
BAB 92
Mansion Torres setiap hari dikunjungi oleh guru privat yang mengajari Pamela, beruntungnya pernah menerima pembelajaran serupa hingga tidak sulit bagi Pamela untuk memperdalam kehidupan yang disiapkan oleh Nyonya Torres untuknya.
“Kehidupan orang kaya memang sulit terlalu banyak aturan”, batin Pamela merasa lelah.
Pagi hingga malam hari harus mencurahkan kasih sayang untuk El, disela-sela kesibukan mengasuh bayinya, Pamela belajar didampingi guru berbeda setiap hari, tidak cukup sampai disini. Ketika Leon pulang, tugasnya bertambah 2x lipat, bayi besarnya itu manja sekali melebihi El tidak jarang memperebutkan Pamela, dan berujung pada El yang menangis lalu terpaksa Leon mengalah pada putranya.
Hal-hal yang biasa Leon lakukan sendiri kini harus diperhatikan Pamela, memasang dasi, jas hingga melepaskannya ketika sore hari. Ayah satu anak itu tidak lagi mengizinkan kepala pelayan masuk ke kamarnya dan membantu, hanya Pamela yang diizinkan.
“Kenapa cemberut?”, tanya Leon menurunkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Pamela.
“Sampai kapan aku belajar Leon? Rasanya melelahkan setiap hari begini, aku kerepotan menyusui El dan belajar”, keluh Pamela yang langsung kehilangan bobot tubuhnya.
Leon tersenyum lalu tertawa, meraih pinggul Pamela dan mengangkat tubuh mungil itu, ya memang sedikit lebih ringan dibandingkan sebelumnya.
“Bertahanlah sampai persiapan pernikahan kita selesai, setelah itu kita bebas memiliki banyak waktu. Mom sengaja melakukan itu, karena saat pesta pernikahan kita digelar itu artinya seluruh dunia akan tahu siapa istriku ini, dan kamu harus siap menjadi Nyonya Muda Torres”
“Hem ya”, jawab Pamela yang mulai berani mengutarakan perasaan dan pikirannya.
“Sekarang bantu aku pasang dasi”
“Selalu begini, bukannya kamu bisa sendiri?”, terpaksa Pamela membantu bayi besarnya ini karena jika menolak, Leon akan mengurung diri seharian dalam kamar menolak pergi ke kantor dan berakhir sore hari berdebat dengan ayahnya.
“Siang ini ada perwakilan wedding organizer yang datang, kamu pilih saja sesuai keinginan, dia biasa mewujudkan semua konsep pernikahan sesuai keinginan wanita menjadi nyata, satu lagi jangan perhitungan. Uangku tidak akan habis hanya untuk itu”, angkuh Leon, tangannya bermain nakal di pinggul Pamela.
“Aw aawww Pamela sakit, kamu mau membunuhku ya? Mulai nakal kamu”
Sengaja Pamela menarik kuat dasi Leon, mencegah pria ini berbuat jauh di pagi hari, jika diteruskan pasti suaminya semakin siang keluar dari mansion terutama kamar.
“Maaf Tuan Muda Leon, aku sengaja”
“Rupanya istriku mulai nakal, kamu ingin dihukum?”
__ADS_1
“Leon, kamu janji tidak ada hukuman apapun”, telak Pamela
Sudah menjadi kebiasaan Pamela mengantar suaminya sampai masuk ke mobil dan melihat kendaraan hitam itu menghilang melewati pagar.
Memiliki keluarga yang harmonis adalah impian setiap pasangan, sama halnya dengan ibu satu anak ini. Mencoba melakukan yang terbaik untuk anak dan suaminya, Pamela juga beruntung karena kedua orangtua Leon menerima apa adanya serta banyak membimbing Pamela, begitupun keluarga besar Torres tidak ada yang bersikap acuh atau mengasingkan Pamela karena latar belakang dirinya.
“Nyonya Pamela, guru anda menunggu di perpustakaan”, ucap seorang pelayan yang membantu Pamela menjaga El.
“Terima kasih”
“Huh, menjadi istri Leon tidak mudah, ya dari awal menikah memang tidak mudah, tapi setidaknya sekarang lebih baik”, batin Pamela.
.
.
Seperti apa kata suaminya seorang perwakilan dari WO ternama di Kota Madrid mengunjungi mansion, Pamela bersama ibu mertua serta neneknya duduk melihat-lihat tema yang ditawarkan, menggulir layar iPad terus menerus, Pamela belum menemukan satupun yang cocok dan sesuai kepribadiannya. Semua terlihat mewah, glamor sama sekali bukan Pamela.
