Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 75 - Bendera Perang


__ADS_3

BAB 75


“PAMELA?”, panggil Dylan sebelum dirinya di lempar dari dalam ruangan oleh Leonard.


Pamela yang tengah berusaha meredakan tangis El seketika menoleh pada Dylan dan tersenyum manis, tahu apa yang terjadi selanjutnya?.


Dylan membalas senyum manis wanita pujaannya dan menghentak tangan para pengawal yang memegangi tubuhnya. Sudut bibirnya melengkung senang, dan melirik tajam pada rivalnya yang duduk di tepi ranjang.


“Dylan, kamu datang?”, suara lembut Pamela mengalun indah di telinga Leon dan Dylan. Ya hanya di telinga kedua pria itu saja, sementara orang lain yang mendengar intonasinya sama saja datar tidak ada unsur lembut sama sekali.


Sontak Leon, melebarkan mata menatap istrinya tersenyum manis pada pria lain, mengepalkan kedua tangan, kedua rahangnya berkedut, deretan gigi putih Leon mengatup rapat menahan sesuatu. Andai saja di ruangan ini tidak ada Pamela, pasti pria bertitle kejam ini akan membuat Dylan babak belur.


Tapi Leon bisa apa sekarang? Ia harus mati-matian menjaga emosi, walau dirinya terbakar, dari ujung kepala hingga ujung kuku kaki. Jika Leon memukul Dylan di depan istrinya, itu sama saja mengulang kejadian masa lalu dan Pamela akan ketakutan, tentu Leonard tidak ingi hal yang sama terjadi.


“Iya Pamela, maafkan aku. Seharusnya beberapa minggu lalu aku mengunjungimu dan menemani mu tapi karena seseorang rencanaku batal”, sudut mata Dylan kembali melirik Leon yang nampak sebal di sana.


“Pamela bisa kau perintahkan mereka tidak menjagaku seperti ini?”


“Oh tentu, Dylan”, Pamela mengangguk paham dan meminta Alonso melepaskan Dylan, “Alonso biarkan Dylan menjenguk, terima kasih atas perhatianmu”, perintah Pamela.


“B-baik Nyonya Muda”, jawab Alonso sangat takut dan menelan saliva yang begitu kelat hingga ia beserta pengawal keluar ruangan.


Dylan melangkah maju mendekati istri orang yang sangat ia dambakan menjadi miliknya. Pamela mengalihkan perhatian pada El yang kembali diam tidak menangis lagi, “Anak pintar”, suara lembut Pamela, disertai anak rambut yang jatuh tepat disisi pipinya.


Netra Leon dan Dylan menangkap kejadian ini sebagai gerakan lambat, ah sungguh menggoda penampilan dari ibu yang baru saja melahirkan. Tapi Nenek Pamela, Nyonya dan Tuan Besar Torres menangkap hal itu biasa saja tidak ada yang berbeda. Memang cinta itu aneh mampu membuat yang biasa menjadi luar biasa.


“Sialan Dylan, lancang sekali mendekati istri dan anakku”, batin Leon mengeram kesal.

__ADS_1


“Sialan Leon, bisa-bisanya dia sampai lebih dulu, harusnya aku yang mendampingi Pamela”, batin Dylan mengibarkan bendera perang.


Dylan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sesuatu yang imut berwarna warni dan bentuknya tidak terllau besar juga todak terllau kecil sangat pas dalam genggaman bayi.


Mengulurkannya pada Pamela, dan tepat di depan tubuh El. “Lihatlah boy, apa yang uncle bawa?”, menggerakkan benda tersebut, sontak El menangis keras , tidurnya kembali terusik oleh Dylan.


“KURANG AJAR DYLAN, MENGGANGGU PUTRAKU”, kepalan tangan Leon telah siap melayangkan bogem sekeras-kerasnya pada Dylan.


“Pamela, mungkin El haus coba kamu berikan susu”, tutur Nenek Pamela yang langsung berdiri dari duduknya, diikuti Nyonya Torres.


Kedua wanita berbeda usia itu membuat Dylan bergeser menjauhi Pamela dan jarak pandangnya terhalang oleh tubuh Nenek Pamela.


“Hei, kau Tuan Muda Pembohong”, mengibaskan satu tangan mengusir Dylan karena cucunya akan menyusui cicit yang baru saja lahir.


