Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 49 - Mulai Melangkah


__ADS_3

BAB 49


Dering ponsel yang sangat mengganggu memaksa Leon mengakhiri kegiatan panasnya, rupanya Nyonya Torres memerintahkan putra tunggalnya segera datang ke mansion utama sekarang juga.


“Argh”, geram Leon, melepaskan Pamela dan memakai pakaiannya kembali, bergegas keluar penthouse, melaju cepat menggunakan mobil sport mewah miliknya.


Sementara Pamela merintih kesakitan, perutnya terasa begitu kram dan ia menyadari ada sesuatu yang basah keluar dari pangkal paha. Wanita cantik yang selalu tersakiti ini tercekat mengetahui darah keluar dari bagian intinya. Tangan dan bibir Pamela bergetar, sungguh tak ingin terjadi sesuatu dengan janin dalam kandungannya.


Pamela menghubungi asisten rumah tangga untuk datang membantu, tidak menunggu sampai 5 menit wanita separuh baya itu datang dan terpekik melihat betapa kacaunya nyonya muda yang tak berdaya ini.


“Nyonya, saya bantu, anda harus kuat”, isak tangisnya.


Keduanya pergi ke rumah sakit menggunakan taksi online , asisten rumah tangga banyak menerima petuah dari dokter kandungan. Jika kandungan Pamela cukup lemah dan mengharuskannya istirahat selama beberapa hari di rumah sakit. Dokter pun mencari keberadaan Leon, tapi tak ada jawaban yang bisa disampaikan asisten rumah tangga atau Pamela.


“Baik saya mengerti, nyonya istirahatlah, jangan memikirkan yang lain”


“Terima kasih dokter”


Pamela ingin memejamkan mata tapi urung, rasanya begitu sakit dan ia tak bisa menahannya lagi.


“Apa aku bisa minta tolong?”


“Iya nyonya ada apa?”


“Bawakan semua barang milikku di tas hitam, hanya itu saja. Aku mohon”, tangis Pamela lemah, wajahnya pun pucat seperti tak dialiri darah.


“I-iya nyonya, saya akan membawanya untuk anda”.


.

__ADS_1


.


Tiga hari sudah Pamela di rawat, hari ini ia keluar rumah sakit ditemani asisten rumah tangga yang sangat setia bersamanya. Apa Leon mengetahui istrinya sakit? jangan ditanya.


Pria itu sibuk mengurus pekerjaan kantor dan acara perjodohan yang akan dilakukan Nyonya Torres, hingga Leon dilarang pulang ke penthouse dan hidup di bawah pengawasan kedua orang tuanya. Sudah waktunya pria ini memiliki pendamping hidup.


“Nyonya, saya pasti merindukan anda”, menyusut air mata yang jatuh membasahi.


“Terima kasih banyak membantu ku sampai saat ini, aku tidak aakan melupakan sedikitpun”, Pamela tersenyum.


Akhirnya tiba waktu bagi Pamela untuk mengakhiri semuanya, ia akan pergi meninggalkan Madrid selama-lamanya, terlalu pahit hidup di kota ini. Pamela akan hidup menggunakan sisa uang pemberian Leon.


Setibanya di permukiman kumuh, Pamela hanya menangis dalam pelukan neneknya. Ia mencoba berkata jujur atas apa yang terjadi dan betapa terpukulnya nenek tua itu, seberat inikah perjuangan cucunya hanya untuk merawat tubuh senjanya.


“Seharusnya nenek, kau biarkan saja Pamela, dari pada hidupmu tersiksa. Nenek tidak rela kau disakiti seperti ini”, isak tangis wanita sepuh itu. “Apa Tuan Muda kejam suamimu tahu keberadaan anaknya?”, sambungnya lagi.


Pamela bisa bernapas lega, ia telah keluar dari penjara mewah milik suaminya, bukan hal yang mudah untuk keluar dan melarikan diri. Ya bisa saja selama ini ia pergi namun bagaimana dengan nasib neneknya yang masih memerlukan banyak uang? Pamela pun bertahan hanya demi uang, bahkan kini mentalnya terganggu, ia trauma menjalin hubungan dengan pria.


Nenek Pamela kira Dylan lah Tuan Muda itu tapi ternyata salah. Dirinya tidak menyangka jika Pamela menjadi istri dari putra keluarga Torres, haruskah bangga? Oh tidak, mendengar penuturan Pamela tidak sedikit pun wanita sepuh ini merasa bahagia dan bangga, malah ia ingin menjauhkan Pamela selamanya dari Leon.


.


.


Beberapa hari hidup sebagai Pamela yang dulu, meninggalkan segala kemewahan yang ada serta sebutan Nyonya Muda. Pamela mulai menyembuhkan luka dihatinya, ia tak ingin larut dalam masa kelam bersama Leon. Hidupnya kini telah bebas dan tak ingin terusik lagi, tujuan Pamela dan penyemangat hanya buah hati yang sedang tumbuh dalam rahimnya.


Kendati rasa mual masih mengganggu ini bukan masalah besar bagi Pamela, neneknya begitu memanjakan Pamela, menyayangi sepenuh hati. Pamela yang berbaring di atas ranjang menyaksikan televisi dimana berita tentang suaminya. Leon mencetak penghargaan sebagai pengusaha muda tersukses tahun ini.


“Aku harap kamu tidak merindukan dia”, Pamela mengelus perut datarnya, berbicara kaku pada sebagian dari Leon yang sedang tumbuh.

__ADS_1


“Kita akan hidup bahagia, tanpanya. Iya harus yakin”, Pamela meneguhkan hati.


Pamela pun mengganti saluran televisi masih dimana-mana hanya ada wajah Leon terpampang, haruskah ia membuang TV usang ini?.


Seorang wanita cantik berdiri di samping Leon yang tak Pamela kenali, menurut narasi acara tersebut jika wanita itu adalah putri salah satu pengusaha yang akan dijodohkan dengan Leon. Memang bagai langit dan bumi dengan Pamela yang berasal dari permukiman kumuh dan pekerjaannya hanya pelayan bar. Tapi kini Pamela tak berkerja, karena kandungannya lemah.


“Lupakan Leon, Pamela, lupakan”, gumamnya.


“Pamela, nenek sudah memesan tiket kereta”, suara wanita yang sangat Pamela sayangi.


Siang ini Pamela dan neneknya akan pergi dari Kota Madrid, mereka tinggal di sebuah desa yang jauh dari jangkauan kota, bahkan perlu beberapa kali menggunakan angkutan umum untuk mencapai desa tersebut.


“Iya nek, terima kasih”


Tapi sebelum Pamela ke stasiun ia mengambil uang cash yang sangat banyak, ia tidak akan menggunakan kartu itu di sembarang tempat khawatir Leon akan menemukan keberadaannya.


Hanya pakaian usang dan lusuh yang dibawa dalam tas, kedua wanita ini akan memulai hidup baru.


Keduanya melangkah menuju halte bus, namun mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Pamela.


"Berhenti, Pamela berhenti", serunya pria itu dan turun dari dalam mobil, merebut tas hitam di tangan Pamela.


"Untuk apa anda datang kesini?"


"Aku mencarimu, kau tidak boleh pergi kemana pun", ucapnya.


"Dasar anak muda sialan, berani menyentuh cucuku. Pria sepertimu tidak layak hidup, tahu tidak", hardik nenek Pamel.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2