Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 38 - Iblis Cantik


__ADS_3

BAB 38


“Bagus Pamela”, tajam Leon.


Dapat Pamela lihat sebelum menunduk rahang tegas Leon berkedut, mata biru safir pria ini menusuk bagai belati memperhatikan Pamela.


“Alonso  kau boleh pergi”, Leon mengusir asisten pribadinya secara halus.


“Pergi kemana saja kau Pamela?”, tanya Leon masih dengan tatapan tajamnya, “Seorang istri yang sangat tidak tahu diri, murahan”, bentak Leon depan wajah wanita yang bahkan belum sempat membuka sepatu itu.


Pamela menegang dan mematung, mencoba menulikan telinga tidak bisa tetap saja kata-kata caci maki Leon masuk tanpa izin pada telinga, hati hingga pikirannya.


Baru saja Pamela membuka mulut akan menjawab kemana dia pergi hingga malam baru pulang, Leon lebih dulu menjepit rahang kecil istrinya. “Sa-sakit Tuan, aku mohon lepaskan”, gemetar Pamela. Sungguh lelah menghadapi hari ini, makanan yang baru masuk lambungnya pun mungkin belum terolah menjadi energi tapi ia harus melawan Leon saat ini juga.


“Seharusnya kau diam di tempat itu, jangan bergerak sedikit pun !”, bentak Leon, melepas kasar rahang Pamela. “Pria mana lagi yang mengantarmu pulang? Apa Dylan pria brengsek itu?”, Leon masih menunjukan taring tajamnya pada seorang wanita.


“KATAKAN PAMELA, KAU TIDAK BISU DAN TULI, KAN?”


“Aku pulang diantar seorang wanita paruh baya tuan, beliau menolongku dan memberiku makan”, cicit Pamela, ia mengingat kemurahan hati wanita itu.


“Ck, rupanya kau mengemis?”, sinis Leon, mengelilingi istrinya dan menarik bahu Pamela hingga merapat padu pada dada bidang Leon, “Sekarang bersihkan dirimu dan datang ke kamarku, rapikan penampilanmu”, perintah Leon yang sangat Pamela benci, hidupnya hanya sebagai pelampiasan dan mainan pria kaya raya seperti Leon.


“Tapi Tuan....”


“Aku tidak mau mendengar penolakan apapun, 30 menit lagi kau harus datang ke kamar ku tidak boleh terlambat satu detik pun”.


Pamela berjalan gontai menaiki anak tangga, napasnya tersengal tertahan dari hidung masuk pada tenggorokan, hingga paru-parunya terasa berat. Tidak, wanita cantik ini tidak menangis, mungkin air matanya telah mengering untuk hari ini.


Sangat panjang hari yang dijalani Pamela, “Seperti ini kah aku harus membayar kehidupan mewah dan uang yang banyak?”, lirihnya pedih. Tangannya pun tak kuasa membuka pintu kamar dimana segala barang mewah dan edisi terbatas, serta perhiasan terdapat di dalamnya.

__ADS_1


.


.


Selesai membersihkan diri, Pamela memakai gaun berwarna hitam mewakili hari gelapnya. Menyisir rambut dan memakai parfum yang ia cium sama dengan harum aroma parfum milik kekasih Leon. Langkahnya sangat pelan menuju kamar Leon, selalu melirik pada detik yang bergerak di pergelangan tangannya.


Tepat 30 menit Pamela masuk tanpa mengetuk pintu, dipandangnya tubuh bagian atas Leon yang terbuka dan memegang dua gelas kristal serta minuman beralkohol di atas meja.


“Duduklah”, perintah Leon tanpa menoleh menyambut kedatangan istrinya.


Tidak banyak bicara Leon menunjukan gelas kristal itu tanda jika ia meminta diisi minuman dalam botol yang harganya saja bisa untuk membeli satu unit mobil. Tangan Pamela bergetar, khawatir menjatuhkan botol berwarna gelap ini seperti malam pertama pernikahannya.


Mulai menuangkan cairan dalam botol sesuai perintah Leon. Pamela melihat suaminya meneguk dan menikmati minuman itu. Leon memutar badannya, menatap keindahan dari ujung kepala hingga kaki wanita yang sedang duduk di sofa kecil.


Pamela dan Megan sama-sama memiliki ciri khas kecantikan tersendiri. Menurut Leon wanita penghisap uang seperti Pamela dan Megan adalah iblis terbalut cangkang cantik yang siap menggoda dan menjerat pria sepertinya.


