO LEONARD TORRES”


Teriak wanita cantik diusianya yang tak muda lagi, setiap hari selalu membangunkan putranya karena setiap hari juga Leon mabuk dan pergi ke bar.


“Dasar anak keras kepala”, maki Nyonya Torres.


Leon selalu bangun lebih siang dan makan tidak teratur, cambang di wajahnya ia biarkan lebat, lagi pula untuk apa menjaga penampilan, apalagi sampai membuat wanita lain terpesona, tidak akan. Hatinya sudah teguh dan terpatri hanya untuk Pamela.


“Bangun Leonard, kau ingin Daddy mu mengamuk lagi, hah?”, suara Nyonya Torres semakin nyaring.


“Ya mom”


Terpaksa pria ini bangun, padahal dalam mimpi ia bertemu dengan Pamela tapi Nyonya Torres sangat mengganggunya.


“Mom, mau kemana?”, tanya Leon dengan sorot mata yang menelisik penampilan ibunya, sepertinya akan pergi jauh dan bersenang-senang.


“Hem, aku tidak janji”


Leon memang malas pergi pada keramaian, dirinya lebih senang menyendiri.


Sebelum membersihkan diri, Leon lekat-lekat menatap gambar USG yang ia pajang di meja. Tersenyum memandang lingkaran hitam dengan titik kecil di dalamnya. “Aku harap kau masih ada, tunggulah. Aku pastikan membawa kalian berdua kembali ke sini, ke tempat dimana seharusnya”.


Alonso menjemput bosnya setiap hari, ia pun layaknya seorang anak angkat bagi keluarga Torres. Selalu sarapan bersama dan pergi kemana pun tujuan Leon.


“Pagi Tuan”, Alonso menyambut Leon keluar lift, “Ummm Tuan, anda tidak mencukur kumis dan janggut lagi?”, mengikuti langkah kaki Leon ke ruang makan.


“Apa sudah ada kabar dari istriku?”


“Belum ada tuan, hanya ada dua desa yang belum kita kunjungi, tapi itu sangat jauh tuan, jalannya tidak bisa dijangkau menggunakan mobil. Kalau pun bisa hanya sampai jalan besar dan.......”


“Lakukan !!!”, titah Leon tidak ingin mendengar apapun alasan Alonso.

__ADS_1


“Apa tuan tidak salah?”, gerakan Alonso terhenti, jangan sampai Leon memerintahkan dirinya pergi ke desa yang sangat jauh itu.


“Jangan sampai ku pangkas habis gajimu , cepat lakukan !!!!”, tegas Leon membenci pengulangan.


**


Sore ini Pamela kembali menawarkan jasa cateringnya di sekitar villa mewah. Pamela yang berjalan kaki beberapa kali berhenti karena kepalanya pusing dan bagian tungkainya sakit karena terus berjalan.


“Pamela?”, panggil seorang wanita seumuran dengannya dan menggunakan seragam khusus pelayan.


“Ada apa?”


“Pamela, bisa siapkan makanan untuk 40 orang? Majikan di tempat ku bekerja datang hari ini, Tuan dan Nyonya akan mengadakan pesta besok. Jadi aku minta tolong kamu bantu siapkan semuanya, termasuk snack”


“Jam berapa? Aku usahakan, terima kasih ya”, hati Pamela girang bukan main karena mendapat pesanan dengan jumlah yang cukup banyak. Ia akan pastikan memberi yang terbaik, tidak akan mengecewakan pelanggan barunya.


Di dalam bus, perjalanan pulang Pamela memikirkan dari mana modal yang harus ia dapatkan, sedangkan selama ini hanya memutar dari dana cash hasil cateringnya. “Apa aku gunakan uang Leon?”, gumamnya.


Walaupun uang itu miliknya tapi wanita ini masih sungkan menggunakan sesuka hati. Pamela merasa ada anaknya yang lebih berhak menggunakan uang itu.


“Tapi....”, Pamela terus berpikir, sampai hampir melewati halte bus yang menjadi tujuannya.


“Huh, nyaris”, mengusap dada lalu perut buncitnya.


Tiba di rumah Pamela langsung menyampaikan kabar baik pada neneknya, dan betapa senang keduanya karena ini merupakan langkah yang bagus untuk usaha Pamela.


“Nenek bantu siapkan semuanya, kamu catat saja apa yang harus nenek siapkan”


“Akh”, Pamela terpekik merasa ngilu pada bagian perut. “Kamu ikut senang ya?”, tanyanya mengelus perut, mendapat tendangan cukup kuat dari bayinya.


“Ah, cicitku memang beruntung memiliki ibu sepertimu, kamu pekerja keras Pamela”


Pamela istirahat lebih dulu sebelum mencatat semua yang diperlukan untuk esok hari, tiba-tiba hatinya berdebar tak beraturan. “Ada apa ya?”, gumam Pamela membalik tubuh ke sisi kiri.


...TBC...

__ADS_1


 


__ADS_2