Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 93 - Pernikahan


__ADS_3

BAB 93


Hari-hari yang di lewati Pamela dan Leon tidak mudah, mereka melewati ujian pada masing-masing, menerima satu sama lain bukanlah hal mudah, apalagi jika dia memiliki masa lalu yang buruk dan terbawa sampai sekarang, perlu kerja keras untuk menyembuhkan lukanya.


Leon memiliki luka masa lalu yang cukup dalam dan hanya Pamela yang bisa menyembuhkan. Sama halnya dengan Pamela yang terluka dan sakit karena Leon, dan pria itulah obat bagi Pamela, kasih sayang yang tulus dan kesungguhan Leon menjadi penawar luka sedikit demi sedikit.


Musim semi ini dua insan yang saling mencintai itu akan menunjukkan pada dunia, dan mereka siap menghadapi rintangan yang mungkin hadir di depan.


Sesuai permintaan kedua keluarga, Leon dan Pamela kembali mengikrarkan cinta mereka. Leon menunggu wanitanya tiba di altar, balutan tuksedo rancangan designer ternama Eropa, membelit pada tubuhnya semakin gagah dan tampan ayah satu anak ini.


Leon tersenyum kala melihat pengantinnya berjalan pelan dengan menggandeng lengan Tuan Besar Torres, gaun pengantin berwarna broken white bertabur berlian menyempurnakan penampilan Pamela, mahkota cantik menghiasi rambut coklat Pamela yang ditata sedemikian rupa, ibu dari Donatello Xavier tersenyum hangat melihat suaminya yang merentangkan tangan di depan, menyambut kedatangannya.


“Istriku”, sapa Leon setengah berbisik


“Suamiku, Leon”, senyum Pamela tipis dan kikuk.


Seorang pastor di depan mereka mulai memberi tanda agar Leon mengucap janjinya sebagai seorang suami.


“I Aleandro Leonard Torres, take you Pamela Gerard to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in helath, to love and to cherish ‘till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness”


Pamela tersenyum mendengar setiap untaian kata yang di ucapkan suaminya, sangat indah dan menyentuh hati.


“I Pamela Gerard, take you Aleandro Leonard Torres to be my wedded husband –“


Suara Pamela bergetar ketika mengucapkan janji pernikahan, ia tidak menyangka pernikahan yang diimpikannya hari ini, detik ini juga terlaksana.


Leon menyematkan cincin pernikahan berlian yang ia pesan khusus dan hanya ada satu di dunia, untuk Pamela seorang, cincin itu tersemat di jari manis istri tercintanya.

__ADS_1


Pamela pun menyematkan cincin pada jari manis Leon.


Keduanya sama-sama tersenyum malu seolah hari ini cinta mereka bersatu. Leon meraih pelan pinggang wanitanya, mendekatkan wajah pada Pamela, napas hangat saling beradu dan satu tangan pria ini merambat naik pada tengkuk istrinya, melabuhkan ciuman kasih sayang di depan keluarga besar Torres lain yang hadir.


Riuh tepuk tangan dan haru menambah kebahagiaan hari ini, Aleandro Leonard Torres yang dikenal sosok pria kejam dalam dunia bisnis takluk pada wanita biasa yang ditemuinya pertama kali dalam hutan.


“Terima kasih Pamela, aku berjanji tidak akan ada lagi air mata dalam pernikahan kita. Te amo”, mengecup bibir Pamela sekali lagi, rasanya Leon tidak ingin melepas istrinya hari ini.


Upacara pernikahan salah satu keinginan keluarga yang kecewa tidak melihat langsung keturunan mereka menikah, karena sebelumnya tanpa ada gaun, tanpa persiapan khusus, tanpa senyum, tanpa cincin pernikahan, Leon membawa Pamela pada badan kependudukan untuk mencatat pernikahan mereka secara hukum.


Kali ini suasana pernikahan begitu kental, dan untuk pertama kalinya Pamela di kenal dunia, selama ini ia tersembunyi dan tidak ada yang tahu statusnya.


“Ah bisakah kita pulang sekarang?”, bisik Leon tepat di telinga istrinya.