Leon duduk di sofa sisi lain, menarik perlahan tangan Pamela yang dingin bagai air es, “Kenapa?”, tanya Leon, bukan wujud perhatian.


Pamela hanya menggeleng lemah sebagai jawaban, bibir ranumnya enggan menjawab apapun pertanyaan Leon. Percuma mengeluarkan satu atau dua kata akan menjadi racun untuk dirinya sendiri.


Sekali tarik dengan tangan kekarnya, Pamela telah duduk manis di atas pangkuan pria kejam ini, dengan wajah menghadap Leon. Ya, tak bisa dipungkiri Leon selalu tergoda pada mahakarya indah dalam kuasanya ini. “Kau akan selalu menjadi milikku”, bisik Leon pada telinga istrinya, seketika Pamela meremang, tubuhnya mulai mengkhianati dan menyukai sentuhan Leonard.


Tangan kiri Leon mulai menarik perlahan tali yang melilit di belakang punggung mulus Pamela. Membawa wanita ini ke atas ranjang untuk melakukan tugasnya sesuai pada apa perjanjian yang telah disepakati secara lisan dan tulisan.


“Lakukan tugasmu dengan baik, Nyonya Muda Torres”, bisik Leon memberi efek merinding sekujur tubuh Pamela.


“Ya tuan?”, gugup Pamela yang berada di atas suaminya.


“LAKUKAN TUGASMU DENGAN BAIK”, tegas Leon, mata tajamnya semakin dalam menatap Pamela.

__ADS_1


“I-iya Tuan Leon”, Pamela yang gugup dan membencinya mulai melakukan tugas sebagaimana sesuai keinginan Leon.


.


.


Pagi yang dingin untuk seseorang terbangun karena hujan kembali mengguyur Kota Madrid. Pamela membuka pelan matanya, ruangan ini gelap, redup dan pelit akan cahaya. Bola mata Pamela mengelilingi ruangan, yap bukan di kamarnya melainkan ia tidur di kamar Leon. Usai aktifitas malam yang menguras tenaga entah sampai pukul berapa Pamela tak sanggup untuk naik ke lantai 2.


Tubuh Pamela yang baru pulih, kembali merasakan luluh lantak, remuk tulang dan pening pada kepala, ia hanya memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit. Pamela menoleh ke belakang, sisi lain ranjang tapi sayang hanya kosong dan hanya jejak tidur Leon. Jangan harap pelukan hangat dan senyuman manis pagi hari usai penyatuan, semua itu tidak ada dan mungkin tak akan pernah ada.


Pamela beringsut duduk, menarik selimut menutupi tubuh polosnya, bisa ia lihat sekilas betapa banyak jejak yang Leon tinggalkan di tubuhnya. “Murahan, kau memang murahan Pamela”, lirih Pamela menertawakan dirinya sendiri.


Jijik, itulah satu kata yang Pamela sematkan untuk dirinya. Apalagi mengingat bagaimana semalam Leon memerintahkan dirinya bergerak hanya untuk melayani suami kejamnya.


“Kau adalah wanita sampah Pamela”, Pamela menangis memegang erat selimut tebal berwarna abu-abu di tangannya. “Hanya demi uang, ya demi uang rela melakukan semua ini”, tangisnya pilu, menelan saliva saat terdengar pintu terbuka dari luar. Buru-buru Pamela menyusut air mata, ia takut Leon datang dan kembali memaksanya pagi ini.


Ternyata bukan, hanya asisten rumah tangga yang masuk membawa Pamela sarapan. “Nyonya ini sarapannya”.


“Kau tidak perlu repot, aku bisa keluar kamar”, tolak Pamela merasa tidak enak dilayani layaknya nyonya tapi kenyatannya ia hanya budak bagi Aleandro Leonard Torres.


“Ini semua perintah Tuan Muda Leon, tolong dihabiskan sarapannya nyonya, jika tidak tuan akan marah”, asisten rumah itu pun tersenyum kaku saat selimut sedikit merosot menampakan tanda merah dan kebiruan.


“Aku tidak peduli dia marah, terlalu sering dia memarahiku”, senyum kecut Pamela.


“Bukan nyonya, tapi saya yang akan dimarahi tuan bahkan mungkin di pecat. Tolong kasihi anak dan suami saya yang masih sangat membutuhkan uang nyonya”, alasan wanita setengah baya ini memohon pada Pamela.


Oh, ayolah Pamela pun membutuhkan bantuan untuk lepas dari jerat emas seorang Leon.


...Tbc...

__ADS_1


__ADS_2