Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 48 - Melenyapkan


__ADS_3

BAB 48


Dokter menyerahkan beberapa vitamin dan hasil USG, Dylan menoleh pada Pamela yang duduk diam di sisinya. “Ehem, Pamela siapa ayah dari bayi itu? Apakah Leon? Hubungan apa yang kalian miliki?”,  tanya Dylan memegang kemudi mobil, ia mengantar Pamela pulang.


“Jika dia tidak mau mengakui anaknya, aku yang akan menjadi ayah pengganti untuk bayimu”, ucap Dylan menawarkan diri, tentu saja ia berharap Pamela tersentuh dan memilihnya, karena Dylan sangat terobsesi ingin memiliki apa yang menjadi milik Leon.


“Dylan bisa mengantarku untuk membeli ponsel?”


“Oh tentu, ayo aku antar. Apapun untukmu Pamela”, Dylan melaju cepat menuju lokasi, tanpa banyak tanya kemana ponsel lama Pamela hingga ingin membeli yang baru.


Pamela melangkah pasti dan bergerak cepat memilah benda pipih itu, ia pun membayar dengan uangnya padahal Dylan sangat ingin membayarnya sebagai tanda pertemanan, tapi Pamela tegas menolak.


“Kau berbeda Pamela ini sebabnya aku menginginkanmu, kau harus menjadi milikku tak peduli sekarang kau mengandung benih pria lain”, hati Dylan meneguhkan dirinya.


Dylan segera mengantar Pamela pulang ke apartemen, meski ingin membawa kabur wanita pujaannya tapi ia urungkan karena bukannya mendapat hati Pamela malah Dylan akan dibenci dan ia tak mau hal itu terjadi.


“Pamela, hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu, jangan sungkan”, ucap Dylan sesaat sebelum Pamela turun dari mobil.


“Terima kasih Dylan, kamu selalu menolongku”, senyum Pamela.


.


.


**


Ini adalah hari ke 8 setelah Pamela mengetahui dirinya hamil, semakin bersahabat dengan rasa mual yang menyerang ketika pagi hari. Terkadang sampai membuatnya lemas dan tak berdaya hingga harus istirahat sepanjang hari.


Asisten rumah tangga menyiapkan makanan khusus ibu hamil untuk Pamela, namun urung dimakan, Pamela selalu kesulitan hanya untuk menelan makanan, gejolak dalam perut dan rasa indra pengecap yang tak mendukung dirinya menikmati makanan apapun.

__ADS_1


Bahkan menyentuh air pun dirinya terpaksa, badannya merinding berada di bawah guyuran atau rendaman air sekali pun itu air hangat. Usai mandi Pamela duduk santai di kamar, melihat pemandangan kota adalah kegiatannya belakangan ini. Sampai ia menerima telepon dari rumah sakit yang menyatakan jika neneknya telah pulih semakin baik, alat-alat pun terlepas sempurna, menunggu Pamela datang menjemput.


Pamela sangat senang akhirnya yang ia tunggu datang, perjuangannya menjadi budak seorang pria kejam seperti Leon tidak sia-sia. Rasa senangnya mengalahkan rasa mual yang ada, Pamela tergesa menuruni anak tangga dan betapa terkejutnya ia melihat Leon berdiri menatap tajam padanya.


“Mau kemana?”, tanya Leon datar dan dingin.


“Aku....aku akan ke rumah sakit “, cicit Pamela pelan, ia melihat tubuh Leon semakin maju mendekatinya, membungkuk hendak mengatakan sesuatu.


“Bagus, jangan lewatkan suntikan itu. Aku tidak mau kau hamil, dan jika itu terjadi aku akan melenyapkannya”, bengis Leon mengiris hati Pamela yang mendengar.


Susah payah Pamela menelan saliva, tubuhnya bergetar hebat, memegang erat tali tas, napasnya tak beraturan, kini ia takut dan kesal, bolehkah dirinya memukul pria yang tak memiliki hati ini? . Pamela memegang erat perutnya, sungguh ia tak mau Leon menyakiti janin yang tumbuh di rahimnya.


Meski membenci darah Leon yang mengalir pada janinnya tapi Pamela tetap mencintai calon anaknya, iya Pamela jatuh cinta setelah dokter melakukan USG. Walau syok tapi nalurinya sebagai ibu langsung menyayangi calon anaknya sepenuh hati.