“APA? AKU? Kenapa nenek mengusirku? Aku bawakan susu yang banyak agar tulang nenek sehat”, sogok Dylan pada Nenek Pamela, bagaimana pun ia lebih akrab dengan wanita sepuh itu dibanding Leonard.


“Kau lihat besi ini, kalau tidak menurut aku pastika kepala mu benjol terkena ini”, tunjuk Nenek pada penyangga infus. Seketika Dylan mundur perlahan, ia takut kepalanya benar-benar kena pukul benda itu.


Sementara tirai penghalang telah tertutup sempurna menutupi jarak pandang siapapun yang tidak berhak, Nyonya Torres menggendong El sedangkan Nenek membantu membuka kancing piyama rumah sakit yang melekat di tubuh ibu muda itu.


“Bagaimana caranya nek?”, tanya Pamela yang diam saja menurut pada neneknya.


Nenek menjelaskan pada cucunya, posisi menyusui yang nyaman dan harus dilakukan secara bergantian kanan lalu kiri. Kemudian El yang masih menangis diserahkan kembali ke dalam pelukan Pamela.


Sontak Leon meneguk saliva, pemandangan di depannya benar-benar menggoda. Selama 9 bulan lebih ia tidak melihat dan merasakan sesuatu yang menggoda di depan matanya.


“Tapi nek.....?”, kaku Pamela.

__ADS_1


“Apa lagi? Kamu tidak bisa mengeluarkannya?”


“Bukan..... itu....”, manik coklat Pamela mengarah pada Leon, sudah pasti Pamela merasa risih suami kejamnya masih duduk masih di tepi ranjang.


“Ah baiklah. KAU KELUAR SEKARANG JUGA”, perintah nenek sangat tegas, entah kenapa Leon merasa wanita tua di depannya sangat menyeramkan. “Tunggu apalagi? Lihat cicitku menangis”, telak Nenek Pamela.


“Tapi aku suaminya”, tolak Leon.


“Leon, menurutlah, ini juga demi kebaikan El”, pungkas Nyonya Torres.


Akhirnya kedua pria berwajah tampan di atas rata-rata itu harus rela berbagi alas duduk, sama-sama besidekap dada, mengeluarkan aura kebencian dan persaingan satu sama lain.


Tuan Besar Torres menggelengkan kepala pada anak muda di depannya, sama sepertinya waktu muda dimana menjaga Nyonya Torres dari gangguan para pesaing.


“Kenapa kau kesini?”, desis Leon.


“Apa hakmu bertanya, hah?”, sengit Dylan.


“BR3N9S3K, kau tidak akan bisa merebut mereka dariku, pahami itu Dylan Manassero”, balas Leon.


“Sayangnya aku tidak peduli, asal kau tahu Aleandro Leonard.....Torres”, tajam Dylan tapi ia menyebut nama keluarga Leon dalam hati karena Tuan Torres memperhatikan keduanya. “Aku yang selalu ada dimas kehamilan Pamela, dan suaraku yang lebih dulu di dengar oleh bayi Pamela, gerakan pertamanya pun aku ingat”, Dylan semakin memercikkan bara api pada Leon.


Leon terpukul mendengar kalimat yang keluar dari bibir berbisa rivalnya, ia akui semua yang dikatakan Dylan benar adanya. Selama Pamela hamil tidak sekali pun ia kunjungi, bahkan Leon tidak tahu rasanya menyentuh perut bunci yang bergerak untuk pertama kali.


Namun ia memiliki keyakinan bahwa istrinya itu tidak akan mungkin menerima Dylan sebagai pengganti dirinya, pria itu sangat lemah untuk menjaga Pamela dan putranya. Tidak akan Leon biarkan miliknya diambil paksa oleh Dylan untuk kedua kalinya.


“Apa yang kau pikirkan Tuan Leon?”, sinis Dylan.

__ADS_1


“Kau harus ingat, darah ku mengalir dalam putraku. Dia tidak akan sudi menerima mu, ah ya dan ku pastikan kau akan menangis karena kekalahan”, pungkas Leon, demi apapun dirinya akan berusaha meluluhkan hati sang istri dan memperoleh maaf dari Pamela.


...TBC...


__ADS_2