“Leon geli. Pulang apanya? Pesta baru dimulai. Bukannya ini rencana kamu, kenapa sekarang malas?”, heran Pamela, pada awalnya Leon begitu menggebu menggelar pernikahan. Tapi setelah mengucap janji, pria itu ingin segera membawa pulang sang istri.


“Oke, baik demi istriku hari ini. Ayo kita sapa para tamu”, senyum Leon lebar, menggandeng erat tangan Pamela.


Kolega bisnis Leon hadir dan memberi selamat, hadiah mewah berjejer rapi tidak terkecuali satu mobil sport yang diberikan Tuan Muda Marquez sebagai salah satu teman dekat Leon.


Para pegawai Torres Inc dan anak perusahaan menghapal wajah Nyonya Muda mereka, karena beberapa kali Pamela datang ke kantor tanpa penyambutan apapun dan diabaikan karena tidak ada yang mengenalnya. Kini semua tahu kenapa Alonso selalu ada di dekat Pamela atau menjemput wanita ini, semua karena Pamela sangat spesial bagi seorang Leon.


Leon tersenyum sinis menatap seseorang yang baru saja tiba dengan satu tongkat penyangga di sisi tubuhnya, Leon juga semakin merapat padu dengan Pamela, mencium pipi wanitanya tanpa malu.


 “Sialan kau Leon”, batin seseorang menangis.


Ya siapa lagi kalau bukan Dylan Manassero, bersama Tuan Besar Manassero dan jajaran petinggi Manassero Corp hadir memenuhi undangan dari Aleandro Leonard.

__ADS_1


Semua memberi ucapan dan harapan tulus pada Leon serta Pamela, berbeda dengan Dylan hanya menatap sendu wajah cantik wanita pujaannya, kedua mata berkaca-kaca, tangannya terkepal kuat.


Tes


“Pamela”, lirih Dylan tidak kuasa menahan lagi tangisnya, “Leon boleh kah sekali?”


“No. Tapi aku memberimu satu kebaikan, kemarilah”, Leon menepuk sisi bahunya dan Dylan langsung menangis tanpa malu bersandar pada rivalnya.


“Huuuu Pamela, huuuuu”, tangis Dylan.


“Ck, pria bodoh. Berapa kali akau katakan, menyerahlah sebelum kau menangis, dan sekarang lihat hasilnya”, cibir Leon.


“Sialan kau, tapi tantangan ku belum berakhir. Kita masih harus panjat tebing, ya meskipun Pamela tidak akan bisa menjadi milikku”, suara parau Dylan.


“Bagus kalau kau tahu diri, sekarang menyingkirlah jauh, jangan ganggu hari istimewaku, di sana banyak makanan dan pergilah sekarang”, usir Leon pada rivalnya ini.


Leon dan Pamela mencari El yang berada dalam gendongan Nyonya Torres, bayi gendut berusia 6 bulan itu menarik perhatian, wajahnya yang sangat mirip bahkan seolah miniatur Leon, tertawa menikmati alunan musik.


“Anak daddy, apa kamu rindu jagoan?”, satu tangan Leon menggendong putranya sedang satu lagi tetap menggandeng erat Pamela, benar-benar keluarga harmonis dan bahagia yang terlihat oleh orang lain.


Dylan masih tetap meneteskan air matanya, pupus sudah harapannya memiliki Pamela. Cintanya baru mekar dipaksa layu dan tercabut sampai akarnya. Ia yang semula yakin dan percaya diri bisa merebut apa yang menjadi milik Leon untuk kedua kali, tapi sekarang berbeda hanya angin dan sakit yang diperolehnya tidak ada cinta Pamela untuk Dylan.


“Semoga kalian bahagia, El maafkan uncle”, tangis Dylan


“Sudahlah, wanita lajang banyak, jika kau mau daddy bisa menarik satu diantara mereka dan kalian langsung menikah detik ini juga”, kesal Tuan Manassero.


“Mana bisa dad, aku punya perasaan dan aku menikah dengan wanita yang ku cintai”, Dylan kembali terisak pilu.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2