“Aku ingin mandi, cepat layani sekarang juga”, perintah Leon menarik paksa lengan Pamela yang nyaris terjerembab ke lantai.


Pamela menyiapkan air hangat untuk Leon, membuka kancing kemeja Leon satu persatu hingga terlepas sempurna lalu beralih ke celana dan kaus kaki. Di kamar mandi pun Pamela membantu Leon menggunakan sabun, memijat pelan punggung suaminya.


“Iya Leon”


Leon yang merasa kesal, membalik tubuhnya dan menarik Pamela masuk dalam bathtub, hingga air membanjiri lantai.


“Akh”, pekik Pamela yang terkejut, tubuhnya pun basah kuyup.


“Apa karena aku tidak mengirimkan uang lagi kau bermalas-malasan seperti ini Pamela?”, menarik tengkuk dan mencengkram rahang istrinya. ”Lakukan dengan baik Pamela, aku membenci wanita lemah seperti mu”, pungkas Leon.


“Aku juga membencimu Leon, sangat”, batin Pamela. Ia menuruti keinginan suami kejamnya, percuma menolak karena Leon akan menghukumnya lebih dari saat ini.


Pamela yang kelelahan berbaring di kamar, ia pun harus merelakan waktunya untuk menjemput nenek di rumah sakit. Tapi seketika pintu terbuka lebar, menampakkan Leon yang telah segar mengganti pakaian.

__ADS_1


“Kenapa kau berbaring? Bukan kah mau ke rumah sakit? Pergilah, supir sudah menunggumu di bawah, aku tak ingin kau terlambat mendapat obat itu”, dingin Leon lalu kembali turun ke lantai 1.


Tak ingin menghilangkan kesempatan Pamela bergerak cepat dan meminta supir melaju ke rumah sakit. Pamela yang sendirian, segera menemui neneknya yang telah rapi dan keduanya berpelukan, akhirnya setelah perjuangan beberapa bulan, wanita sepuh itu bisa menghirup udara luar.


“Nenek tunggu disini, aku harus menyelesaikan administrasi lebih dulu”


“Iya, jangan lama Pamela”


Pamela tersenyum, ia pun membayar kembali tagihan yang cukup banyak menguras biaya itu. Uangnya semakin berkurang dan Pamela tak peduli toh semua dilakukan demi neneknya, orang yang berjasa dalam hidupnya.


Diam-diam Pamela memesan taksi online untuk membawa neneknya ke rumah lama mereka, ada raut sedih di wajah nenek Pamela karena cucunya tidak bisa pulang dan menemani di rumah. “Maafkan aku nek, tapi aku janji ini tidak akan lama, aku mohon nenek bersabar”, Pamela memeluk erat tubuh yang sangat ia rindukan, “Aku menyayangi nenek”.


.


.


Selesai dengan segala urusan di rumah sakit, Pamela kembali pulang ke penjara emas suaminya. Setidaknya ia merasa lega, tidak khawatir lagi akan kondisi wanita yang telah membesarkannya, tugasnya kini hanya memastikan waktu yang tepat saja, “Sabar Pamela”, gumamnya,


“Sabar?”, suara Leon yang duduk di sofa sembari membaca buku. “Apa maksudmu, hah?”.


“Bu-bukan apa-apa Leon, selamat malam”, Pamela berusaha menyunggingkan senyum dan menapaki tangga, tubuhnya lelah walau hanya keluar sebentar saja.


BRUK


Leon menarik tangan Pamela hingga terjatuh dalam pelukan pria itu, tak ada kata apapun, Leon membawa Pamela memasuki kamarnya. “Leon aku mohon jangan, aku sedang tidak enak badan. Aku mohon, jangan”, mengiba pedih, Pamela yang khawatir pada kandungannya.


Apa Leon mendengarnya? Tentu tidak, pria ini membuka paksa pakaian dan menyentak cukup keras tubuhnya, seperti biasa Pamela hanya memegang erat seprai untuk menghilangkan rasa sakit jiwa dan raga. Napasnya tercekat saat pergerakan Leon semakin cepat, tubuh Pamela berkeringat menahan rasa kram di perut bagian bawah. Sungguh ia takut terjadi sesuatu pada anaknya di dalam sana.


“Leon hentikan aku mohon Leon”, lirih Pamela suaranya sangat pelan tersapu angin.

__ADS_1


...TBC...


 


__ADS_2