“Apa belum ada yang sesuai selera Nyonya Muda?”, tanya pria gemulai ini, penampilan dari luarnya sangat gagah menggunakan jas tapi sikapnya begitu lembut.
Pamela mengangguk paham, ia mulai menyampaikan apa yang ada dalam kepalanya, dan Nyonya Torres ikut menganggukkan kepala tanda setuju keinginan menantunya ini. Memang berbeda dari yang lain dan cukup unik.
“Mom setuju sayang, itu sangat bagus, tapi sebaiknya tunggu Leon. Suamimu bilang dalam perjalanan pulang”
Mendengar El menangis Pamela sigap berdiri dan menghampiri bayi gembul itu tapi neneknya menahan, biarlah Pamela menyelesaikan segala urusan pesta pernikahannya.
“Serahkan El pada nenek, kamu jangan terganggu”, wanita sepuh berusia lebih dari 80 tahun ini masih lincah bergerak dan tidak kesulitan mengasuh cicitnya.
“Ah iya biar mom temani nenek, kamu disini saja menunggu Leon”, ujar ibu mertua .
Lama Pamela menyampaikan hal apa saja yang ia suka dan tidak untuk pesta pernikahannya hingga Leon masuk ke ruang tamu dan melihat istrinya tersenyum bahkan tertawa bersama pria lain.
Kedua rahang Leon berkedut, kepalanya terangkat, dagu lancipnya bergerak akibat gigi beradu dan mengigit keras di dalam mulutnya. Kedua tinju Leon pun siap menyergap lawan dan meruntuhkan dalam sekejap.
__ADS_1
Alonso yang baru saja datang menyusul masuk mansion, dikejutkan dengan api cemburu di sekitar Leon, sungguh lucu sekaligus menyeramkan pemandangan langka ini.
Sengaja Alonso memanggil keras nama tuannya, tujuannya agar Pamela menyadari kehadiran Leon.
“Tuan ini laporannya”, teriak Alonso yang suaranya mengganggu pendengaran.
“Pamela, bangun, berdiri, siapa pria itu?”, tegas Leon, bisa-bisanya ada pria lain yang masuk ke istananya, tidak tahu kah dia sekali mencari masalah dengannya tidak akan Leon biarkan lepas sampai kapanpun.
“Dia asisten direktur yang diutus kesini untuk persiapan acara pernikahan kita”, jelas Pamela yang langsung menyadari perubahan suasana hati suaminya, memeluk erat lengan Leon dan memberi sentuhan lembut.
Kendati masih berapi-api Leon menahan keinginan untuk meninju wajah pria di depannya, rayuan Pamela mampu meredam itu semua, Leon duduk tenang mendengarkan keinginan sang istri.
“Bagus, apapun keinginanmu aku setuju”
“Dan masih ada yang disampaikan? Jika tidak silahkan keluar, lakukan tugas anda dengan baik”, usir Leon masih cemburu.
Nyonya Torres, Nenek Pamela dan Alonso tertawa di sudut lain, baru kali ini melihat Leon yang terbakar amarah tapi tidak bisa berbuat apapun hanya diam saja di samping sang istri, lebih tepat pawangnya.
“Akh Leon, kamu mau apa?”, Pamela terpekik karena Leon langsung mendorong lembut hingga berbaring di sofa. Membuka kancing kemejanya dan melemparnya sembarang .
Nyonya Torres dan Nenek Pamela mengusir Alonso karena tidak pantas bagi pria lajang terlalu lama berada di area ini. “Sebaiknya kamu pergi Alonso”. Sementara kedua wanita berbeda usia ini memilih ke taman untuk menikmati cemilan siang hari.
“Leon kamu jangan gila, ini bukan di kamar”, panik Pamela khawatir siapapun akan melihat apalagi mansion ini banyak sekali maid yang berlalu lalang.
“Jangan sekalipun tersenyum pada pria lain, semua yang ada pada dirimu adalah milikku dan hanya untukku”, mengungkung Pamela yang masih terkejut dan tidak siap, perlahan keduanya tidak berjarak. Leon menyentuh daun telinga istrinya dengan bibir, mulai turun ke leher, memberi sensasi geli dan ugh.....sesuatu yang membuat melayang.
“Leon aku malu”
“Jangan berisik”, bisik Leon.
Matanya tertuju pada sensor, lalu dengan mudah pintu ruangan ini tertutup rapat.
...TBC...
__ADS_1